Membuang Jarak dengan Mahasiswa

1059
TANPA JARAK : Suparno selalu menjaga kedekatan dengan seluruh civitas akademika. Baginya tak perlu ada jarak antara Rektor dengan mereka
TANPA JARAK : Suparno selalu menjaga kedekatan dengan seluruh civitas akademika. Baginya tak perlu ada jarak antara Rektor dengan mereka

DALAM memberikan pendidikan terhadap anak didik yakni mahasiswa dan mahasiswi Untag, dirinya membuang jarak. Artinya membentuk kondisi kedekatan antar mahasiswa dan pengajar. Selain itu ia merangkul semua dosen dan civitas akademika sebagai teman serta rekan kerja.

“Saya tidak menginginkan ada jarak antara dosen dan mahasiswa, karena mahasiswa adalah kawan dan kolega saya. Jangan pernah membuat jarak antar seseorang karena tidak ada gunanya,” pungkasnya.

Lagi-lagi, Suparno menuturkan  falsasah Jawa yakni “Mesemo Marang Wong Liyo” atau tersenyumlah kepada setiap orang, dan sapalah dengan ramah. “Pepatah Jawa itu Mesemo. Apalagi Bung Karno mengatakan bahwa dengan senyum dapat membeli segala-galanya. Kenapa? karena kita semua kan saudara,” tegasnya.

Yang kedua, lanjutnya, dengan dosen pun dia merasa dekat. Begitu mudah baginya menjalin kedekatan dengan rekan kerja atau sesama umat manusia ciptaan Tuhan. Caranya dengan simpati dan empati. Banyak hal sederhana saja misalnya ucapan selamat ulang tahun kepada setiap orang yang dikenal.

“Nyatanya ucapan tersebut membawa dampak kedekatan jiwa masing-masing orang. Contohnya saya dengan dosen-dosen. Luar biasa sederhana, tapi tidak semua orang bisa. Kita sering makan bersama  dimanapun dengan civitas akademika untuk membangun kebersamaan. Hanya dengan makanan sederhana pecel misalnya. maka saya dua periode diterima dengan baik oleh teman-teman,” ucap dia.

Ia menyarankan jangan pernah membuat jarak dengan sesama. Karena setiap manusia yag dilahirkan tinitah artinya sama, dan jinatah atau beda. “Maksudnya manusia yang dilahirkan sama tapi pekerjaan itu masing-masing jatahnya. Harus disyukuri,” ucap dia. (dan/ric)