HOBI JADI REZEKI: Food blogger Agustina Dwi Jayanti yang kerap digandeng sejumlah resto dan hotel, di antaranya Hazotel, Hoka-Hoka Bento, Bowery hingga Giggle Box. (kanan) Arina Mabruroh yang aktif menulis di blog pribadinya, Arinamabruroh.com. (DOKUMEN PRIBADI)
HOBI JADI REZEKI: Food blogger Agustina Dwi Jayanti yang kerap digandeng sejumlah resto dan hotel, di antaranya Hazotel, Hoka-Hoka Bento, Bowery hingga Giggle Box. (kanan) Arina Mabruroh yang aktif menulis di blog pribadinya, Arinamabruroh.com. (DOKUMEN PRIBADI)

Dari sekadar hobi menulis, seorang food blogger bisa menghasilkan pundi-pundi uang. Minimal bisa mencicipi menu kuliner secara gratis. Seperti apa?

PERKEMBANGAN teknologi memunculkan banyak profesi dengan beragam bentuk jasa yang ditawarkan. Apalagi setelah marak media sosial, baik Facebook, Twitter, Path, hingga Instagram, termasuk website pribadi atau blog. Salah satunya profesi sebagai food blogger.

Dari istilahnya saja sudah dapat dipahami jika jenis profesi ini merujuk kepada menu makanan, di mana ulasan serta penilaian mereka akan menjadi rekomendasi bagi kebanyakan orang ataupun pencinta kuliner.

Food blogger sendiri menjadi sebuah magnet tersendiri, khususnya bagi pengusaha kuliner untuk mempromosikan olahan ataupun produk mereka. Namun jenis profesi ini masih tergolong baru, sehingga belum begitu familier di kalangan masyarakat Indonesia. Namun di beberapa kota besar, seperti di Jakarta, food blogger seakan menjadi primadona.

Food blogger mulai dikenal di kalangan masyarakat Indonesia khususnya kota besar sejak 2014 lalu, namun di Semarang sendiri profesi ini baru mulai di lirik sekitar awal 2017,” ujar food blogger Semarang, Agustina Dwi Jayanti kepada Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (10/6).

Perempuan yang tinggal di Jalan Sido Asih, Tlogosari Kulon, Semarang ini, mengatakan, menjadi food blogger merupakan sesuatu yang susah-susah gampang. Tak cuma icip-icip dan  makan gratis saja, namun dalam memberikan panduan serta ulasan dibutuhkan kejelian serta kejujuran sebelum di-share melalui blog pribadinya, www.ceritadandelion.com.

”Tak semua menu makanan itu enak. Di sisi lain, masing-masing food blogger juga mempunyai kriteria masing-masing. Intinya, agar menjadi daya tarik bagi masyarakat, terkadang food blogger tak sebatas me-review menu makanan, tetapi detail-detail nuansa tempat serta suasana juga menjadi bahan tambahan di blog,” kata perempuan yang akrab disapa Tina ini.

Diakui, sejumlah resto dan hotel sudah pernah memakai jasanya, di antaranya Hazotel, Hoka-Hoka Bento, Bowery hingga Giggle Box. Tak hanya itu,  beberapa menu makan yang dijajakan para PKL pun tak luput dari pantauannya.

Pemilik akun Instagram @Agustina_DJ7 ini mengungkapkan, dunia food blogger sudah ditekuninya sejak 2015 lalu, meskipun profesi tersebut dikatakan sebuah hal yang kebetulan. Awalnya, dirinya lebih intens ingin menjadi seorang penulis, namun banyak penerbit menolak menerbitkan novel karyanya berjudul ”Kencan Pertama yang Memalukan.” ”Tapi lewat usaha panjang, akhirnya ada salah satu penerbit di Jakarta yang mau menerbitkannya,” ucap perempuan 30 tahun ini.

Tina sendiri awalnya juga berkeinginan bergabung menjadi reporter majalah Femina. Namun harapannya pupus di tengah jalan. ”Kemudian saya beralih menjadi food blogger karena hasilnya lumayan ketimbang royalti buku yang turun 3 bulan sekali. Kini, saya semakin fokus menjadi food blogger, apalagi setelah meraih juara dalam lomba blogger yang diadakan Pemprov Jateng yang menonjolkan tema makanan khas daerah,” katanya.

Meski begitu, di sela kesibukannya menjadi food blogger, dirinya masih terus menulis buku. Rencananya, beberapa bulan ke depan akan terbit buku karya terbarunya.

Diakui, profesi sebagai food blogger ke depan sangat potensial. Sebab, banyak pengusaha kuliner dan resto sudah meninggalkan promosi yang sifatnya konvensional, seperti menyebar pamflet ataupun selebaran.

Ditanya penghasilan sebagai food blogger, Tina mengaku sekali mendapat order, bisa sampai Rp 750 ribu. ”Namun info tentang kuliner harus selalu update, itu penting agar jumlah pengunjung di blog tetap stabil dan daya jual juga tetap tinggi,” ujarnya.

