Oleh: Muhammad Saifullah*)
Oleh: Muhammad Saifullah*)

NASIONALISME sering menghadapi banyak tantangan. Pesat demokrasi tidak jarang menyisakan persoalan kebersamaan dan persatuan, kampanye sering menggores isu SARA, dan potensi perpecahan lainnya. Kekhawatiran retaknya nilai-nilai kebangsaan memperoleh perhatian khusus Presiden Jokowi. Ia meminta semua pihak untuk menghentikan pertentangan; “Jangan saling menghujat karena kita ini adalah bersaudara, jangan saling menjelekkan karena kita ini bersaudara, jangan saling menolak karena kita ini bersaudara, jangan saling mendemo, habis energi kita untuk hal-hal yang tidak produktif karena kita adalah saudara sebangsa dan setanah air”.

Ramadlan 1438 H, dapat menjadi renungan bersama untuk merajut kembali semangat kebangsaan. Paham kebangsaan dalam al Qur’an disebut dengan qaumiyah, Para Nabi terdahulu menyeru kepada masyarakatnya dengan “ya qaumi” (wahai bangsaku), walaupun mereka tidak beriman kepada ajarannya. Pengulangan dan seruan dengan kata  qaum  sebanyak 322 dalam al Qur’an menunjukkan bahwa al Qur.an mendukung paham kebangsaan. Al-Qur’an menyebut bahwa Allah Swt menciptakaan laki-laki dan perempuan, dan menjadikan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal (QS  49:13).

Membangun kembali semangat kebangsaan dapat dilakukan melalui pembelajaran sejarah. Bagaimana prilaku Rasulullah Muhammad, para sahabat dan pengikutnya. Nabi Muhammad menyadari bahwa perbedaan agama dan suku bukan menjadi penghalang dalam menciptakan persatuan dan kebangsaan. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Piagam Madinah (Shahifah al-Madinah) mencantumkan tentang Yahudi sebanyak 24 pasal dari total 47 pasal. Di antara isi piagam ini ada yang mengatur tentang kesepakatan bahwa apabila ada musuh yang menyerang Madinah, maka semua wajib saling membantu mempertahankan negeri Madinah, tanpa melihat apapun agamanya. Atas dasar contoh prilaku Nabi saw ini, maka siapapaun, agamam apapu, suku apapaun wajib membela NKRI ketika ada pihak luar yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Kelahiran Pancasila dan UUD 1945 sebagai wujud pengakuan atas semangat kebangsaan dan kedaulatan NKRI. Sejak pasca kemerdekaan RI, kedua dasar ini telah teruji dari gangguan dan provokasi pihak luar. Kini, muncul kekhawatiran retaknya semangat kebangsaan yang disebabkan oleh internal bangsa. Untuk merajutnya dapat dilakukan melalui penerimaan kebhinnekaan, pendidikan kebhinnekaan, dan membiasakan bhinneka.

Pertama,  penerimaan kebhinnekaan yang berbentuk Pancasila merupakan hasil final kesepakatan bersama. Penyusunan sila-sila di dalamnya telah memperhatikan aspek-aspek perbedaan dan semangat rasa persatuan dan kesatuan, dan digali dari nilai-nilai ajaran agama. Untuk itu Pancasila dan UUD 1945 tidak bisa dipertentangan dengan agama karena sudah sejalan dengan agama itu sendiri. Inilah bentuk negara kita dimana negara Indonesia bukan negara agama dan bukan negara sekuler.

Indonesia memiliki keunikan, terutama jika dibandingkan dengan negara-negara berpenduduk mayoritas muslim lainnya. Negara-negara muslim ada yang dideklarasikan sebagai negara Islam, yaitu negara yang secara eksplisit mencantumkan syariah sebagai dasar konstitusi, dan ada yang tidak mencantumkannya, bahkan ada negara yang maoritas penduduknya muslim mencantumkan negaranya sebagai negara sekuler, seperti Turki.

Kedua, menggalakkan pendidikan Kebhinnekaan secara intensif. Islam mengajarkan bahwa manusia diciptakan berbeda jenis kelamin dan suku untuk saling mengenal. Dengan saling mengenal, seseorang akan bisa saling mengerti, memahami, dan menghormati karena mereka hakekatnya adalah berbeda. Namun karena ada kepentingan yang sama, maka mereka bersatu padu dan mengikatkan diri dalam persatuan dan kesatuan. Pendidikan kebhinnekaan yang tempo dulu diajarkan melalui P4 kepada siswa, mahasiswa, dan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) perlu reingkarnasi dalam bentuk yang inovatif agar menarik. Seperti slogan: “Saya Indonesia, Saya Pancasila”  mudah dikenal dan diingat sebagai bentuk komitmen terhadap Pancasila.

Ketiga, membiasakan bhinneka dalam kehidupan bermasyarakat. Perbedaan agama dan suku jangan menjadi penghalang dalam kehidupan bermasyarakat. “Bagimu Agamamu  dan Bagiku Agamaku” adalah slogan kebhinnekaan. Dalam urusan ibadah, setiap pemeluk agama wajib melaksanakan ajarannya dan tidak boleh ajaran agama dipaksakan terhadap pemeluk agama lain. Dalam bermuamalah, seperti bekerja, jual beli dan bertetangga, agama tidak perlu menjadi pembatas dalam berinteraksi, misalnya pembeli yang agamanya muslim wajib membeli barang (penjual) yang beragama muslim. (*/smu)