Ramadan dan Budaya Pamer di Media Sosial

1282

ADANYA media sosial membawa dampak yang besar dalam segala lini kehidupan masyarakat. Media sosial sangat bermanfaat untuk menjalin silaturahmi dengan teman atau saudara yang terpisah jarak, menjangkau belahan lain dunia, hingga mereka yang telah lama tak berkabar. Media sosial juga sering dimanfaatkan sebagai media  untuk berniaga, bahkan yang paling bermanfaat jika digunakan sebagai media syiar agama.

Akan tetapi, tak dapat dipungkiri, bahwa dalam perkembangannya, media sosial di masa kini seringkali berubah fungsi atau disalahgunakan. Mulai dari munculnya tuturan-tuturan yang bermakna kebencian, postingan yang mengandung isu SARA, yang mengakibatkan perpecahan umat sebangsa, hingga postingan yang melanggar etika dan adab yang dilarang dalam agama, yakni riya’ atau pamer. Lebih tidak etis, jika yang dipamerkan adalah ibadah, yang dilakukan di bulan Ramadhan pula.

Memang, pamer ini dapat menjadi sangat subjektif. Antara seseorang dengan yang lain bisa saja menganggap pengertian pamer itu berbeda-beda. Bagi si Fulan, misalnya, memasang foto di media sosial saat sedang beribadah (apapun jenis ibadahnya), mungkin saja diniatkan untuk menginspirasi orang lain untuk beribadah. Akan tetapi, bagi si Fulanah yang menyaksikan posting foto tersebut, bisa saja dianggap sebagai salah satu bentuk pamer yang mengganggu.

Yang jelas, Islam mengajarkan kita untuk beribadah secara ikhlas hanya karena Allah. Ibadah merupakan ranah pribadi antara hamba dengan Rabb-nya, sehingga hal ini tidak perlu diberitahukan secara sengaja kepada orang lain. Seperti yang termaktub dalam surat  Al-Baqarah:271, yang berbunyi: “Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapus dari kamu sebagian kesalahan-kesalahan; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Budaya pamer di media sosial memang agaknya sulit kita hindari. Terlebih dengan adanya fitur-fitur baru di media sosial yang mendukung itu. Jika dahulu kita hanya bisa mengungkapkan perasaan, pikiran, dan sebagainya hanya melalui tulisan yang disebut update status, maka semakin lama fitur update status ini semakin lengkap dengan adanya upload gambar, lokasi, yang semuanya akan mendapat respon dari ‘pengikut’ kita di media sosial tersebut melalui emoticon  penanda ‘suka’ (seperti ‘jempol’ pada Facebook atau ‘love’ pada Instagram), komentar, share, dan lain sebagainya.

Semakin banyak jumlah ‘pengikut’ seseorang di media sosial,  semakin banyak pula respon yang mungkin didapat. Banyak fenomena orang biasa yang kemudian menjadi popular karena konten media sosialnya banyak direspon orang lain. Maka tak heran jika ini menjadi salah satu alasan banyak orang senang posting kegiatan apa saja di media sosial yang akhirnya dapat berujung pada pamer ini. Walaupun begitu, respon dari netizen di media sosial bukan saja berupa pujian, komentar baik, melainkan juga komentar buruk yang sampai pada cacian dan hujatan. Yang jelas, tidak ada seorang pun yang sengaja posting di media sosial agar dihujat. Maka, jika seseorang posting  di media sosial, kemungkinannya hanya karena ingin berbagi (kegiatan apa saja), yang pastinya ingin mendapatkan respon baik: baik itu sekadar tanda suka berupa “like”, jempol, atau komentar baik hingga pujian, bukan justru sebaliknya.

Pujian memanglah sebuah hal yang penting untuk mendongkrak rasa percaya diri. Seperti yang dilansir oleh lifehack.org,  dan diberitakan ulang oleh vemale.com, ada sebuah studi yang digagas oleh Brunel University di London, yang mengemukakan bahwa orang yang memiliki kelainan mental dan narsistik menikmati perhatian publik ketika mereka mengunggah foto menu makanan sehat dan foto sedang berolahraga di media sosial. Periset mengoleksi data dari 555 pengguna Facebook yang bersedia menjadi responden untuk diteliti mengenai perilaku dan karakter mereka. Studi tersebut menemukan bahwa korelasi karakter seseorang dengan perilaku mereka di media sosial biasanya memperlihatkan potensi narsistik.

Masih menurut studi tersebut, narsistik sangat terlihat pada pengguna Facebook yang hobi mengunggah foto mengenai pencapaian hidup mereka dan berharap mendapatkan pujian dari teman-teman. Penelitian itu juga menyebutkan bahwa orang yang suka pamer soal diet, pencapaian olahraga atau kebugaran itu adalah orang-orang yang narsis. Sementara itu, orang-orang yang suka pamer kemesraan atau hal-hal yang berkaitan dengan pasangannya itu tandanya memiliki rasa percaya diri yang rendah. Mereka disebut sebagai orang-orang yang suka mencari perhatian. Mereka baru bisa bahagia atau lega jika bisa mendapat banyak “likes” atau komentar di akun media sosialnya.

Terlepas dari apapun jenis posting kita, alangkah lebih baik jika di bulan Ramadhan seperti ini kita lebih bijak memanfaatkan media sosial sebagai sarana syiar Islam. Semoga hati kita kita terhindar dari sifat riya’ dan pamer. Dan semoga sikap menghindari pamer di media sosial ini dapat tetap istiqomah kita jaga, bahkan hingga hari-hari setelah Ramadan.