Belasan Makanan Kandung Bahan Berbahaya

930
PEWARNA TEKSTIL: Sumarwati menunjukkan makanan ringan kuping gajah yang terindikasi mengandung rhodamin B. (SUMALI IBNU CHAMID/RADAR KEDU)
PEWARNA TEKSTIL: Sumarwati menunjukkan makanan ringan kuping gajah yang terindikasi mengandung rhodamin B. (SUMALI IBNU CHAMID/RADAR KEDU)

WONOSOBO –Tim Pemantauan dan Pengawasan Kualitas Pangan Pemerintah Kabupaten Wonosobo masih menemukan produk makanan kering yang terindikasi menggunakan zat aditif berbahaya, rhodamin B, metanil yellow dan boraks. Temuan itu terungkap saat melakukan pantauan di Pasar Sapuran dan Pasar Kertek, Rabu (14/6).

Dari pemantauan di beberapa toko dan warung, ditemukan sedikitnya 8 jenis produk makanan kering seperti lanting, kuping gajah, alen-alen, rengginang, bolu emprit, wajik, krecek singkong, dan canthir, mengandung rhodamin B atau pewarna tekstil merah. Ada juga produk makan yang mengandung metanil yellow (warna kuning mencolok) yang ditemukan pada kuping gajah, serta boraks ditemukan dalam bleng padat maupun cair.

“Makanan kering ini tersebar merata di hampir semua pedagang makanan di pasar ini, bahkan di pasar lain. Artinya peredaran produk makanan ini bersumber dari produsen yang sama, yang diedarkan menyeluruh di pasar-pasar yang ada di Wonosobo,” ungkap Ketua Tim Pemantau Sumarwati.

Salah satu pedagang yang ditemui, Siti mengaku tidak mengetahui apabila makanan yang dijualnya mengandung bahan pewarna berbahaya. Dia mengatakan, konsumen lebih tertarik membeli makanan dengan warna yang menarik. Jika menjual makanan dengan warna yang tidak menarik, biasanya justru tidak disukai konsumen.

Petugas kemudian mengamankan makanan yang terindikasi mengandung rhomadin B, metanil yellow dan boraks tersebut dengan cara dibeli. Tim juga meminta pedagang untuk tidak lagi menjual makanan tersebut.

“Tujuannya adalah pembinaan. Kami berharap, pedagang juga memiliki kesadaran dan pengetahuan mengenai bahan makanan yang sehat dan layak jual. Namun, petugas juga tidak akan segan membawa pedagang ke ranah hukum apabila tetap menjual makanan dengan tambahan bahan makanan berbahaya,” jelas Sumarwati.

Sumarwati menambahkan, banyaknya pedagang yang menjual makanan kering yang mengandung tambahan bahan makanan berbahaya karena permintaan masyarakat juga masih tinggi. Apalagi di saat bulan Ramadan dan jelang hari raya Idul Fitri seperti sekarang ini, peredaranya sangat luar biasa karena tingginya permintaan.

“Pemerintah sendiri sebenarnya sudah melakukan upaya untuk memutus rantai peredaran makanan yang mengandung bahan berbahaya ini. Namun, jika masyarakat tetap membelinya, maka upaya tersebut tidak akan membuahkan hasil tentunya,” katanya.

Dampak yang akan dirasakan oleh masyarakat yang mengonsumsi makanan dengan bahan pewarna berbahaya tidak akan dirasakan dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang berpotensi menimbulkan penyakit kanker hati.

Kanit II Reskrim Polres Wonosobo Iptu Samsudin, yang ikut juga dalam Tim Pantauan Pengawasan Pangan ini mengatakan, razia ini sesuai dengan program yang tengah digencarkan Polres Wonosobo tentang Pemberantasan Mafia Pangan. (ali/ton)