VERIFIKASI BERKAS: Para calon peserta didik saat melakukan verifikasi berkas pendaftaran peserta didik baru (PPDB) online di SMK Negeri 4 Semarang, kemarin. (ADITYO DWI/JAW APOS RADAR SEMARANG)
VERIFIKASI BERKAS: Para calon peserta didik saat melakukan verifikasi berkas pendaftaran peserta didik baru (PPDB) online di SMK Negeri 4 Semarang, kemarin. (ADITYO DWI/JAW APOS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Hari ketiga Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) online tingkat SMA dan SMK negeri, sejumlah keluhan muncul dari orang tua calon siswa SMA. Di antaranya, mengeluhkan proses penerimaan berdasarkan nilai yang dirasa tidak fair.

”Anak saya kan daftar di SMA Negeri 1 Salatiga, SMP-nya juga di Salatiga. Nilainya memadai, sampai hari kemarin masih terdaftar masuk alias belum tergeser. Lha hari ini saya lihat kok kegeser, tapi ada yang nilainya di bawah anak saya masuk kategori siswa miskin,” ujar orang tua calon siswa SMA, Agustri, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (13/6).

Hal itu membuat Agustri merasa tidak puas dengan sistem yang ada. Sebab, anaknya yang sebelumnya telah masuk dalam kategori dengan nilai memadai, justru tergeser oleh siswa yang belakangan diketahui kategori siswa miskin tersebut.

Selain itu, ada juga keluhan soal tambahan nilai anak seorang guru yang disebut sebagai nilai kemaslahatan. Sebab, beberapa guru yang anaknya mendaftar SMA negeri justru tidak mendapatkan tambahan nilai tersebut. Hal itu lantaran mereka merupakan guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), sedangkan Pemprov Jateng hanya menyediakan nilai tambah untuk guru mulai SD hingga SMA.

”Saya kecewa saja, katanya kalau anak guru dapat nilai tambahan, tapi ternyata hanya anak guru SD sampai SMA saja. Ini kan kurang fair, padahal kalau di pusat setiap saya ikut pelatihan dan semacamnya selalu disampaikan bahwa kami memperhatikan guru terutama guru PAUD,” keluh Tenny, yang anaknya mendaftar di SMA Negeri 15 dan SMA Negeri 10 Semarang.

Seperti diketahui, tambahan nilai anak guru ini dibedakan menjadi dua, yakni jika calon peserta didik mendaftar pada  satuan  pendidikan tempat  tugas  orang tuanya sebagai guru, maka akan mendapat tambahan 2 poin. Sedangkan jika mendaftar di luar  satuan pendidikan tempat  tugas  orang tuanya sebagai guru, hanya mendapat tambahan 1 poin.

Selain nilai kemaslahatan, sejumlah orang tua dan calon peserta didik baru juga mengaku merasa kesulitan terkait uji piagam prestasi yang harus dilakukan saat melakukan verifikasi. Pasalnya, tidak ada ketentuan dari pihak sekolah maupun Dinas Pendidikan bahwa dilakukan praktik berdasarkan prestasinya.

”Ini saya sudah dua kali bolak-balik ke SMAN 1 Semarang, awalnya untuk ambil kostum karena prestasi saya cheerleader. Sekarang ini harus ke Ketua Indonesian Cheerleading Association (ICA) untuk konfirmasi kebenaran piagam,” keluhnya.

Rabu (14/6) ini, hari terakhir pendaftaran online mandiri, yang ditutup pukul 13.00. Pun dengan pendaftaran online lewat satuan pendidikan dan verifikasi berkas pendaftaran untuk sekolah pilihan pertama juga ditutup pukul 13.00. Sedangkan pencabutan berkas pendaftaran sekolah pilihan pertama dibatasi pukul10.00.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang di Jurnal PPDB online, nilai tertinggi tercatat di SMAN 3 Semarang dengan rata-rata 50 persen pada dua jurusannya. Untuk jurusan MIPA nilai di SMAN 4 Semarang dengan rata-rata 52.91, terendah 49.20, dan tertinggi 65.40. Sedangkan SMAN 3 dengan rata-rata tertinggi 58.51, terendah MIPA 55.90, dan tertinggi 64.10.

Sementara untuk jurusan IPS, SMAN 3 Semarang rata-rata 55.32, terendah 52.55, dan tertinggi 62.10, di peringkat kedua SMAN 1 Semarang rata-rata 50.56, terendah 46.70 dan tertinggi 61.55. Sedangkan SMA dengan rata-rata dan nilai terendah, yakni SMAN 16 Semarang, MIPA 30.87 dan IPS 34.15.

Ditanya soal penjabaran nilai akhir yang menjadi dasar peringkat calon peserta didik, Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah Kota Semarang (MKKS), Wiharto, menjelaskan, nilai itu merupakan penjumlahan nilai ujian nasional (UN), nilai kemaslahatan (NK), nilai prestasi (NP), dan nilai lingkungan (NL). Dengan formula komponen sebagai berikut: NA = UN + NK + NP + NL. Sedangkan untuk SMK, NA = (65% UN + 35 % TK) + NP + NK + NL.

Sehingga, menurutnya, sangat wajar jika terdapat siswa nilainya jauh di atas 40 yang merupakan nilai maksimal hasil UN. Wiharto mengaku tidak dapat menjelaskan secara detail tentang penilaian akhir dalam penerimaan secara online ini, sebab seluruhnya sudah diatur secara sistem.

”Misalnya calon siswa dengan prestasi tertentu kemudian dia merupakan anak guru, tentu ada tambahan poin yang jumlahnya bervariasi. Jadi, sistemnya yang menandingkan bukan kita, sudah canggih pokoknya,” beber dia.

Ketika para calon peserta didik  tidak masuk dalam kuota akan secara otomatis tergeser oleh sistem. Selanjutnya dijelaskan tentang peminatan calon siswa bisa langsung memilih satu dari tiga jurusan, yakni MIPA, IPS dan Bahasa. Penilaian yang diambil untuk peminatan ini berasal dari nilai Ujian Nasional (UN). Dengan kata lain, jika anak tersebut memilih jurusan MIPA, maka ia memiliki modal nilai Matematika dan IPA yang baik.

Nah itu nanti akan dikalikan dua, sehingga nanti jumlah nilai UN-nya jadi beda pada masing-masing pemilih jurusan. Kalau anak itu milihnya MIPA, sedangkan nilai IPS-nya lebih baik, dan MIPA-nya kurang, itu akan memunculkan bobot nilai berbeda. Jadi, harus bisa ngitung-ngitung,” paparnya.

Dikonfirmasi terkait permasalahan orang tua siswa yang merasa tidak fair dengan penilaian berdasarkan siswa miskin, Wiharto menyampaikan agar orang tua diharap bersabar dan bisa bertanya kepada bagian informasi di loket-loket sekolah. Selain itu, orang tua juga bisa menghubungi help desk yang tersedia di website jateng.siap-ppdb.com. (tsa/aro/ce1)