Oleh Ahmad Rofiq
Oleh Ahmad Rofiq

ISU kebangsaan belakangan ini menjadi isu menarik dibahas, di tengah munculnya kegaduhan sosial politik, sebagai implikasi pilkada yang disertai munculnya isu agama dibawa ke ranah politik. Isu yang berbau sara ini memang sensitif. Apalagi ketika yang memicu adalah orang yang tidak memeluk agama Islam, bahkan seandainya yang melakukan dugaan penistaan itu orang Islam pun, akan melahirkan kegaduhan serupa. Hal ini karena agama dan SARA, adalah persialan sensitif. Agama merupakan pilihan masing-masing individu penganutnya, yang bisa jadi karena keturunan – yang disebut agama warisan —  atau karena “intervensi” Allah melalui hidayah-Nya.

Karena kebetulan isu ini bersamaan dengan even pilkada gubernur, dan pelakunya itu tidak memenanginya, maka reaksi para pendukung pun, menjadi “bola panas” dan “bola liar” yang menyeret pada isu lainnya. Perkara “penodaan agama” baru saja selesai, muncul lagi pernyataan dari seseorang, yang diduga gubernur Kalbar, yang bernuansa sara, dan mengundang reaksi keras dari warga Melayu atau Muslim setempat. Ada warga setempat yang tersulut emosinya, dan menantang “duel maut” secara pribadi sebagai warga dan gubernurnya. Tentu ini menjadi “tontonan” yang agak lucu, karena seorang gubernur yang notabene digaji dan dibiayai oleh rakyat, akan tetapi melukai rakyatnya dengan statemen yang berbau SARA tersebut.

Beragama dan keberagamaan dalam Islam, mengajak untuk mewujudkan kasih sayang pada semua penghuni alam raya ini. Ini yang dimaksud, ajaran Islam itu rahmatan lil ‘alamin. Bukan hanya kasih sayang untuk pemeluk agama Islam saja. Tentu ini tidak bisa berjalan sepihak. Karena itu, wajib ada nilai dan spirit persaudaraan dan saling menghormati antara sesama pemeluk agama, dan antarpemeluk agama. Yang posisinya sebagai mayoritas melindungi yang minoritas, dan yang minoritas menghormati yang mayoritas. Dasarnya adalah persaudaraan (ukhuwah/brotherhood) yang sejati. Dalam ajaran Islam, manusia diciptakan oleh Allah di muka bumi ini, terdiri dari laki-laki dan perempuan, dan dijadikan mereka hidup berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, adalah untuk saling mengenal (ta’aruf) dan berkompetisi untuk menjadi hamba-hamba Allah yang paling mulia dengan jalan bertaqwa kepada-Nya (QS. AL-Hujurat:3).

Rasulullah saw memberikan resep jitu, bahwa kualitas keberagamaan kita itu, adalah manakala kita mampu menjaga kenyamanan dan ketenteraman orang lain dari tutur kata lisan (atau tulisan) kita dan tangan (kekuasaan) kita (Riwayat al-Bukhari). Jika demikian dalam kita beragama kita tidak dibenarkan menuruti ego kita sendiri, apalagi dengan model pemahaman yang radikalis dan cenderung mengedepankan “kekerasan”. Rasulullah SAW adalah sosok yang lemah lembut, pemaaf, dan bahkan memohonkan ampunan kepada orang lain. Jika ada masalah, yang Beliau kedepankan adalah musyawarah dan tekad yang kuat, disertai pasrah diri atau tawakkal kepada Allah (QS. Ali ‘Imran: 159).

Tampaknya tidak  bisa dipungkiri adanya elit agama yang menggunakan “tafsir keagamaan” menurut fahamnya sendiri, yang merasa benar, jika NKRI dan Pancasila tidak final, karena itu bisa saja diganti. Wong UUD saja, bisa diamandemen hingga empat kali. Lalu, apa salahnya jika kami bermimpi untuk merubahnya dengan “khilafah” atau sistem lain, yang kami yakini akan menyelesaikan masalah. Sepanjang itu kami lakukan dengan cara damai dan demokratis, apakah itu salah. Bukankah demokrasi adalah prinsip yang diakui di negeri ini? Itulah kira-kira yang menjadi dasar pemikiran mereka untuk mengedepankan egoisme mereka. Lebih ngeri lagi jika ada kepentingan politik yang mengusung gerakan separatisme. Apapaun agama, etnis, dan golongannya, gerakan separatis yang ingin merusak NKRI harus dihabisi. Karena negara berhak untuk melindungi negara dan warganya, agar NKRI tetap utuh, dan warga negara Indonesia bisa hidup tenang dan nyaman.

Karena itulah, sebagai warga negara yang beragama, kita harus buang jauh-jauh egosisme keberagamaan kita. Bagi yang Muslim, kita memang wajib meyakini bahwa agama Islam adalah agama yang paling benar di sisi Allah. Akan tetapi sebagai warga negara Indonesia, kita juga harus menghormati keyakinan dan pilihan agama saudara kita sesuai dengan kebenaran keyakinan mereka. Dan ini dijamin oleh Undang-undang. Islam mengajarkan, tidak ada paksaan dan pemaksaan di dalam beragama (QS. Al-Baqarah:256). Bagimu agamamu dan bagiku agamaku (QS. Al-Kafirun:6). Rasulullah saw juga wanti-wanti agar para pengikut Beliau, tidak terjebak dalam beragama secara ekstreem baik kanan maupun kiri. Beliau mengajarkan agar kita beragama secara moderat (tawasuth), seimbang (tawazun), adil (ta’adul), saling menghormati dan menyayangi (tarahum), bersaudara (ukhuwah), dan toleran (tasamuh).

Allah menjadikankita beragam, tidak seragam. Kita majemuk atau berbhinneka. Kemajemukan dan kebhinnekaan adalah khazanah dan kekayaan yang kuar biasa, dan ini sunnatuLlah yang perlu kita syukuri. Kita semua susah membayangkan kalau kita ini semua serba sama. Dunia tidak menjadi indah, karena keindahan itu adalah dari keragaman, namun dikelola dan dimenej dengan baik, laksana sebuah orkestra di bawah komando seorang konduktor yang piawai, sehingga menghadirkan alunan musik yang mampu menyihir dan membuai para penikmat musik melalui kenyamanan dan keserasian paduan berbagai macam alat musik yang kompak. (*/zal)