Menyoal Nalar Radikalisme Keagamaan

1206
Oleh: M. Mukhsin Jamil*)
Oleh: M. Mukhsin Jamil*)

“…NOSTALGIA dapat menjadi kekuatan dahsyat, dan seiring perjalanan waktu dapat digunakan untuk tujuan-tujuan berbahaya.” (Alia Alawi dalam buku The Crisis of Islamic Civilization, 2009).

Ada beberapa pertanyaan yang selalu muncul dalam diskusi-diskusi extrimisme atau radikalisme keagamaan yang hampir merata di berbagai belahan dunia belakangan ini. Pertama,mengapa agama yang pada dasarnya mengajarkan cinta, kasih sayang dan perdamaian, di kalangan pemeluknya bisa melahirkan tindakan radikal dan teror? Kedua,mengapa dari kitab suci yang sama, dari ajaran Nabi yang sama bisa melahirkan perbedaan pandangan, sikap dan tindakan umatnya; yang satu mengabsahkan tindakan kekerasan dan yang lain menentangnya? Ketiga, mengapa para pejuang kebenaran agama memilih jalan yang berbeda dalam berhubungan dan berinteraksi dengan kelompok lainnya; ada yang bersifat inklusif, mau menerima perbedaan dan ada yang eksklusif menolak segala macam perbedaan bahkan memusuhi perbedaan?

Kalau sikap dan perilaku keagamaan lahir dari tafsir dan pemahaman atas teks-teks dan tradisi keagaman, maka perbedaan-perbedaan sikap sebagaimana dalam pertanyaan-pertanyaan di atas merupakan bentuk-bentuk sosial konsekuensi penafsiran dan nalar  atas teks-teks keagamaan. Meminjam istilah Sayyidina Ali bin Abi Thalib R.A. perbedaan dan bahkan peperangan agama itu  adalah karena “perang takwil atas Al-Qur’an”. Hal ini karena Al-Qur’an sebagai kitab suci sesungguhnya meminjam istilah sayyidin Ali adalah “ma baina dafatain” apa saja yang ada diantara dua sampul, ia tidak bisa bicara apapupun, dan manusialah yang membicarakannya. Dengan ungkapan lain kekerasan, teror dan perang antar dan intern umat beragama lahir dari perbedaan nalar keagamaan. Dan, nalar keagamaan agama yang keras, tentu saja lahir dari pandangan dunia (world view) yang pro kekarasan.

World view yang menjadi basis penafsiran kaum radikal adalah cara pandang yang melihat dunia sebagai belantara menakutkan, penuh jebakan dan membahayakan. Dalam dunia yang membahayakan itu, pertentangan-pertentangan bahkan pertarungan merupakan realitas yang harus dihadapi oleh setiap orang. Kaum radikal memandang masa lalu yaitu masa Nabi dan salaf al-salih sebagai masa yang ideal yang harus direngkuh kembali. Mereka mendefiniskan realitas kehidupan kontemprer sebagai, jahiliyah, kafir, dan memandang para pemimpin dunia modern sebagai taghut (penguasa tiran).

Saya ingin memulai diskusi, dengan mengambil suatu perspektif  bahwa radikalisme sebagai salah satu  bentuk kekerasan adalah realitas yang kompleks. Oleh karenanya pendekatan-pendekatan konvensional dan parsial terhadap radikalisme tidak lagi relevan. Yang dimaksud pandangan konvensional terhadap radikalisme adalah suatu perspektif yang melihat radikalisme sebagai gejala sosial atau sebagai gejala agama semata. Penjelasan penjelasan yang mengaitkan radikalisme sebagai akibat dari deprivasi sosial ekonomi, kemiskinan semata misalkan, terbantah oleh kenyataan bahwa beberapa orang asal Eropa yang rela bergabung dengan gerakan ISIS di Suriyah, berasal dari kalangan terdidik dengan tingkat ekonomi yang mapan. Sementara itu penjelasan agama juga gagal menjelaskan dimensi-dimensi soaial, politik dan ekonomi yang inhern dalam cita-cita perubahan sosial dalam gerakan radikal. Dalam banyak kasus gerakan-gerakan radikal bukan hanya memiliki cita-cita sosial dan politik, tetapi bahkan memanfaatkan peluang dan kesempatan politik yang ada. Sebagai contoh transformasi radikalisme sebagai bentuk Islamisme Mesir dan Iran,  sebagaimana diungkapkan oleh Bayyat (2009), adalah hasil dari pemanfaatan peluang-peluang politik yang terbuka di Mesir maupun di Iran.

Dari sudut pandang teori gerakan sosial misalkan, radikalisme itu didorong oleh kesempatan-kesempatan politik yaitu stabilitas dan instabilitas relatif dikalangan pemegang kendali kekuasaan. Struktur kesempatan politik itu eksis pada ruang politik lokal, regional, nasional bahkan Global. Radikaliasme juga melibatkan sejumlah proases mobilisasi sumber daya; baik sumber daya finansial maupun sumberdaya sosial.  Ada donasi dan donatur yang menyebabkan radikalisme menjadi semacam “Proyek” yang dalam terminologi studi konflik dan perdamaian disebut sebagai conflict biusinisman,conflict enterpreneur. Ada jearing dari mikro sampai mikro yang menjadi track radikalisme. Modal sosial dalam bentuk jejaring sosial itu bisa mulai dari keluarga sampai komunitas dan negara yang biasanya tersembunyi dan sulit diungkap. (*/smu)