Jadi Jujukan Wisatawan, Diyakini Peninggalan Diponegoro

Mengunjungi Masjid An Nur Menyanan di Kawasan Pecinan Semarang

708
CAGAR BUDAYA: Papan nama menuju Masjid An Nur Diponegoro. (kanan) Kubah masjid yang masih tetap dipertahankan. (FOTO-FOTO: AHMAD ABDUL WAHAB/JAWA POS RADAR SEMARANG)
CAGAR BUDAYA: Papan nama menuju Masjid An Nur Diponegoro. (kanan) Kubah masjid yang masih tetap dipertahankan. (FOTO-FOTO: AHMAD ABDUL WAHAB/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Di tengah permukiman warga keturunan Tionghoa di kawasan Pecinan, Semarang Tengah, berdiri Masjid An Nur Menyanan. Masjid yang kaya akan sejarah ini diyakini sebagai peninggalan Pangeran Diponegoro.

AHMAD ABDUL WAHAB

MASJID An Nur atau warga sekitar menyebutnya Masjid An Nur Diponegoro. Menurut kepercayaan warga sekitar, dulunya bangunan itu menjadi saksi bisu Pangeran Diponegoro singgah di tengah pelariannya ratusan tahun lalu.

Meski kini bangunan masjid sudah bertingkat, namun kubah masjid yang berjumlah dua tetap saja tak terlihat dari kawasan Jalan Beteng yang menjadi lokasi di mana masjid tersebut bernaung. Sebab, bangunan yang dipercaya didirikan sekitar abad 16 itu terimpit di pojokan di antara toko, dan menjulangnya bangunan milik warga.

Di sisi lain, deretan kelenteng-kelenteng kian menyamarkan masjid yang sudah ditetapkan Pemkot Kota Semarang sebagai cagar budaya sejak 4 Februari 1992 lalu itu. Sedangkan satu-satunya petunjuk bagi jamaah yang hendak melaksanakan ibadah di tempat itu adalah sebuah papan reklame berukuran sedang di pojokan Gang Jalan Beteng No 309.

Kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (7/6), Takmir Masjid An Nur Diponegoro, Sumarno, mengatakan, meskipun berkamuflase dengan bangunan lain, namun masjid selalu ramai oleh jamaah terlebih selama bulan puasa ini.

Alhamdulillah tak pernah sepi, selama Ramadan kegiatan seperti di masjid lainnya. Mulai salat tarawih, tadarus Alquran hingga berbuka bersama,”ujarnya setelah menunaikan salat Ashar.

Dikatakan, meskipun menjadi tempat ibadah bagi kaum muslim, namun tak sedikit jamaah yang hadir dari luar daerah. Uniknya, beberapa wisatawan mancanegara turut singgah kendati hanya berkunjung sesaat.

”Selama 10 tahun menjadi takmir masjid, tak jarang dikunjungi wisatawan asal Korea dan Jepang, karena terheran-heran melihat ada masjid di kompleks warga Tionghoa,” tuturnya.

Terkait asal usul masjid An Nur yang selalu identik dengan Pangeran Diponegoro, Sumarno tak berani berkomentar lebih jauh karena tidak ditemukannya bukti otentik seperti pusaka keris yang sering digembar-gemborkan itu. Namun dirinya tak menampik jika bangunan memang sudah berumur lama.

”Hingga sekarang saya pun masih mencari kebenaran hal itu. Meskipun dulu pernah diperlihatkan oleh salah satu keturunan penemu masjid, yakni anak dari Kiai Mashud, sebuah foto yang menunjukkan adanya keris dan sebuah tempat sujud yang cekung di bagian dahi peninggalan Diponegoro,” katanya.

Sejak ditemukan pada 1965, masjid yang dulunya hanya berupa surau dengan ukuran kurang lebih 3×3 meter persegi itu sudah beberapa kali mengalami renovasi, yakni pada 1993 dan 2013 hingga sekarang. Kini yang tersisa hanyalah sebuah atap kerucut yang tetap dipertahankan sebagai simbol masjid.

”Masjid sendiri ditemukan oleh Kiai Mashud melalui mimpi di mana letak rumah beliau dan masjid tak begitu jauh. Masjid berada di Kampung Menyanan Kecil, sedang letak rumah Kiai Mashud bertempat di Kampung Menyanan Besar. Setelah itu, masjid diperluas hingga bertingkat seperti sekarang,” ujar ayah satu anak ini.

Tak banyak harapan yang diutarakan Sumarno. Ia hanya mewanti-wanti agar masjid untuk selalu dipertahankan hingga berpuluh-puluh tahun ke depan. ”Tidak ada yang tahu ke depan seperti apa, takutnya nanti akan muncul pihak yang saling mengklaim. Semoga saja tidak,”katanya.

Salah satu jamaah yang juga Babinkamtibmas Semarang Tengah, Aiptu Tugiman, mengatakan, berdirinya Masjid An Nur merupakan salah satu indikator toleransi agama antarwarga di Kawasan Pecinan.

”Ketika salat Jumat, toko aki milik warga Tionghoa yang berada di depan masjid akan menutup lapak usahanya. Tak hanya itu, jamaah pun akan membeludak hingga ke pelataran toko tersebut,” ujarnya. (*/aro/ce1)