33 C
Semarang
Rabu, 3 Juni 2020

4 Tahun Tak Terima Ganti Rugi, Wadul Peradi

Another

Di Suriname, Presiden pun Ikut Jemput Didi Kempot (10)

Didi Kempot adalah tombo kangen warga Suriname terhadap tanah leluhur. Untuk mengenang dan menghormati sang maestro, puluhan artis di...

Dari ”Terminal Tirtonadi” ke ”Pantai Klayar” lewat ”Dalan Anyar” (9)

Pola yang dipakai Didi Kempot dalam ”Stasiun Balapan” diterapkan pula pada lagu-lagunya yang mengambil nama tempat: memadukannya dengan kisah...

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma...

SEMARANG-Empat tahun lebih PT Kereta Api Indonesia (KAI) tak kunjung memberi keadilan dan ganti rugi ataupun ganti untung terhadap 52 warga Bulu Lor, Semarang Utara, Kota Semarang, atas dibangunnya rel ganda perlintasan Kereta Api di wilayah tersebut. Akhirnya warga mengadukan masalahnya ke kantor DPC Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Semarang.

Koordinator 52 warga Bulu Lor, Tri Haryono mengaku, sebenarnya warga juga memiliki keabsahan berupa sertifikat yang dimiliki 51 Kepala Keluarga (KK), namun dari jumlah itu tinggal 22 warga yang belum mendapatkan ganti rugi. Bahkan hingga saat ini, diakui Tri sejumlah rumah yang tersisa sudah rentak-retak akibat adanya pembangunan rel tersebut.

“Kami menuntut hak kami, harapan kami mohon sertifikat 22 warga diberikan, kami juga minta ganti rugi ataupun ganti untung. Bagaimanapun banyak kerusakan rumah dampak dari perbaikan rel ganda,” kata Tri, yang juga Bendahara RT 01 RW 02, Jalan Noroyono, Bulu Lor ini, saat ditinjau tim Peradi Semarang, Minggu (18/6).

Pembongkaran tersebut, diakui Tri tanpa rasa kemanusiaan yang sudah dilakukan pada 1 November 2013 lalu. Untuk putusan Mahkamah Agung (MA) baru diterima pihaknya 18 Mei 2017. Atas putusan itu, diakuinya gugatan warga ditolak, namun demikian eksepsi dari KAI juga ditolak. Dia juga mengatakan, atas masalah itu dari 52 KK sebagian sudah dijual, namun demikian dari 52 KK tersebut sama sekali belum mendapat ganti rugi. “Kalau ganti paku ada sebagian sebagai bentuk uang kerohiman, tapi yang dapat uang cuma 47 KK. Kami mencari keadilan, kami juga sudah kasasi ke MA namun ditolak,” tandasnya.

Ketua Peradi Semarang, Theodorus Yosep Parera yang saat itu meninjau lokasi mengatakan, dalam putusan kasasi MA memang mengalahkan putusan warga terkait pergantian atas tanah yang dipakai KAI yakni, paling besar ukuran 11×10 meter dan yang kecil 3×7 meter.

Akan tetapi dari data di lapangan, lanjut Yosep, ternyata warga sudah menempati tanah tersebut sejak 1980 lalu. Sehingga pihaknya akan mencocokkan bukti. Menurutnya, berdasarkan keterangan warga dan survei lokasi, dikatakannya sekalipun tanah itu milik KAI, memang warga harus melepaskan haknya. Akan tetapi negara seharusnya juga wajib memberikan ganti kerugian untuk warga.

“Kita akan mempelajari berkas kasasi secara teliti. Awal Juli kita lakukan edukasi dan penyampaian langkah hukum kepada warga, yang jelas kita akan sampaikan surat ke Presiden, dan dimungkinkan akan kami ajukan PK atau gugatan baru yang tidak ne bis in idem,” kata Yosep didampingi timnya. (jks/zal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Di Suriname, Presiden pun Ikut Jemput Didi Kempot (10)

Didi Kempot adalah tombo kangen warga Suriname terhadap tanah leluhur. Untuk mengenang dan menghormati sang maestro, puluhan artis di...

Dari ”Terminal Tirtonadi” ke ”Pantai Klayar” lewat ”Dalan Anyar” (9)

Pola yang dipakai Didi Kempot dalam ”Stasiun Balapan” diterapkan pula pada lagu-lagunya yang mengambil nama tempat: memadukannya dengan kisah kasih. Lirik-liriknya memicu penasaran orang...

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma diproduksi 100 biji kaset itu,...

Didi Kempot Tak Suka Merayu meski Jago Bikin Lagu Romantis (7)

Salah satu kesedihan terbesar dalam hidup Didi Kempot adalah tak bisa menunggui kelahiran anak pertama karena tak punya ongkos pulang. Sempat membuatkan lagu khusus...

Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma. LATIFUL HABIBI, Ngawi, Jawa Pos — KATA sang kakak, ”Pas kecil...

More Articles Like This

Must Read

Perdagangan Berjangka Sangat Prospektif

PROSPEK perdagangan berjangka ke depan, masih sangat besar dan luar biasa. Pasalnya, dari 250 juta penduduk Indonesia, jumlah nasabah di saham hanya 1,2 juta...

Lebih Dekat dengan Komunitas Sepeda Biscuit Semarang

Komunitas Sepeda Biscuit Kota Semarang tidak hanya wadah bagi pecinta sepeda. Tetapi memadukan antara hobi bersepeda, jalan-jalan dan juga wisata kuliner. MIFTAHUL A’LA BERSEPEDA saat ini...

Sekolahku, Rumah Keduaku

RADARSEMARANG.COM - MENGAPA sekolah bisa menjadi rumah kedua setelah rumah dalam arti yang sebenarnya? Tentu saja, karena waktu yang dihabiskan di sekolah sangatlah panjang....

Puasa dan Sikap Toleran

BAGI saya pribadi, Puasa tahun ini bermakna sangat penting dalam merekatkan kembali bingkai persaudaraan sebangsa yang sempat retak. Saya, dan mungkin banyak orang yang...

Jadi MC karena Passion

NEELA Wijaya sudah 5 tahun menekuni profesi sebagai master of ceremony atau MC. Sebelumnya, ia pernah bekerja di sejumlah tempat. Namun karena passion, ia...

Juarai Roket Air se Jawa-Madura

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Tim Roket Air SMP Islam Terpadu PAPB berhasil memboyong juara I, II dan III pada Festival Islam dan Sains se Jawa-Madura di Pondok...