Pancasila Jangan Diperlakukan seperti Jimat

379
SOSIALISASIKAN PANCASILA: Anggota DPD RI asal Jateng, Bambang Sadono memberikan paparan saat Sosialisasi 4 Pilar MPR RI di kantor DPD I Partai Golkar Jateng, kemarin. (Istimewa)
SOSIALISASIKAN PANCASILA: Anggota DPD RI asal Jateng, Bambang Sadono memberikan paparan saat Sosialisasi 4 Pilar MPR RI di kantor DPD I Partai Golkar Jateng, kemarin. (Istimewa)

SEMARANG – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Jateng Bambang Sadono mendukung pembentukan Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP PIP). Pembentukan organisasi ini menurutnya telah sesuai dengan rekomendasi dari Badan Pengkajian MPR RI yang dipimpinnya.

Menurutnya UKP PIP ini mirip dengan Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP7) pada masa Orde Baru. Tetapi yang paling penting, Pancasila jangan diperlakukan sama halnya dengan jimat.

”Kalau memperlakukan Pancasila seperti jimat, begitu mengaku dirinya Pancasila sudah merasa lebih baik dibandingkan yang lain. Tidak cukup misalnya, saya Bambang Sadono, Saya Indonesia, Saya Pancasila tetapi juga harus diamalkan,” kata Bambang Sadono saat acara Sosialisasi 4 Pilar MPR RI di kantor DPD I Partai Golkar Jateng, Kamis (15/6).

Pancasila lanjutnya, harus dimengerti, dipahami, dihayati dan diamalkan. Persoalannya saat ini orang tidak tahu Pancasila itu apa tetapi justru mengamalkannya. Sebaliknya, ada orang tahu Pancasila tapi tidak mengamalkannya. ”Pancasila itu bukan orangnya tetapi perbuatannya,” tambahnya.

Ia kurang sepakat jika pembentukan UKP PIP yang dipimpin Yudi Latief tugasnya membumikan Pancasila. Jika tugasnya seperti itu menganggap Pancasila seolah-olah berada di langit, padahal Pancasila ada di tengah-tengah masyarakat.

Menurutnya Bung Karno saat berpidato pada 1 Juni 1945 di depan BPUPKI menyatakan, Pancasila bukan dikarang oleh orang pintar, dibuat oleh pemimpin tetapi digali dari Bumi Indonesia.

Lalu apa yang membuktikan jika Pancasila itu digali dari bumi pertiwi Indonesia. Menurut Bung Karno, kalau Pancasila diperas dan diperas lagi menjadi Ekasila yaitu Gotong Royong.

Gotong royong merupakan budaya asli Indonesia yang terdapat di seluruh daerah di nusantara. ”Tetapi nilai-nilai itu sekarang mulai luntur dan orang lebih mengutamakan materi. Seperti halnya fenomena money politics di dunia politik,” katanya. (ric/ce1)