Sediakan 5 Kamar Operasi Berteknologi Canggih

1237
RSUD K.R.M.T. Wongsonegoro Semarang
RSUD K.R.M.T. Wongsonegoro Semarang
RSUD K.R.M.T. Wongsonegoro Kota Semarang baru saja mendapat penghargaan Anugerah Jawa Pos Radar Kedu-Radar Semarang 2017 untuk kategori Regional Hospital Implementing IOTS System. Direktur RSUD K.R.M.T Wongsonegoro, dr Susi Herawati berkenan menerima penghargaan tersebut dari manajemen Jawa Pos Radar Semarang-Radar Kedu di Semanggi Ballroom Artos Hotel and Convention Magelang pada Selasa (23/5) malam lalu.
RSUD K.R.M.T Wongsonegoro atau sering disebut sebagai RSUD Ketileng, tidak pernah berhenti melakukan terobosan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Dengan peralatan modern yang terintegritasi dengan komputerisasi, RSUD Wongsonegoro Kota Semarang saat ini sudah menjadi salah satu RSUD termodern di Jawa Tengah.
RSUD K.R.M.T Wongsonegoro mampu mengoperasikan lima kamar operasi menggunakan sistem integrasi teater atau Integrated Operation Theatre System. RSUD ini diklaim yang kali pertama menerapkan Integrated Operation Theatre System di Indonesia. Lima kamar IOTS berada di gedung Bedah Sentral.
Dirut RSUD K.R.M.T Wongsonegoro, dr Susi Herawati menyampaikan, untuk masuk ke kamar yang dimaksud, harus steril. Beberapa prosedur harus dijalani sebelum memasuki ruangan. Salah satunya, wajib memakai pakaian khusus seperti pakaian dokter yang akan mengoperasi pasien. Baju dan celana panjang warna hijau dilengkapi penutup kepala berwarna sama. “Juga diwajibkan memakai masker penutup mulut. Sepatu pun juga harus dilepas dan diganti sepatu khusus.”
Perempuan murah senyum itu menyampaikan, penggunaan IOTS sesuai standar Peraturan Menteri Kesehatan Nomor. 1204/Menkes/SK/X/2004. Menurut Susi, jika dibandingkan dengan rumah sakit di Singapura, sistem ini hampir sama. Artinya, dengan sumber daya manusia yang sudah berkompeten untuk menangani pasien, maka cukup ke Semarang saja, tidak perlu lagi ke Singapura.
Dikatakan, beberapa keunggulan dengan kamar operasi IOTS yakni AC Central (AHU System), ada sistem sirkulasi udara dengan udara bersih (fresh air), dilengkapi penyaring kuman/bakteri (HEPA Filter). “Salah satu persyaratan OK (Operasi Kamar) yakni ruangan harus nol kuman. IOTS ada return air untuk membuang gas, bakteri atau kuman ke luar. OK lama tidak ada penyaring kuman atau bakteri dan return air sehingga dimungkinkan kuman masih banyak di dalam OK.”
Dinding dan lantai kamar operasi juga terbuat dari vinyl anti bakteri. Dikatakan, ada dua OK, yakni OK 3 dan 4 yang memiliki keunggulan pada dinding lebih sensitif pencegahan kumannya. “Dua OK ini digunakan untuk operasi-operasi yang membutuhkan tindakan lebih.”
Selain itu, ada kontrol panel untuk memonitor waktu, suhu, kelembaban, dan tekanan gas medis. Kontrol panel sekaligus untuk mengontrol lampu ruangan, lampu operasi, film viewer, dan AHU. Keunggulan lain, proses pembuangan limbah menggunakan pass box, sehingga otomatis tanpa antarpetugas. Artinya, serah terima linent atau instrumen kotor langsung masuk sampah. “Tidak perlu petugas dari luar mengambil sehingga tidak sampai terkontaminasi untuk mengurangi kontak udara atau petugas.”
Pintu ruangan menggunakan pintu geser otomatis sensor. Sehingga tidak kontak langsung dengan pintu untuk pencegahan penularan penyakit. Khusus operator juga disediakan kamera untuk memudahkan kegiatan operasi. “Semua komputerisasi sehingga mempercepat dan mempermudah operator melakukan tindakan. Dan paling membanggakan yakni sistem ini dikerjakan oleh anak bangsa, tidak impor,” kata dr Susi Herawati.” Untuk mendukung sistem IOTS, tahun depan juga akan didirikan bangunan baru. “Saat ini masih ada dua ruangan yang menggunakan sistem lama. Akan kami ganti dan pindah ke bangunan bedah sentral IOTS terpadu tahun depan. Satu kamar IOTS membutuhkan anggaran Rp 2,3 miliar.” (*/isk)