33 C
Semarang
Senin, 25 Mei 2020

Pedagang Dilarang Mremo

Must Read

Memungut Keteladanan sang Kakak untuk Kejar Impian Kesuksesan (4)

Mamiek Prakoso yang pintar ngomong jadi motivator bagi sang adik yang pendiam, Didi Kempot. Hubungan keduanya dekat, meski Didi...

Di Bus Kota Nyanyi Lagu Indonesia, di Bus AKAP Lagu Jawa (3)

Bahkan saat mulai awal mengamen di Solo pun, Didi Kempot sudah membawakan lagu ciptaan sendiri, Cidro salah satunya. Suaranya...

Mengenang Didi Kempot: Balik Solo, Jual Sepeda, Beli Gitar (2)

Selain supaya bisa bersekolah lagi, Didi Kempot dititipkan ke sang pakde yang personel militer agar tidak mbeling. Di Samarinda bakat...

SALATIGA – Ratusan pedagang kaki lima mendatangi kantor DPRD Kota Salatiga, Jumat (16/6). Mereka mengadukan nasib karena tahun ini dilarang mremo (berjualan) di depan Pasaraya II Salatiga.

“Kami mendapatkan surat dari Dinas Perdagangan yang menyatakan tidak ada pedagang mremo di Lebaran tahun ini. Padahal kami butuh untuk menambah penghasilan keluarga dan sudah tiap tahun berlangsung,” keluh Suwandi, 50, tokoh PKL saat mengadu pada Ketua DPRD Salatiga Teddy Sulistyo dan Komisi B yang membidangi masalah perekonomian. Lebih jauh ia mempertanyakan dasar larangan dari pemkot ini, pasalnya sudah puluhan tahun tradisi mremo selalu berlangsung, bahkan menjadi salah satu khas tersendiri.

Koordinator Aksi, Sugito, 55, mengaku, PKL sangat kaget dengan turunnya surat larangan itu. Pasalnya, setiap tahun dilakukan kegiatan mremo dan berlangsung tertib. Para pedagang juga merasa tidak mengganggu jalan raya Jenderal Sudirman yang memang sudah selalu padat kendaraan. “Pedagang setiap tahun mremo dan selalu tertib. Mengapa sekarang dilarang dan disebutkan jika dasarnya adalah rapat Forkompinda,” urai Sugito mewakili keluhan para pedagang.

Jika berkait dengan kemacetan, para pedagang menampik. Pasalnya, dari tahun ke tahun, arus lalu lintas yang melalui kota Salatiga menyusut. Terlebih kini ada pembukaan jalan Tol Bawen Salatiga yang memungkinkan pemudik tidak melintas dalam kota.

Menanggapi hal tersebut, Teddy menilai, larangan itu sebagai bentuk arogansi pemerintah. “Itu arogan. Bagaimana bisa rapat Forkompinda dijadikan dasar untuk membuat sebuah kebijakan? Dan saya selaku anggota Forkompinda juga tidak merasa dimintai pendapat berkait larangan mremo ini,” tandas Teddy.

Menurutnya, mremo itu tradisi turun menurun dan justru bisa menjadi khas Salatiga. Ia meminta kepada komisi B untuk memanggil Kepala Dinas Perdagangan Muthoin dan Kepala Satpol PP Kusumo Adji untuk dikonfirmasi. “Rakyat kecil mau mremo kok dilarang. Ini setahun sekali, jangan membuat kebijakan semaunya sendiri,” tandas politisi PDIP itu.

Sementara kepala Dinas Perdagangan Muthoin belum berhasil dikonfirmasi. Kepala Bagian Humas Setda Salatiga Sri Satuti menyatakan, pihaknya belum bisa mendapatkan konfirmasi mengenai dasar pemikiran larangan mremo tersebut. (sas/ton)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Memungut Keteladanan sang Kakak untuk Kejar Impian Kesuksesan (4)

Mamiek Prakoso yang pintar ngomong jadi motivator bagi sang adik yang pendiam, Didi Kempot. Hubungan keduanya dekat, meski Didi...

Di Bus Kota Nyanyi Lagu Indonesia, di Bus AKAP Lagu Jawa (3)

Bahkan saat mulai awal mengamen di Solo pun, Didi Kempot sudah membawakan lagu ciptaan sendiri, Cidro salah satunya. Suaranya yang merdu dan karakternya yang...

Mengenang Didi Kempot: Balik Solo, Jual Sepeda, Beli Gitar (2)

Selain supaya bisa bersekolah lagi, Didi Kempot dititipkan ke sang pakde yang personel militer agar tidak mbeling. Di Samarinda bakat musiknya mulai terasah, juga kegemarannya...

Dari Cidro sampai Ojo Mudik: Mengenang Hidup dan Karir Didi Kempot (1)

Dengan segala popularitasnya, Didi Kempot tak pernah repot dengan riders tiap kali manggung. Meninggalkan satu lagu lagi bertema virus korona. ANTONIUS CHRISTIAN, Solo-DUWI SUSILO, Ngawi, Jawa...

Utang Besar

Kalau diterjemahkan, nama perusahaan ini berarti 'sejahtera'. Di Singapura ia didaftarkan dengan nama Hin Leong Trading Ltd --bahasa daerah Hokkian, tempat lahir pendiri perusahaan...

More Articles Like This