KHUSYUK: Jamaah Musala Al Fadhillah Pandean Lamper, Gayamsari saat salat Hajat berjamaah. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KHUSYUK: Jamaah Musala Al Fadhillah Pandean Lamper, Gayamsari saat salat Hajat berjamaah. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Ramadan adalah bulan istimewa bagi umat Islam. Tradisi keagamaan digelar secara khusyuk tak memandang waktu. Salah satunya tradisi menyambut malam Lailatul Qadar di Musala Al Fadhillah, Pandean Lamper, Gayamsari. Seperti apa?

ABDUL MUGHIS 

RAMADAN sudah memasuki 10 hari terakhir. Saat itulah malam Lailatul Qadar diyakini datang, terutama di malam-malam ganjil. Biasanya, umat Islam akan semakin meningkatkan ibadah di malam hari. Seperti halnya yang dilakukan jamaah Musala Al Fadhillah Jalan Bintoro III, Pandean Lamper, Gayamsari, Semarang.

Hingga menjelang tengah malam, sejumlah warga tampak berkumpul di musala setempat. Terdengar lantunan ayat suci Alquran di speaker musala. Gemericik air wudu tak henti-hentinya mengalir. Orang bergantian untuk bersuci. Mereka menjaga tradisi menyambut datangnya malam Lailatur Qadar.

Para jamaah merapatkan barisan untuk melaksanakan salat Hajat berjamaah dan dilanjutkan dengan mujahadah Nihadul Mustaghfirin hingga dini hari. Tradisi tersebut telah menjadi aktivitas rutin sejak musala berdiri pada 1966.

”Kami mengajak agar senantiasa selalu tholabul ilmi (menuntut ilmu) dengan menghadiri berbagai majelis. Terlebih, pada bulan Ramadan,” kata pemimpin mujahadah, Zaenal Ulum Al Hafidz kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ia mengajak kepada jamaah untuk melanggengkan amalan kebaikan setiap hari semampunya. Apalagi iklim politik yang terjadi di negeri ini kerap memanas, sehingga membuat masyarakat awam dengan mudah terjerumus ke dalam hal-hal yang kurang bermanfaat. Maka di bulan berkah seperti ini, diharapkan bisa menahan hawa nafsu dan berlatih sikap tawaduk.

”Pesan yang selalu saya ingat dari guru kami KH Achmad Muhammad atau Gus Muh dan KH Abdurahman Chudlori adalah mengutamakan sikap tawaduk,” kata santri Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang ini.

Dijelaskannya, tradisi menyambut malam Lailatur Qadar di kampung tersebut selalu dijaga, terutama memasuki malam 21 Ramadan. ”Tradisi itu diisi dengan salat malam, yakni salat Hajat dan mujahadah,” ujarnya.

Salah satu warga, Giono, mengatakan, malam 21 Ramadan juga dimanfaatkan untuk khataman Quran bersama. Tradisi yang sudah melekat di masyarakat setempat selalu diikuti oleh puluhan warga. Tentu saja, aktivitas relegius warga kampung yang terletak di tengah Kota Semarang ini cukup menarik.

”Tidak hanya di bulan Ramadan, warga cukup antusias mengikuti kegiatan-kegiatan keagaman. Pada malam 27 Ramadan, kegiatan serupa digelar di Masjid Miftakhul Jannah (tak jauh dari musala tersebut),” katanya.

Dia mengaku bersyukur hidup di tengah-tengah masyarakat yang multikultur dan berbeda keyakinan. Tetapi, mampu hidup rukun, damai dan kondusif.

”Saat malam Jumat juga adanya tradisi Yasin dan Tahlil. Begitu juga pada Senin malam, warga tak lupa menggelar tradisi pembacaan maulid, lengkap dengan tabuhan rebana,” ujarnya. (*/aro/ce1)