Punya 400 Nasabah, Sebulan Kumpulkan 100 Kg Sampah

Melongok Bank Sampah Resik Becik Krobokan, Semarang

1157
BERTEMAN DENGAN SAMPAH: Aktivitas Bank Sampah Resik Becik di Jalan Cokrokembang, Krobokan, Semarang Barat. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERTEMAN DENGAN SAMPAH: Aktivitas Bank Sampah Resik Becik di Jalan Cokrokembang, Krobokan, Semarang Barat. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Sampah kemasan minuman kerap dibuang begitu saja. Namun di tangan para pengelola Bank Sampah Resik Becik, bisa disulap menjadi aneka produk yang bernilai ekonomis tinggi. Seperti apa?

DIAZ AZMINATUL ABIDIN

JARI-jari tangan Naryati, 50, terampil menganyam sampah plastik minuman kemasan yang sudah dibersihkan. Ia menyelesaikan anyaman sampah itu menjadi wadah botol minuman dalam waktu kurang dari 2 jam.

Di teras rumah yang penuh tumpukan kardus berisi sampah itu masih tersisa tempat seukuran jalan setapak. Tempat ini digunakannya untuk menganyam sampah plastik bungkus kemasan minuman seperti Marimas dan lain-lain.

”Kalau ini tidak lama buatnya paling 2 jam kalau tidak disambi dengan yang lain. Kalau buat yang kecil-kecil seperti ini relatif mudah dan cepat, tapi kalau yang besar agak lama,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Rumah  di Jalan Cokrokembang No 11, Krobokan, Semarang Barat itu dijadikan lokasi Bank Sampah ”Resik Becik” sekaligus show room untuk memamerkan hasil kreasi dari sampah. Seperti tas, dompet, vas, atau tikar berbahan plastik sampah kemasan minuman.

Teras rumah dibagi dua bagian. Di sebelah kiri menjadi show room dan sebelah kanan tempat menumpuk kardus berisi sampah sekaligus menjadi pintu masuk ke dalam rumah dan aktivitas menimbang dan menjemur sampah yang didapatkan dari warga.

Saking banyaknya tumpukan kardus berisi sampah, mulai dari plastik dan botol, akhirnya bagian dalam rumah dan lorong samping rumah tak luput dari penyimpanan. Rumah itu pun nampak layaknya gudang dengan kardus-kardus berwarna cokelat.

Siang itu,  Sri Hartati, 48, dan Martini, 36, juga sibuk. Mereka menimbang dan mencatat sampah-sampah plastik yang disetor warga ke Bank Sampah. Mereka merupakan sosok yang aktif menjalankan bank sampah.

Rumah itu adalah milik Ika Yudha Kurniasari, 44. Ia merupakan sosok di balik berdirinya Bank Sampah Resik Becik itu. Kini ia bersama 3 ibu lainnya masih terus menjalankan bank sampah. Sejak berdiri 15 Januari 2012 yang dibantu oleh Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shodaqoh (Lazis) Jateng, sekarang nasabah dari bank sampah mencapai 400 orang.

”Sistemnya, secara umum bank sampah ini warga setor sampah ke sini. Karena kami belum bisa menjemput. Sampah yang kami terima hanya anorganik saja, karena masih terbatas dan kami belum mengelola sampah organik,” kata mantan dosen jurusan Kesehatan Masyarakat Undip Semarang ini.

Setelah setor, kata dia, sampah lalu ditimbang, dicatat dan dibukukan. Nasabah juga istilahnya mendapatkan sebuah rekening. Di situ tercatat nominal berapa masyarakat setor, dan berapa perolehannya nilai tukar untuk rupiahnya.

Kebanyakan masyarakat yang menjadi nasabah adalah warga sekitar. Agar meningkatkan keinginan warga untuk mengumpulkan sampah, ia membuat program di mana nilai dari penukaran sampah dapat diambil dengan bentuk sembako.

”Sampah dalam jumlah kecil kami terima tinggal konversi aja. Mereka suka karena berapapun mereka setor tetap diterima karena tidak mungkin harus mengumpulkan sekilo sampah dulu baru dibawa ke bank sampah. Terus warga bisa mencairkan uang atau memilih sembako, ya monggo bebas. Tapi, untuk sembako kami baru menyediakan minyak, dan gula,” katanya.

Dalam sebulan sampah yang dikumpulkan bisa mencapai 100 kg. Namun memang tidak bisa diukur rata-rata per bulan. Karena yang terkumpul berbeda jauh setiap bulannya.

Sejauh ini, Ika mengaku hanya kesulitan dalam pemasaran. Karena awal menjalankan bank sampah bukan berawal dari teori bisnis yang memiliki pasar. Tapi ia harus membuat produk lalu mencari pasar di mana seseorang harus membutuhkan kreasi sampah tersebut.

”Pengalaman selama ini sejak 5 tahun lalu, memang masyarakat menilai kreasi sampah belum terlalu bagus, dan permintaan belum tinggi,” akunya.

Namun dalam beberapa hal, bank sampah diuntungkan setiap ada momen yang berkaitan dengan lingkungan. Misalnya, baru-baru ini ada kampanye kantong plastik berbayar yang diterapkan pemerintah. Dari situ, bank sampah mendapat pesanan membuat tas dari sampah untuk dibagikan kepada masyarakat.

Bank sampah yang dikelola ibu lima anak ini memang semakin dikenal, karena dinas terkait di Kota Semarang kerap menggandeng untuk pameran. Selain itu, juga digandeng dalam penyuluhan isu-isu lingkungan dengan mengkreasikan sampah menjadi produk yang berguna.

Saat ini, Bank Sampah Resik Becik memiliki 4 pengurus dan tambahan perajin yang sifatnya tenaga bantu bila banyak pekerjaan. Sementara produk unggulan yang biasanya sering dibeli adalah dompet, tempat handphone, dan tempat tisu. Harganya murah meriah mulai Rp 15 ribu. (*/aro/ce1)