Guru sebagai Ujung Tombak Revolusi Mental

664
Oleh: Eny Sofiana SS
Oleh: Eny Sofiana SS

INDONESIA diperkirakan mengalami masa bonus demografi, yakni penduduk yang berusia produktif lebih banyak pada 2020-2045. Kondisi ini pada satu sisi akan sangat menguntungkan jika produktivitas generasi tersebut dapat diandalkan. Sebaliknya, hal ini  akan menjadi beban bagi bangsa ini jika generasi tersebut tidak dimanfaatkan secara produktif.

Tampaknya gejala yang muncul akhir-akhir ini menunjukkan perkembangan yang negatif yang terjadi pada generasi produktif. Penyalahgunaan narkoba, perampokan, pembegalan bahkan pembunuhan yang sebagian besar  dilakukan oleh anak-anak muda merupakan salah satu indikasinya. Untuk itu, perlu dilakukan langkah-langkah yang terstruktur untuk melahirkan generasi yang berkarakter positif.

Kualitas sumber daya manusia berhubungan dengan kualitas pendidikan, yang artinya  berhubungan dengan nilai  karakter Generasi Emas 2045 yang ditentukan oleh kualitas pendidikan. Negara makmur belum tentu mampu menyelenggarakan pendidikan berkualitas, tetapi pendidikan berkualitas dapat menjamin negara menjadi  makmur.

Menurut Presiden Jokowi, revolusi mental berarti warga Indonesia harus mengenal karakter orisinal bangsa Indonesia, yakni santun, berbudi pekerti, ramah, dan bergotong royong. Karakter tersebut merupakan modal yang seharusnya dapat membuat  rakyat sejahtera. Karakter merupakan pendukung utama dalam pembangunan bangsa.

Bung Karno mangatakan “Bangsa ini harus dibangun dengan mendahulukan pembangunan karakter (character building). Karena character building inilah yang akan membuat Indonesia menjadi bangsa yang besar, maju dan jaya serta bermartabat. Kalau character building tidak dilakukan, maka bangsa Indonesia akan menjadi bangsa kuli” (Soedarsono, 2009:46).

Satu-satunya jalan untuk revolusi sebagaimana yang dimaksudkan itu adalah melalui pendidikan yang berkualitas dan merata, serta penegakan hukum yang tanpa pandang bulu.

Berdasar latar belakang tersebut, maka tak berlebihan bila kita menyebut guru adalah tokoh kunci sukses revolusi mental yang digagas Presiden Jokowi. Revolusi mental memang harus dimulai dari dunia pendidikan dan secara simultan berkembang di bidang-bidang lainnya. Mengapa dunia pendidikan? Setidaknya 18 tahun waktu anak manusia dihabiskan di bangku pendidikan, mulai taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Lembaga pendidikan menjadi “rumah kedua” untuk menempa anak-anak menjadi manusia dewasa yang bermartabat.

Sayangnya, pendidikan yang dijalani selama ini belum sepenuhnya melahirkan manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Akibatnya, sejumlah penyelewengan dalam kehidupan berbangsa masih terjadi hingga saat ini, bahkan cenderung semakin parah.

Di samping penegakan hukum yang masih lemah, penyelewengan tersebut juga terjadi karena sejak lama anak didik di sekolah dan mahasiswa hanya mendapat transfer pengetahuan, tanpa penanaman nilai-nilai luhur kemanusiaan dan kehidupan. Para guru dan dosen hanya mentransfer ilmu, tetapi kurang menanamkan nilai-nilai moral. Kondisi tersebut diperparah oleh orangtua yang sibuk dengan urusan masing-masing, sehingga tak memiliki waktu cukup untuk mendidik anak-anak di rumah. Akibatnya, ketika mereka terjun di rmasyarakat, mereka menjadi individu yang korup, intoleran, dan serakah. Bagi kita, revolusi mental memang harus dimulai dari dunia pendidikan dan guru adalah motor penggerak, sekaligus teladan.

Pembangunan nasional bidang pendidikan merupakan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia serta menguasai iptek dan seni. Guru merupakan tenaga profesional mempunyai fungsi, peran dan kedudukan yang strategis dalam mencapai tujuan nasional pendidikan tersebut. Karena itu, profesi guru harus dihargai dan dikembangkan sebagai profesi yang bermartabat.

Guru sebagai tenaga profesional mempunyai peran dan fungsi yang sangat penting dalam mencapai visi pendidikan nasional 2025, yakni menciptakan insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif. Karena itu, profesi guru harus dihargai dan dikembangakan sebagai profesi yang bermartabat, sebagaimana diamanatkan dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Masyarakat dan pemerintah berkewajiban untuk mewujudkan kondisi yang memungkinkan guru dapat melaksanakan pekerjaannya secara profesional, bukan hanya untuk kepentingan guru, tetapi juga untuk pengembangan peserta didik, dan demi masa depan bangsa Indonesia. (*/aro)