NARASUMBER: Ketua Komisi A DPRD Jateng, Masruhan Syamsuri saat menjadi pembicara dalam diskusi ”Menyikapi Terorisme”. (Miftah/Jawa Pos Radar Semarang)
NARASUMBER: Ketua Komisi A DPRD Jateng, Masruhan Syamsuri saat menjadi pembicara dalam diskusi ”Menyikapi Terorisme”. (Miftah/Jawa Pos Radar Semarang)

SEMARANG – Pemprov Jateng diminta lebih aktif dalam menjaga stabilitas dan keamanan. Meski begitu, diakui atau tidak minimnya anggaran masih menjadi kendala yang dihadapi pemprov. Kondisi tersebut membuat peran pemprov masih lemah sehingga banyak bermunculan aksi radikalisme dan terorisme di Jateng.

Ketua Komisi A DPRD Jateng, Masruhan Syamsuri mengatakan, terorisme dan radikalisme harus menjadi perhatian serius pemprov. Sebab, hal itu sangat membahayakan dan bisa merusak stabilitas keamanan dan persatuan. ”Harus ada upaya lebih aktif untuk mengantisipasi gerakan radikalisme. Sebab jika dibiarkan akan berkembang dan menjadi teror bagi masyarakat,” katanya dalam diskusi ”Menyikapi Terorisme” yang digelar Sekwan DPRD Jateng di Hotel Semesta, kemarin.

Ia menambahkan, gerakan radikalisme dan terorisme semakin berbahaya karena mulai menyasar anak muda dan menggunakan media sosial. Ia berharap pemerintah maupun pemprov bisa melakukan inovasi untuk menangkal radikalisme. Salah satunya dengan mengajak dan membekali anak-anak muda dengan pemahaman agama yang bagus. ”Radikalisme ini merupakan persoalan serius. Harus ada upaya konkret dan kontinu sebagai benteng yang kuat,” ujarnya.

Politisi PPP ini tidak menampik jika minimnya anggaran menjadi salah satu penyebab tidak maksimalnya penanganan terorisme di Jateng. Hal itu membuat partisipasi pemprov masih belum besar untuk menangkal aksi radikalisme di Jateng. Bahkan, program pembinaan banyak tetapi output-nya belum diketahui. ”Kebijakan pemprov masih lemah termasuk pengawasan di lapangan. Kondisi seperti ini secara tidak langsung membuat gerakan-gerakan radikal mulai bermunculan. Bahkan,dalam beberapa kasus ketika ada terorisme sebagian ada di Jateng,” tambahnya

Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol R Djarot Padakova mengaku, bersama dengan TNI terus melakukan berbagai antisipasi gerakan radikalisme dan terorisme di Jateng. Adanya Babinkamtibmas yang ada di setiap desa merupakan salah satu komitmen Polri yang sudah dijalankan. ”Kami Polri bersama TNI tidak tinggal diam, dan sudah menginstruksikan anggota untuk turun ke masyarakat di desa-desa” katanya

Selain itu, Polri juga terbuka dan terus melakukan inovasi. Salah satunya dengan aplikasi Smile Police. Program online yang bisa diakses setiap masyarakat dan bisa menjadi salah satu upaya pencegahan gerakan radikalisme. ”Upaya preventif terus kami lakukan, karena sudah sangat berbahaya dan mulai masuk lini kehidupan di desa-desa,” ujarnya.

Masyarakat diminta untuk bisa lebih proaktif dan tidak diam dengan kondisi masyarakat sekitar. Karena biasanya pelaku gerakan terorisme dan radikalisme cenderung diam meski terkadang bisa lebih berbaur dengan masyarakat sekitar. Yang ironis, terkadang janji surga dan jihad fi sabilillah dijadikan dalih untuk merekrut anggota baru. ”Masyarakat juga jangan acuh dengan lingkungan. Jika ada yang mencurigakan harus melapor agar bisa diantisipasi sejak dini,” tambah Kabid Ideologi dan Kewaspadaan Kesbangpol Jateng, Budiyanto. (fth/ric/ce1)