Oleh: Agus Prayogo *)
Oleh: Agus Prayogo *)

PENGGUNAAN bahasa yang kasar dan menyerang pihak-pihak tertentu, telah menjadi trend diĀ  internet dan media sosial. Hal ini seolah telah mengubah karakter bangsa yang selama ini dikenal ramah dan santun. Tentu keadaan ini sangat bertolak belakang dengan jati diri bangsa Indonesia.

Bahasa, pada hakikatnya adalah realisasi dan ekspresi dari ideologi, budaya, dan situasi dari suatu komunitas atau bangsa. Dengan kata lain, bahasa secara tidak langsung merupakan salah satu simbol jati diri atau identitas suatu bangsa. Tidak berlebihan dikatakan bahwa hilangnya suatu bahasa akan diikuti dengan hilangnya khazanah ideologi, budaya, dan situasi dalam bahasa tersebut, sekaligus penanda hilangnya identitas atau jati diri penutur bahasa itu.

Penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi memungkinkan seseorang atau komunitas untuk mengungkapkan ide, gagasan, dan ekspresi yang dimiliki. Meskipun media sosial merupakan bagian dari dunia maya, tetapi fakta di lapangan menunjukkan bahwa jutaan konten yang tersebar telah mampu mengubah sudut pandang seseorang atau suatu masyarakat. Bahkan, dengan kuantitas konten dan pengguna yang sangat besar tersebut, media sosial mampu mewakili citra sebuah bangsa. Tentu hal ini harus menjadi perhatian serius kita semua.

Kebebasan mengemukakan pendapat dan menyampaikan informasi, khususnya di media sosial, dewasa ini tidak diiringi dengan keasadaran dan kehati-hatian dalam penggunaan bahasanya. Kondisi ini sungguh memprihatinkan karena dapat memicu gesekan-gesekan serta mempertajam perbedaan yang ada di masyarakat. Penggunaan dan pengelolaan bahasa yang digunakan dalam mengemukakan pendapat berpengaruh pada tingkat reaksi masyarakat yang membacanya.

Konten bahasa yang provokatif tentu mendapat respon yang lebih beragam dari masyarakat. Perasaan tersinggung, was-was, dan tersakiti adalah respon umum yang muncul dari kondisi tersebut, sehingga cenderung memicu reaksi yang berlebihan dari pembacanya. Tidak jarang, media sosial hanya berisi hinaan, hujatan, kebencian serta fitnah yang berujung saling lapor kepada pihak yang berwajib. Hal ini tentu sangat berbahaya, tidak hanya bagi keharmonisan hubungan antar personal masyarakat, tetapi juga bagi keutuhan persatuan kesatuan bangsa dan negara.

Tepat kiranya jika kita jadikan puasa di bulan Ramadhan ini sebagai ajang melatih diri dalam mengimplementasikan nilai-nilai luhur seperti muhasabah dan pengendalian diri. Muhasabah merupakan upaya evaluasi diri terhadap kebaikan dan keburukan beserta semua aspeknya. Aspek ini bukan hanya yang bersifat vertikal, hubungan antara hamba dan Allah, melainkan juga yang bersifat horisontal atau hubungan antar sesama manusia.

Dalam berinteraksi, khususnya di media sosial, kita akan berada pada dua posisi yang berbeda. Adakalanya kita merupakan pihak yang menerima informasi, namun adakalanya kita merupakan pihak yang membagikan informasi. Muhasabah sangat penting ketika kita memainkan dua peran di atas. Sebagai pihak yang membagi informasi, kita perlu mempertimbangkan beberapa aspek, baik terkait apa yang kita sampaikan maupun bagaimana kita menyampaikan. Mengutamakan penggunaan bahasa yang baik melalui pilihan kata yang baik merupakan bagian dari nilai dan jati diri bangsa. Konten tentang hal-hal terlarang, baik secara norma, agama, dan peraturan perundangan yang berlaku harus kita jauhi. Hal ini selaras dengan perintah Allah SWT untuk bertutur kata yang baik, benar, dan menghindari prasangka, yang tertuang dalam surat Al-Ahzab: 70-71 dan Al-Hujurat: 12.

Setelah aspek kebaikan terpenuhi, kita harus mempertimbangkan aspek kebermanfaatan dan akibat. Aspek kebaikan dan manfaat akan menambah nilai dari konten yang kita sampaikan, yaitu nilai duniawi dan ukhrawi. Sebaliknya, jika konten yang kita bagi ternyata kurang memberi manfaat bahkan membawa dampak negatif tentu akan menimbulkan permasalahan bahkan konflik.

Puasa mengajarkan kita untuk menahan diri dari lapar, dahaga, dan hawa nafsu. Pengendalian diri (self control) ini merupakan usaha seseorang dalam mengerahkan segala kemampuan dan kesungguhan hati untuk menahan diri dari segala yang dilarang. Dalam bermuamalah, kita harus selalu mengedepankan sikap ini, begitu juga dalam berinteraksi di media sosial. Dengan begitu, dalam menerima informasi, kita tidak akan mudah terprovokasi ketika konten yang kita terima berisi hasutan, kebencian atau hal-hal lain yang tidak baik. Sebaliknya, kita juga tidak akan mudah terprovokasi untuk melakukan balasan terhadap konten tersebut.

Muhasabah dan pengendalian diri merupakan kombinasi sikap dan nilai yang akan membentuk pribadi yang mawas diri dan saleh dalam bermuamalah, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Implementasi nyata dari pengamalan sikap ini adalah berkurangnya bahasa kebencian dan fitnah, serta berkurangnya respon negatif terhadap informasi yang dibagikan. Dengan keadaan ini, bahasa yang mengandung nilai kesantunan dan kedamaian semakin terbumikan dalam setiap interaksi kita. Hal ini akan semakin memperteguh jati diri kita sebagai seorang muslim sekaligus sebagai bangsa. (*/smu)