Assalamu’alaikum Dr. KH. Ahmad Izzuddin, M.Ag yang saya hormati, Sebagai seorang muslim, saya diminta untuk mendonorkan darah, karena dibutuhkan dan itu pada bulan Puasa. Karena itu say membatalkan puasa saya, apakah saya harus mengulang puasa saya atau membayar fidyah? Apakah saya termasuk berdosa membatalkan ibadah saya itu ? Mohon penjelasannya. Terimakasih.

Husnul Hidayah di Mranggen 08915672XX

Waalaikumussalam Warahmatulullah Ibu Husnul Hidayah yang saya hormati dan dimuliakan Allah. Donor darah belum dikenal pada masa Rasul dan sahabat-sahabat Beliau, namun demikian para ulama membolehkannya. Memang ada bahsan mengenai darah, baik dari menjualbelikannya maupun mendonorkannya.

Ulama-ulama bermadzhab Syafi’i menegaskan bolehnya mendonorkan darah, lebih-lebih kalau itu mengandung kesembuhan orang lain atau mempercepat kesembuhannya, bahkan dalam dalam Madzhab Abu Hanifah, boleh meminum darah atau kencing kalau memang dokter yang terpercaya bmenyatakan bahwa kesembuhan hanya dapat diperoleh dengan jalan tersebut.

Selanjutnya kalau menganalogikan pengambilan darah dari tubuh  dalam rangka mendonorkan itu dengan membekam, maka di sini terdapat perbedaan ulama menyangkut batal tidaknya puasa. Imam Abu Hanifah menilainya membatalkan puasa, sedang mayoritas ulama yamng lain gtidak demikian, paling Cuma memakruhkannya.

Terlepas dari semua itu, yang jelas dari pertanyaan di atas bahwa pendonor telah membatalkan puasanya. Pembatalan puasa Ramadhan menharuskannya mengganti puasa yang dibatalkan itu dengan puasa pada hari yang lain, tanpa harus membayar fidyah. Mendonorkan darah jelas  merupakan amal terpuji dan diharapkan memperoleh ganjaran Ilahi. Apa yang ibu lakukan itu semoga tidak mengakibatkan dosa, karena niat ibu membantu. Demikian jawaban dari saya, Allahu A’lam, semoga ada manfaatnya dan barokah. Amiin