33 C
Semarang
Senin, 21 September 2020

Menolak Dioperasi Agar Tetap Bisa Kerja

Penyandang Penyakit Langka, Habdi Ahwadin, Tubuhnya Ditumbuhi Kutil

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

HABDI Ahwadin, 51, warga Kampung Mertosari, Kelurahan Selomerto, Kecamatan Selomerto, terserang penyakit cukup langka yang disebabkan virus papiloma. Sekujur tubuhnya, mulai dari ujung kepala sampai kaki ditumbuhi kutil. Bahkan, benjolan di kakinya sampai sebesar buah kelapa.

Walau demikian kondisinya, Habdi tetap tidak minder. Ia tetap bekerja keras menafkahi keluarga dengan bekerja serabutan. Sampai sejauh ini ia masih mampu menafkahi istri dan ketiga anaknya.

Saat akan dioperasi atas bantuan pemerintah, ia memilih menolak. Alasannya, ia tak mau jadi beban keluarga usai menjalani operasi. Sebab, desas desus yang didengarnya dari tetangga, operasi yang dimaksud sampai pada tindakan amputasi kaki. “Banyak yang bilang kalau dioperasi risikonya seperti itu, jadi saya memilih menolak,” tutur Habdi kepada rombongan komunitas Agus Agus Bersaudara Indonesia (AABI) Wonosobo yang mengunjunginya, Kamis (15/6).

Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Selomerto Tri Astuti menjelaskan, rencana operasi sedianya dijadwalkan pada pertengahan Mei lalu. Habdi terdaftar sebagai penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS). Selain itu, Habdi juga telah menerima dana asistensi sosial setiap bulan. “Semua berkas yang dipersyaratkan untuk operasi sudah siap, dan diagnosa dari dokter Rumah Sakit Margono pun telah dikantongi, namun Habdi memilih tidak berangkat,” terangnya.

Ternyata, keputusan Habdi untuk tidak menjalani operasi juga mendapat dukungan sang istri, Anik Usmah, 38, dan ketiga anaknya. Sebab, Habdi masih diandalkan sebagai tulang punggung keluarga.

Anik membeberkan, kendati dengan kondisi seperti itu, tenaga Habdi terus dibutuhkan warga sekitar. Walau hasil hariannya tak seberapa, namun itu cukup untuk memenuhi keperluan harian.

Yang Anik kagumi dari suaminya ialah Habdi tak pernah minder dengan kondisi tubuhnya. Habdi selalu terlihat semangat ketika hendak berangkat bekerja. Adapun ketiga anaknya, tak pernah mempersoalkan kondisi ayahnya. Mereka telah menerima keadaan ayahnya dengan lapang dada.

“Mereka (anak anak) tumbuh sehat dan normal. Mujiyati sekarang sudah bekerja, Wawan mau masuk SMP, dan Agus masih di kelas 4 SD,” urai Anik.

Penasehat AABI Wonosobo Agus Purnomo mengaku sangat prihatin dengan kondisi Habdi. Selain untuk memberikan bantuan pendukung hidup sehari-hari, kedatangan mereka juga untuk menyemangati.

“Pak Habdi Ahwadin ini layak menjadi teladan bagi kita, karena meski secara fisik terlihat demikian, beliau tidak pernah merasa rendah diri atau minder,serta tetap semangat mencari rizki halal,” tutur Agus. (cr2/ton)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Pensiunan Kini Bisa Cicil Rumah di KPR

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pensiunan kini juga dapat menyicil rumah melalui sistem Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Hal tersebut diharapkan dapat memfasilitasi masyarakat dari berbagai lapisan...

6 Orang Disandera, Gasak Rp 150 Juta

UNGARAN – Pelaku aksi perampokan di Kantor Bank Jateng kompleks perkantoran Tarubudaya, Kabupaten Semarang, Kamis (18/5) kemarin, tergolong profesional. Pelaku yang diduga berjumlah empat...

Mahasiswa UM Magelang Teliti Gojek

RADARSEMARANG.COM, MUNGKID – Tiga mahasiswa  Prodi S1 Akuntansi FEB UMMagelang mengadakan penelitian tentang  Efektivitas Pengendalian Internal Moralitas dan Integritas terhadap Pencegahan Fraud yang merupakan...

MAJT Resmikan Miniatur Kabah

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) kini menyediakan miniatur kabah untuk kebutuhan manasik haji bagi masyarakat Kota Semarang dan sekitarnya. Miniatur kabah tersebut baru...

Mr Seven Eleven

Oleh: Dahlan Iskan From hero to apalah namanya. Reputasinya menembus langit. Tiga tahun lalu. Sekarang di dalam tahanan. Di Jepang. Sudah tiga kali perpanjangan masa...

Motif Pembunuhan Masih Misterius

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Motif pelaku IB, 16 dan DIR, 15, warga Semarang Selatan untuk merampok dan membunuh sopir Grab Car, Deny Setyawan masih misterius....