GEMBIRA: Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Grandio Sonora Tidar (GST) Universitas Tidar Magelang yang berjaya dalam ajang 5th Vietnam International Choir Competition 2017. (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR KEDU)
GEMBIRA: Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Grandio Sonora Tidar (GST) Universitas Tidar Magelang yang berjaya dalam ajang 5th Vietnam International Choir Competition 2017. (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR KEDU)

Hampir gagal berangkat, kelompok Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Grandio Sonora Tidar (GST) Universitas Tidar Magelang mampu menorehkan prestasi internasional. Mereka menyabet 4 penghargaan dalam 5th Vietnam International Choir Competition 2017. Seperti apa perjuangannya?

Agus Hadianto, Magelang

HARI ini, Selasa (13/6), kontingen PSM GST dijadwalkan kembali ke Indonesia usai berlaga dalam lomba paduan suara internasional di Hoi An, Vietnam, 7-11 Juni 2017 lalu. Rombongan akan tiba dengan kepala tegak dan penuh kebanggaan. Sebab mereka berhasil meraih 4 penghargaan sekaligus.

GST mengikuti 3 kategori dalam ajang ini. Yakni mixed choir, folkfore dan sacred choir. Yang membanggakan, ketiga kategori tersebut berhasil membawa pulang penghargaan. Kategori mixed choir dan folkfore meraih medali emas, sementara sacred choir meraih perak. Tak hanya itu, GST juga meraih penghargaan spesial, excellent in programming, dari dewan juri.

“Excellent in programming itu sama dengan mendapat penghargaan apresiasi terbaik dari semua juri. Seperti administrasi, ketepatan waktu, itu kita terbaik,” jelas Ketua PSM GST Rofik Munanjar saat dihubungi via pesan WhatsApp.

Rofik mengaku bersyukur dapat memenangkan perlombaan internasional pertama yang diikuti GST. Perjuangan mahasiswa PSM GST beberapa bulan terakhir tidak sia-sia. Sebab, mereka hampir saja gagal berangkat mengikuti ajang bergengsi yang diikuti 33 tim dari 10 negara, yaitu Indonesia, Filipina, Tiongkok, Australia, Jepang, Malaysia, Singapura, Thailand, Rusia dan tuan rumah Vietnam.

Pada Maret lalu, mereka belum tahu apakah akan tetap berangkat ke Vietnam atau tidak. Masalah dana menjadi kendala utama. “Biaya yang dibutuhkan memang tidak sedikit, sekitar Rp 281 juta,” kata Ketua Rombongan Achmad Mursyid sebelum berangkat ke Vietnam, Selasa (6/6) lalu.

Pihak kampus akhirnya membelikan tiket pesawat untuk sekitar 20 orang. Sisanya, jelas Mursyid, PSM harus mencari donatur untuk menambal anggaran. Tak hanya itu, mereka juga mengumpulkan barang-barang bekas seperti kardus, koran, pakaian pantas pakai untuk dijual. Jualan kaos, aksesoris gelang, souvenir, juga dijalani seluruh anggota GST, termasuk yang tidak ikut rombongan ke Vietnam. Usaha para mahasiswa ini akhirnya berhasil mengumpulkan dana sekitar Rp 70 juta dan Rp 90 juta dari kampus. Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi akhirnya juga ikut membantu pembiayaan GST ke Vietnam. Karena dana tersedia, akhirnya rombongan bisa berangkat ke Vietnam.

Pelatih PSM Grandia Sonora Tidar Alex Hendri Eko Prabowo mengatakan, selain masalah pendanaan, kendala lain yang dihadapi yakni adanya pengurangan personel. Jumlah personel yang tadinya 32 mahasiswa, menyusut hampir 50 persen, menjadi 17 personel saja.

“Alasannya bermacam-macam. Ada yang karena keluarga, ekonomi, kemudian faktor pendidikan. Mereka yang mundur kan rata-rata sudah semester akhir, sementara yang berangkat ke Vietnam didominasi mahasiswa semester empat,” terang Alex. Selain 17 personel GST, rombongan juga didampingi masing-masing 1 konduktor, pembina dan pengiring.

Rofik menjelaskan, di kategori mixed choir, GST menyanyikan 3 lagu. Yakni Ballade to the Moon, Segalariak, dan Il Carnevale di Venezia. Kemudian pada kategori sacred choir juga menyanyikan 3 lagu yaitu Dixit Maria, The Ground, dan Salmo 150. Kompetisi internasional ini banyak menggunakan lagu bersyair latin.

Adapun kategori folklore, peserta menyanyikan lagu daerah yang disarankan menggunakan lagu daerah asalnya. Dalam kesempatan ini GST menyanyikan lagu Nunggang Pit, Gai Bintang dan Yamko Rambe Yamko.

Meski ini merupakan lomba tingkat internasional pertama mereka, namun hasil yang didapat maksimal. Hal tersebut, menurut Rofik, tidak lepas dari rasa percaya diri yang dimiliki mahasiswa. Mereka mampu menguasai keadaan. “Kita dari awal menanamkan ke setiap anak. Apapun yang terjadi, kepercayaan kita kepada teman adalah kunci ketenangan kita. Kita bukan apa-apa jika sendiri,” jelas Rofik.

Rektor Untidar Prof Cahyo Yusuf mengaku bangga atas pencapaian dari PSM GST. “Kita tidak menargetkan agar anak-anak bisa bermain lepas, ternyata malah bisa meraih medali. Sangat membanggakan,” beber Cahyo. (*/ton)