Menyoal Nalar Radikalisme Keagamaan (2-habis)

1147
Oleh: M. Mukhsin Jamil*)
Oleh: M. Mukhsin Jamil*)

RADIKASLISME juga menggunakan sarana ideologis dan religius untuk mendefinisikan situasi, melegitimasi tindakan  dan mem-persuasi para pendukung. Sarana ideologis dan religius itu disebut dengan framing. Framing merupakan suatu usaha mengkerangkai dan membahasakan kembali kepentingan-kepentingan politik  dan ekonomi yang ada dibalik sebuah gerakanradikal. Dalam masyarakat agama framing yang sangat efektif tentu adalah framing agama (relligious framing).

Melalui framing agama inilah situasi kontemporer misalkan, didefinisikan sebagai jahiliyah ataupun taghut. Dengan framing agama tindakan untuk melawan jahiliyah dan toghut itu disebut dengan amar ma’ruf nahi munkar dan jihad. Sementara kematian akibat perjuangan melawan jahiliyah dan taghut itu disebut sebagai mati Syahid di jalan Allah. Fungsi framing agama yang lain adalah untuk mempersuaasi orang lain agar mendukung tindakan radikalsepertiterorisme. Dari sinilah kemudian orang yang tidak

Mendukung didefiniskan sebagai kafir dan musuh sementara orang yang menyambut persuasi disebut sebagai ikhwan dan akhawat.

Persoalannya adalah dimana letak nalar kekerasan yang menjadi basis radikalisme?. Secara sederhana kekerasan epistmologis itu dibangun di atas asumsi-asumsi dasar mengenai realitas, asumsi-asumsi dasar mengenai Islam dan bagaimana cara Islam berhadapan  realitas tersebut.

Para pelaku dan pendukung radikalisme merupakan kelompok yang paling aktif dan produktif mengintrodusir narasi, teruatama narasi keagamaan (religious narative). Sedemikian aktif dan produktifnya, sehingga tidak ada sedikit saja aktifitas pada ruang personal, komunal maupun sturktural yang tidak didefinisikan dengan kerangka (frame) bahas agama. Mereka percaya bahwa agama yang mereka anut bersifat sempurna (kamil) dan menyeluruh (syamil).

Dengan watakanya yang sempurna dan menyeluruh agama mengatur kehidupan manusia dari mulai lahir sampai mati, dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, dari wilayah pribat sampai wilayah publik. Agama selalu saja membilah mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang boleh dilakukan dan mana yang harus ditinggalkan.

Meski demikan pandangan dan sikap pendukung radikalisme juga ambigu. Ambiguitas ini tampak dalam pandangannya mengenai adanya sejumlah aktifitas yang tidak ada dasarnya dalam sumber-sumber pokok ajaran agama (Al-Qur;an dan Sunnah). Terhadap praktek-praktek semacam itu biasanya cukup dipandang sebagai praktek non syar’i yang tidak boleh dilakukan. Namun pada saat yang sama mereka juga mengambil manfaat atas situasi dan praktek-praktek yang dipandang tidak ada sandarannya dalam ajaran agama itu.

Narasi-narasa agama yang selalu digembar-gemborkan oleh kalangan radikal adalah narasi tekstual masa lampau yang dipahami terlepas dari dimensi ruang dan waktu. Dalam pandangan kaum radikal teks-teks keagamaan tidak terkait dengan ruang (locus) dan waktu  (tempus).

Teks-teks suci adalah seperangkat sistem ajaran yang mengatasi ruang sejarah sosial kehidupan manusia. Karena wataknya yang mengatasi ruang dan waktu maka teks agama adalah tetap, baik dari kata maupun kandungan maknanya. Maka itu, realitas dan perkembangan kehidupan manusia harus tunduk sepenuhnya terhadap teks.

Sebagai konsekuensi dari nalar semacam ini, kelompok radikal memandang hidup adalah jihad sepanjang hayat untuk menegakkan teks suci dan memerangi apa saja yang tidak ada dalam kitab suci, meneguhkan ortodoksi dan menghancurkan apa saja yang dianggap penyimpangan (heterodoksi) dan bid’ah (heresyi). Begitu seseorang masuk ke dalam lingkaran gerakan radikal maka tidak ada lagi jalan untuk kembali (point of retrurn) dari terus menerus hidup dalam jihad, atau mati syahid. Keyakinan semacam ini dengan sangat mudah kita jumpai dalam simbol-simbol yang digunakan oleh para pengusung gerakan radikal. Kalimat suci Syahadat misalkan sering ditulis secara bersama-sama dengan gambar pedang yang menopangnya. Simbolisasi semacam itu mengandung pesan bahwa kesaksaian (syahadat) adalah  perang (jihad).

Bahaya dari Konsekuensi narasi agama kaum radikali itu mengharuskan usaha-usaha kontra radikal memperhatikan secara serius setiap narasi tersebut, membongkar keberadanannya sebagai selubung, kerangka yang mewadahi dan terkadang menutupi kepentingan-kepentingan dan ambisi-ambisi politik pelakunya. Bagi umat beragama harus ada usaha untuk menyoal nalar keagamaan radikal sembari memahami tradisi warisan masalalunya secara segar dan produktif bagi kemanuisan. Memahami tradisi dengan cara demikian agar menghindarkan umat dari nostalgia idealisasi masa lampu yang destruktit. Karena, meminjam ungkapan Alia Alawi (2009),   nostalgia dapat menjadi kekuatan dahsyat, dan seiring perjalanan waktu dapat digunakan untuk tujuan-tujuan berbahaya.

*)Dr. H.M. Mukhsin Jamil, M.Ag Kordinator Departemen Training Walisongo Mediation Center dan Dekan Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM) UIN Walisongo Semarang.