Oleh: Ahmad Rofiq
Oleh: Ahmad Rofiq

KATA Rasulullah saw,  “Sebaik-baik manusia adalah yang paling memberi manfaat pada manusia yang lain” (Riwayat al-Thabrany). Rasulullah saw pada saat merumuskan fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara dalam PIagam Madinah, tidak pernah mengatur soal bentuk negara.  Beliau lebih memikirkan dan mengatur hal-hal substantif saja, seperti prinsip persamaan (equality before the law/musawah), keadilan (justice, ‘adalah),  moderasi (moderation, tawassuth), keseimbangan (balance, tawazun), dan persaudaraan (brotherhod, ukhuwah). Soal bentuk negara diserahkan kepada musyawarah dan kesepakatan warga negara masing-masing.

Hemat saya, entitas kehidupan berbangsa dan bersuku-suku adalah kenyataan dan sunnatuLlah yang diatur dalam Al-Qur’an yang juga memang dikehendaki Allah. Jika tafsir ini yang digunakan, maka impian untuk mewujudkan tatanan dunia dalam satu sistem khilafah dan memberangus entitas negara bangsa dan suku-suku, tidak sejalan dengan kehendak Allah yang diatur dalam QS. Al-Hujurat:13). Dengan demikian tafsir nasionalisme ini, perlu dimaknai secara cerdas, dan ini adalah perwujudan Islam yang rahmatan lil ‘alamin (QS. Al-Anbiya’:103).

Anak-anak  dan generasi muda bangsa Indonesia ini perlu dibekali pemahaman agama dan nasionalisme yang cukup, agar, tidak mudah terhasut dan terprovokasi oleh ajakan untuk merusak NKRI yang dulu didirikan dengan cucuran darah dan sabung nyawa, dibangun dengan berbagai ujian dan cobaan, dan dijaga dengan segala pengorbanan. Karena itu, generasi muda yang nantinya akan menjadi pemimpin bangsa ini, harus dibekali dengan ilmu, bekal, dan kesadaran kesejarahan, bahwa NKRI yang didasarkan pada Pancasila dan UUD 1945, adalah final. Pemahaman agama dan keberagamaannya dilakukan secara moderat, meninggalkan egoisme beragama, karena keberagamaan dalam bingkai ke-Indonesiaan, adalah dua bagian sisi kehidupan warga negara bangsa Indonesia yang harus dirawat dan dikelola secara baik dan komprehensif.

Karena itulah semua komponen bangsa yang memang majemuk, beragam, baik etnis, agama, dan budayanya, perlu menyamakan persepsi dan komitmen kebangsaan NKRI ini. Yang berbeda tidak harus dipaksakan untuk sama. Yang sama kita rawat, jaga, dan diuri-uri, karena keindahan itu asalah dari keragaman dengan spirit persaudaraan kebangsaan Indonesia..

Pendidikan agama perlu dijadikan fondasi kepribadian ke-Indonesiaan, bagi anak-anak dan generasi muda kita. Pemahaman agama yang moderat, tidak ekstrem kanan atau ekstrem kiri menjadi kata kunci yang terus menerus ditanamkan kepada mereka.  NKRI, meskipun bukan negara agama, bukan juga negara sekuler. Akan tetapi dengan Pancasila dan UUD 1945 serta Bhinneka Tunggal Ika, fasilitasi negara terhadap semua agama di negeri ini masih berjalan dengan baik. Yang terpenting semua pemimpin agama terus menerus menjalin silaturrahim kebangsaan, insyaa Allah ke depan komitmen kebangsaan ini masih bisa dirawat dan dijaga demi keharmonisan dan kemajuan bangsa ini.

Pada anak-anak kita terus kita tanamkan faham agama secara moderat dan inklusif, kita tanamkan rasa cinta tanah air, agar mereka memiliki nasionalisme yang kuat, bangga akan negerinya. Cinta tanah air adalah sebagian dari iman, hubbul wathan minal iman. Indonesia adalah Rumah Kita. Mari kita jaga dan rawat sebaik-baiknya. Mari kita rawat spirit dan komitmen kebangsaan generasi muda kita. Mereka yang akan menjadi pemimpin bangsa ini ke depan. Insya Allah kita akan sedikit menyimpan ketenteraman hati apabila kita berhasil menanamkan spirit kebangsaan pada anak-anak dan generasi muda kita. Kalau ada siapapun yang mencoba merusak Rumah Kita, dari dalam, dari luar, yang merongrong NKRI Rumah Kita yang kita cintai bersama. Kita masih butuh hidup, menghirup udara segar, meminum air bersih di negeri ini, dan mungkin kita juga akan menghembuskan nafas terakhir kita di NKRI bumi Allah, irisan surga yang dihamparkan di nusantara ini.

Yang terpenting adalah komitmen kita semua dan khususnya para petinggi bangsa ini. Jangan salah gunakan amanat jabatan mulia menjadi pemimpin bangsa untuk bisa melaksanakan tugas dan penegakan hukum di negeri ini dengan adil. Jangan biarkan siapapun untuk merusak rumah kita. Jangan pula biarkan siapapun yang mencoba merusak demokrasi yang sudah baik. Toleransi warga mayoritas sudah luar biasa besar, seakqn mereka intoleran. Jangan biarkan tirani minoritas menguasai opini dan budaya politik di negeri ini. Karena prasyarat demokrasi dan toleransi adalah saling berbagi, memberi dan menerima dengan saling menghormati.

Kita semua merindukan terwujudnya NKRI ini sebagai baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur. Semoga anak-anak dan generasi muda kita, terutama kaum santri kampus dan kampus kehidupan bangsa ini, siap mengemban tugas mulia mengawalnya, untuk mewujudkan kebahagiaan lahir batin dunia akhirat. Allah a’lam bi sh-shawab. (*/smu)