Iseng Yang Bikin Nagih

2475
SATE TAICHAN MADU ALA KONICIPI. (Nur Chamim/Jawa Pos Radar Semarang)
SATE TAICHAN MADU ALA KONICIPI. (Nur Chamim/Jawa Pos Radar Semarang)

SATE, lazimnya dibalut dengan bumbu kacang maupun kecap. Namun tidak bagi sate yang satu ini. Terkenal dengan warna dagingnya yang putih tak menggunakan bumbu kacang atau kecap.

Namanya sate taichan. Kali pertama sate ini nge-trend di Jakarta. Namun kini mulai merambah ke daerah, seperti Kota Semarang. Tusukan daging ayam putih tersebut memiliki citarasa khas yang menggabungkan gurih, asam dan super pedas.

Salah satu kedai yang menjajakkan sate terkenal ini adalah Konicipi yang terletak persis di perempatan jalan Kiai Saleh, nomor 475 Semarang. Digagas oleh Dinda Ayu Septiana, kedai Konicipi ini menyajikan aneka olahan sate taichan dan beberapa menu pelengkap lainnya.

“Awalnya dulu karena keluar dari kerjaan (perhotelan). Saya di rumah coba-coba masak terus ada yang minta dibuatin sate taichan ini, pas saya bikin pada ketagihan, minta lagi,” ujar wanita 27 tahun ini. Dara berpenampilan maskulin ini sebelumnya bekerja sebagai chef di salah satu hotel Jakarta, namun pekerjaannya itu menyebabkan dia jarang mendapat libur Lebaran dan mendapat komplain dari keluarga.

Konicipi sendiri sebenarnya merupakan bahasa Jawa yang ditulis menyerupai bahasa Jepang. Memiliki arti “suruh nyicipi”, Dinda mengaku hal itu agar orang tersugesti untuk mampir dan mencoba kuliner dikedainya. “Sate taichan kami ini beda sama resep aslinya, pembuatannya tidak sesuai SOP asli, semacam inovasi lah,” imbuhnya.

Uniknya, Dinda mengaku sampai detik ini justru belum pernah mencicipi resep asli dari sate taichan. Ia mengaku mempelajari secara umum lalu mengkreasikan sendiri dengan bumbu yang ia ciptakan.

“Saya belum pernah makan sate taichan aslinya, cuma pernah coba bumbunya itu nggak cocok di lidah. Akhirnya saya kembangkan sendiri sampai ketemu resep yang sekarang dipakai,” bebernya.

Sebelum memulai kedai permanen di halaman rumahnya, Dinda mengawali bisnis kulinernya dengan bermodalkan gerobak serta mengikuti beberapa event musik di Kota Semarang.

Lama-kelamaan, banyak yang minta untuk segera membuka kedai lantaran mereka merasa cocok dan pas dengan sate taichan yang dibuatnya. Selain itu, harga yang ditetapkan perporsinya pun terbilang murah.

“Awalnya sempat hopeless bisnis ini karena di Semarang kan kuliner udah banyak banget. Tapi ternyata banyak yang cari di luar event, katanya jual dimana pengin beli, dan semacamnya. Akhirnya saya putuskan jualan di rumah,” ujar lulusan SMKN 6 Semarang ini. (tsalisati/zal)