Menurutnya, blog masih banyak yang membaca, meskipun kini masyarakat lebih condong memilih mengakses media sosial. ”Fungsinya sedikit berbeda, Instagram dan Facebook maupun Twitter lebih menonjolkan sisi pemotretan (foto), sedangkan blog untuk mendetailkan informasi lewat tulisan,” katanya.

Food blogger Semarang lainnya adalah Wahyudi D Hartanto. Ia mengaku, dari profesinya itu, ia punya kesempatan menikmati makanan yang unik dan jalan-jalan ke berbagai objek wisata.

Pria yang akrab disapa Yudi ini mengaku, dengan me-review menu kuliner, ia memiliki tantangan mencoba makanan baru yang ditulisnya. Contohnya, makanan yang unik dan langka, atau makanan hasil karya dari chef hotel berbintang bahkan restoran ternama dengan harga selangit. ”Bukan hanya hotel, makanan pinggiran pun menjadi bahan untuk ditulis asalkan menarik dan unik,” ujarnya.

Pria 37 tahun ini mengaku sering menulis di sejumlah blog, di antaranya Hello Semarang.com dan ulinulin.com. Selain itu, ia juga menggunakan blog pribadinya, hyudee.com. ”Saya aktif juga di media soal, IG, Twitter, Facebook dengan akun hyudee. Kalau jumlah followers belum begitu banyak, masih ribuan,” tuturnya.

Selain diunggah ke blog dan media sosial, Yudi mengaku juga mengunggahnya ke Youtube dengan akun youtube.com/wahyudidhartanto. Dari pekerjaannya itu, ia mengaku melakukannya demi eksistensi di dunia maya dan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi.

Alhamdulillah juga kalau dapat penghasilan. Kalau menulis di tempat lain memang karena ada kerja sama dari kantor berita yang mengulas tentang pariwisata dan kuliner,” ujarnya.

Dalam sebulan, sedikitnya ia mendapatkan penghasilan Rp 1 jutaan, namun tak jarang juga tidak mendapatkan penghasilan, karena tidak ada kuliner yang unik untuk diulas. ”Kalau di medsos pribadi sih cenderung makanan milik teman-teman, contohnya saja teman hotel atau resto,” jelasnya.

Ia mengaku puas jika ulasannya dibaca banyak orang dan bisa menjadi referensi kuliner bagi masyarakat Semarang, termasuk para wisatawan dari dalam dan luar negeri. ”Setidaknya sektor pariwisata kota ini bisa maju dan dikenal banyak orang,” katanya bangga.

Beda lagi dengan pengalaman Arina Mabruroh. Ibu rumah tangga satu anak ini melalui blog pribadinya, Arinamabruroh.com, menuangkan hobinya menulis secara sederhana. Baik review tentang lifestyle, wisata maupun kuliner. Arina sendiri mengaku belum sepenuhnya fokus mengulas kuliner. Tetapi ia mengaku membahas apa saja yang dinilai inspiratif.

”Saya masih ’gado-gado’, menulis apa aja. Sehingga blog saya lebih ke arah lifestyle. Meski di dalamnya terdapat sejumlah review kuliner,” ujar wanita yang aktif ngeblog sejak 2014 ini.

Berbagi makanan khas Semarang pernah ia ulas berdasarkan pengalamannya. Misalnya, ayam geprek, nasi jagung, sup ikan, dan lain-lain. Ia juga me-review sejarah kuliner khas, seperti tulisan ”Mengulik Sejarah Roti Ganjel Rel Khas Semarang”.

Menurutnya, tema-tema sederhana mengenai informasi kuliner cukup memancing respons pembaca. ”Saya belum lama ini mengulas makanan khas Semarang Ganjel Rel, ternyata Ganjel Rel itu begini-begini,” katanya.

Selain aktif di blog pribadi, Arina juga bergabung dengan sejumlah komunitas blogger seperti Indonesian Food Blogger yang anggotanya berasal dari seluruh Indonesia. ”Kalau di Semarang saya bergabung sebagai anggota Komunitas Blogger Gandjel Rel. Komunitas ini aktif melakukan kegiatan edukasi, pengetahuan seputar blogging, menghadiri event, launching produk, gathering ringan dan lain-lain,” ujarnya.

Komunitas blogger itu biasanya berkomunikasi dengan sesama anggota melalui media sosial, baik grup Facebook maupun WhatsApp untuk sharing. ”Misalnya saya baru saja menulis review ini, kemudian di-share di grup. Teman-teman blogger saling mengunjungi blog,” katanya.

Selain itu, juga memanfaatkan akun media sosial lain, seperti Instagram dan Twitter.

Anggota Komunitas Gandjel Rel ini memang semuanya wanita dari berbagai latar belakang. Kebanyakan ibu rumah tangga. Namun soal konsep blog berbeda-beda dan memiliki ciri khasnya sendiri-sendiri. ”Saya juga sedang belajar foto menggunakan smartphone, sehingga suka upload makanan,” kata wanita yang tinggal di Tlogosari ini. (aaw/den/amu/aro/ce1)