Anggotanya Pencinta segala Macam Mainan

Mengenal Komunitas Dolanan Semarang (Kondomers)

902
BERAGAM MAINAN: Penggagas Komunitas Dolanan Semarang, Eko Oktaviano (kanan) dan anggota lain menunjukkan koleksi robot Tiger dari film animasi Jepang serta mainan mobil Hot Wheels. (DIAZ AZMINATUL ABIDIN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERAGAM MAINAN: Penggagas Komunitas Dolanan Semarang, Eko Oktaviano (kanan) dan anggota lain menunjukkan koleksi robot Tiger dari film animasi Jepang serta mainan mobil Hot Wheels. (DIAZ AZMINATUL ABIDIN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Para pencinta mainan di Kota Semarang tergabung dalam satu komunitas. Namanya Komunitas Dolanan Semarang  atau Kondomers. Seperti apa?

DIAZ AZMINATUL ABIDIN

ANEKA mainan mulai robot seukuran kurang dari 30 sentimeter ditata rapi di atas meja makan di salah satu tempat angkringan di Kota Semarang. Bukan hanya robot saja, segala macam mainan dengan karakter tokoh anime Jepang juga turut memenuhi meja makan. Jumlahnya puluhan. Terdapat tokoh Ultraman, Naga, Power Rangers, mobil mainan Hot Wheels, serta jenis mainan lainnya.

Ya, aneka mainan itu adalah koleksi anggota Kondomers. Mereka memajang koleksinya dalam acara ngabuburit atau menunggu waktu berbuka puasa. Komunitas ini beranggotakan para pencinta berbagai jenis mainan, yang mayoritas kalangan dewasa.

Eko Oktaviano sangat berperan dalam pembentukan Kondomers. Pria 43 tahun ini mengatakan, Kondomers dibentuk sebagai ajang silaturahmi dan mengumpulkan sesama pencinta mainan, terutama yang ada di Kota Semarang. ”Namun kita tidak terbatas dengan hanya satu jenis mainan saja, seperti komunitas lain yang hanya satu jenis mainan, atau satu jenis motor untuk sebuah komunitas otomotif. Kami terdiri atas banyak pencinta mainan. Dari mainan mobil-mobilan, robot, termasuk mainan tradisional. Yang penting masih bentuk mainan,” jelas pegawai swasta ini.

Dikatakan, komunitas ini terbentuk setahun lalu, tepatnya pada April 2016. Jumlah anggota tetap saat ini mencapai belasan orang dari berbagai usia. Sedangkan untuk member atau anggota tidak tetap lebih dari 20 orang.

Sejak terbentuk setahun lalu, Kondomers kerap mengadakan acara kumpul bareng di sebuah tempat minimal 2 minggu sekali. Tempatnya pun bebas. Selain untuk saling bersilaturahmi, juga sebagai ajang konsultasi, sharing, serta berburu segala jenis mainan. Sebab, bila sudah bertemu dan saling berkonsultasi tentang mainan, tidak menutup kemungkinan adanya transaksi jual beli sesama anggota. ”Bisa jadi ada yang tertarik sama mainan yang lain karena sudah langka atau memang disuka,” kata warga Semarang Utara ini.

Eko mengaku, senang mengoleksi mainan sejak SMA pada 1994. Bahkan, ia berburu mainan sampai luar negeri lewat media sosial. ”Dari situ saya kenal banyak penjual  mainan yang bila ada mainan baru pasti menginformasikan. Saya pakai Facebook. Kalau di Facebook itu kan banyak macam grup toys. Saya mulai berburu mainan juga dari situ, dan mulai kenal seller mainan yang sering nawarin,” ujarnya.

Dari situ, ia mulai menemukan banyak pencinta mainan yang saling berkonsultasi di Facebook. Hingga akhirnya, Eko membuat grup Kondomers bagi para pencinta mainan yang berdomisili di Kota Semarang.

Dikatakan, setiap anggota komunitas ini, memiliki kecintaan sendiri terhadap jenis mainan dari kartun Jepang. Bentuk kecintaan seseorang terhadap mainan itu tinggi, misalnya mereka tidak hanya mengoleksi satu karakter dari sebuah film, tapi juga karakter semua tokoh dalam film itu.

”Misalnya satu karakter Doraemon, tidak hanya berburu Doraemon saja, namun juga karakter lain di film tersebut. Bila sudah lengkap, biasanya karakter yang sudah ditata komplet akan jadi objek fotografi,” ucap penggila mainan dengan karakter dengan detail tinggi seperti naga bersisik ini.

Anggota Kondomers, Taufik Kurniawan, menambahkan, ia memiliki koleksi lebih dari 500 mainan di rumahnya. Salah satu koleksi kesayangannya adalah Iron Man berukuran 30 sentimeter. Ia mengaku mendapatkannya dengan cara impor dari Amerika. ”Ternyata tidak hanya saya saja yang suka mainan. Di Semarang ini banyak, tapi belum ketahuan. Semoga kita semua pencinta mainan ini bisa join di komunitas, untuk silaturahmi juga kan bagus,” kata warga Semarang Selatan ini.

Kondomers, lanjut Taufik, sudah beberapa kali digandeng untuk mengikuti suatu acara seperti di Sam Poo Kong, PRPP, dan UTC. Dari beberapa acara itu, Kondomers semakin dikenal baik oleh komunitas mainan lain, serta masyarakat  secara luas.

Belakangan ini, menurut Taufik, perkembangan komunitas yang ada di Kota Semarang cukup baik dengan menampilkan eksistensi masing-masing. Ke depan, ia berharap, Kondomers bisa menampung para pencinta mainan lebih banyak lagi. Termasuk pencinta mainan tradisional, seperti yoyo, dakon, kapal otok-otok, dan sebagainya. ”Kami sedang berpikir ke arah situ. Memang untuk pencinta mainan tradisional jumlahnya masih sedikit yang bergabung. Tapi, harapan ke depan akan lebih banyak lagi,” harapnya. (*/aro/ce1)