TOLERANSI: Sinta Nuriyah saat menyampaikan tausiyah kebangsaan di Masjid Roudlotul Jannah Dusun Kuncen Desa Bandran Kecamatan Kranggan Temanggung, Senin (5/6) sore. (AHSAN FAUZI/JAWA POS RADAR KEDU)
TOLERANSI: Sinta Nuriyah saat menyampaikan tausiyah kebangsaan di Masjid Roudlotul Jannah Dusun Kuncen Desa Bandran Kecamatan Kranggan Temanggung, Senin (5/6) sore. (AHSAN FAUZI/JAWA POS RADAR KEDU)

TEMANGGUNG – Nyonya Sinta Nuriyah Wahid, istri Presiden RI ke-4 (alm) Abdurrahman Wahid alias Gus Dur berbuka puasa bersama warga Temangggung, Senin (5/6) sore. Buka bersama dengan tokoh dan umat lintas agama, dilaksanakan di Masjid Roudlotul Jannah, Dusun Kuncen, Desa Bandran, Kecamatan Kranggan, Kabupaten Temanggung.

Sebelum berbuka puasa, jamaah dihibur pementasan grup rebana Wahyu Ilahi Polres Temanggung yang semua pemainnya para Polwan cantik. Setelah itu, dilanjutkan tausih kebangsaan oleh Ny Sinta Nuriyah Wahid.

Dalam tausiahnya, Sinta menyampaikan pentingnya menjaga Bhinneka Tunggal Ika. Menurut Sinta, dalam Bhinneka Tunggal Ika, terdapat kemajemukan pada masyarakat Indonesia. Baik itu perbedaan agama, adat, suku, bahasa, maupun budaya. Oleh karena itu, meski berbeda, namun hakikatnya semua adalah bersaudara yang tidak boleh saling melontarkan hinaan, hujatan, fitnah, dan permusuhan.

“Semua elemen bangsa yang berbeda, wajib saling menghormati, menghargai, mengasihi, tolong-menolong dan bersama-sama berkomitmen untuk menjaga kerukunan, demi tegaknya NKRI,” ucap Sinta.

Sinta mengaku prihatin dengan kondisi maupun dinamika bangsa yang terjadi belakangan ini. Mulai kekerasan, intoleransi, hingga radikalisme yang bahkan telah merangsek ke anak-anak. Atas dasar itu, Sinta meminta agar pelajaran yang menyangkut kebangsaan, toleransi, dan kerukunan dikembalikan ke sekolah-sekolah dan ranah keluarga. “Sudah saatnya pelajaran moral, toleransi, dan kerukunan dikembalikan ke sekolah dan keluarga. Tujuannya, agar anak-anak kembali belajar tentang nilai-nilai tersebut.”

Kenapa keluarga? menurut Sinta, keluarga punya peran penting dalam membentuk karakter dan moral anak. Nilai-nilai moral juga perlu digaungkan kembali melalui berbagai perkumpulan di lingkungan sekitar, seperti PKK. Sebagaiamana tercantum dalam 10 program pokok PKK.

Kapolres Temanggung AKBP Maesa Soegriwa berpendapat, agar tidak mudah disusupi paham radikal dan intoleran, anak-anak perlu diberi ruang untuk berkumpul dan aktif dalam berbagai kegiatan positif. Seperti bermain sepak bola, Pramuka, dan kegiatan positif lainnya.

“Jika hanya disuruh belajar dan mengikuti berbagai les saja memang anak-anak pintar dalam pelajaran. Namun, mereka akan mudah diajak untuk terlibat dalam kegiatan yang membahayakan dan disisipi paham radikal. Mereka juga mudah digerakan untuk melakukan kekerasan.”

Maesa mengajak semua pihak untuk menangkal paham-paham radikal serta terorisme. Harapannya, keutuhan Pancasila dan NKRI terus terjaga. “Awas, hati-hati dengan doktrin-doktrin sesat yang terus berkembang termasuk lewat media sosial.” (san/isk)