Memupuk Gaya Hidup Filantropi

1185
Oleh: Kasan Bisri*)
Oleh: Kasan Bisri*)

RAMADAN adalah bulan yang istimewa bagi seluruh umat islam di seluruh dunia, hal ini mengingat pahala dan ganjaran di bulan ini dilipat gandakan oleh Allah SWT. Menahan lapar dan haus di siang hari, sholat terawih di malam hari dan memperbanyak tadarus al-Quran adalah bagian kecil dari sekian banyak amalan ibadah yang hanya kita jumpai di bulan suci ini. Semua ini tidak terlepas dari harapan untuk mendapatkan pahala yang berlipat sebagimana dicontohkan dan disabdakan baginda Rasul Muhammad SAW.

Menariknya ketika kita menengok amaliah Rasulallah di bulan puasa ternyata ada sebuah amalan yang berbeda dibanding amalan beliau pada bulan-bulan biasa, amalan itu adalah sedekah. Apa yang berbeda dengan sedekah rasulallah di bulan suci dengan bulan lainnya adalah intesitas beliau dalam berbagi dengan sesama.

Dalam kesehariannya Rasulallah terkenal sebagai figur yang suka mendermakan hartanya, namun pada bulan ramadhan rasulallah memperbanyak sedekah kepada siapapun yang meminta. Dikisahkan dalam sebuah riwayat bahwa momen dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi orang yang paling dermawan adalah pada bulan Ramadhan. Bahkan Dalam riwayat itu diceritakan kedermawanan nabi dalam hal kebaikan pada bulan puasa melibihi kesegaran dan kenikmatan yang dibawa angin yang berhembus (HR. Ahmad). Sedekah adalah cerminan dari gaya hidup filantropi seseorang. filantropi dimaknai sebagai sikap sifat murah hati, menyayangi umat manusia, menolong orang yang sedang kesusahan dan tentunya masih banyak bentuk lainnya.

Sikap filantropis ini menjadi penting dan relevan dalam kehidupan masyarakat yang terjadi ketimpangan sosial dan ekonomi. Ketimpangan ini mengakibatkan adanya kelompok masyarakat yang hidup dalam kemiskinan. Mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup ataupun berkehidupan yang layak dan mereka sedikit kesemptan yang minim untuk mengakses layanan publik.

Berdasar pada data BPS (Badan Pusat Statistik) jumlah penduduk miskin dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan di Indonesia mencapai 27,76 juta orang (10,7%). Di sisi yang lain, bangsa ini juga menghadapi problem pendidikan. Pada 2015/2016 saja ada sekitar satu juta anak putus sekolah di SD serta hanya menamatkan SD. Faktor ekonomi menjadi penghambat utama mereka untuk melanjutkan sekolah. Hal ini dikuatkan dengan hasil survei BPS yang menyatakan ada sekitar 73 persen kasus putus sekolah terjadi akibat faktor ekonomi. Belum lagi masalah pengangguran yang masih besar di Indonesia.

Masalah-masalah di atas bukanlah hanya menjadi tanggung jawab pemerintah untuk menyelesaikannya. Pemerintah telah berusaha sekuat tenaga dengan melakukan berbagai  upaya strategis untuk mengentaskan kemiskinan, meningkatakan layanan dan mutu pendidikan, dan mengurangi jumlah penangguran. Namun semua itu perlu dukungan dari berbagai pihak. Semua elemen bangsa harus bersatu dan bersama-sama untuk saling membantu saudara-saudara kita yang masih belum beruntung, hidup di bawah garis kemiskinan. Oleh karena itu gaya hidup filantropi menjadi sangat penting di Indonesia. Filantropi sebagai gaya hidup untuk mencinta sesama,    mengasihi kaum dhuafa, peduli dan membantu kaum papa menjadi salah satu solusi yang memliki potensi besar untuk memerangi kesenjangan sosial dan ketimpangan ekonomi yang menjadi persoalan krusial bangsa ini. Menghilangkan jurang pemisah anatar si miskin dan si kaya. Menguatkan ikatan sosial dan ukhuwah insaniyah.

Dalam Islam, filantropi bisa berbentuk zakat, infaq, sedekah atau donasi apapun. Zakat dan infaq terbatas pada harta dan properti tertentu, sedangkan sedekah memiliki makna yang lebih luas. ia  tidak hanya dimaknai menyumbangkan sejumlah uang kepada orang lain. Segala perbuatan baik kita kepada orang lain tergolong sedekah. Menciptakan suasana yang teduh, damai dan tenang di lingkungan sekitar adalah sedekah, bahkan tersenyum kepada tetangga, teman sekantor atau orang lain pun memiliki nilai sedekah. Tidak berhenti pada manusia, perbuatan baik kita kepada binatang bahkan kepada alam juga bisa termasuk sedekah.

Dengan demikian, sudah selayaknya gaya hidup filantropi yang dicontohkan rasulallah menjadi inspirasi untuk kita semua. Ramadhan ini menjadi momen yang tepat bagi kita untuk melatih diri menjadi pribadi-pribadi yang suka berderma, menolong, dan bersedekah. Banyak sedekah yang bisa kita lakukan di bulan suci, tidak memulu dengan menyedekahkan uang. Membuat status yang menyejukan di media sosial, memberi komentar positif dipostingan teman, menahan diri untuk menghujat orang lain, menjaga kesatuan umat dan bangsa, menjaga ketertiban dan kebersihan lingkungan adalah wujud sedekah, wujud sikap filantropis yang brbdanding lurus dengan kesalehan sosial. (*/smu)