Drs. Muhammad Albar MM
Drs. Muhammad Albar MM
Muhammad Albar, lahir dari desa di lereng Dieng. Tepatnya, di Desa Tieng, Kecamatan Kejajar. Gus Albar—sapaan intimnya— saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Kabupaten Wonosobo periode 2014-2019.
Albar menyelesaikan pendidikan sarjana di Fakultas Dakwah dan Penyiaran IAIN Walisongo Semarang lulus pada 1991. Kemudian, mengabdi sebagai guru di Madrasah Tsnawiyah Maarif NU Kejajar, hingga menjadi kepala sekolah.
Pria kelahiran Wonosobo 20 Mei 1965 ini, memulai karir di dunia politik sejak era reformasi 1999, terpilih menjadi anggota DPRD Wonosobo dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Pada 2004, kembali terpilih dan menempati jabatan sebagai ketua komisi B. Pada 2014, kembali terpilih dan menjadi Wakil Ketua DPRD Wonosobo hingga sekarang.
Suami dari Chusniatul Mukminah ini dikenal publik Wonosobo sebagai politisi bersahaja. Berkali-kali terpilih sebagai pejabat publik, toh Albar selalu tampil sederhana. Meski punya mobil dinas, Albar justru kerap “ngangkot” alias menumpang minibus, uyel-uyelan dengan warga. “Ya, dengan bareng di bus, dengan warga, saya jadi merasakan sebagai rakyat, karena memang saya rakyat,” katanya.
Keberpihakan Albar dengan rakyat, sangat tampak sejak masuk dunia legislatif. Pada periode 1999-2004, misalnya, Albar salah satu pengawal Raperda tentang Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat. Raperda tersebut menjadi salah satu referensi pengelolaan hutan. Saat ini, Albar tengah mendorong Pemkab Wonosobo untuk memenuhi pendidikan khusus kepada anak difabel. “Pemkab Wonosobo harus melayani dan memenuhi hak anak anak difabel. Kalau tidak, sangat berdosa.”
Ayah satu anak ini mengatakan, menjadi politisi merupakan pekerjaan mulia. Karena dengan menjadi politisi, memungkinkan bekerja untuk orang lebih banyak dan menjadi bagian dalam mendistribusikan keadilan. “Politisi sangat mulia, karena harus jujur, harus mampu bekerja dan bermanfaat untuk rakyat,” kata ayah dari Indah Amalia Sholihah ini.
Peraih gelar magister dari STIE Widya Wiwaha Jogjakarta ini mengatakan, dengan menjadi politisi, memungkinkan dia bekerja lebih luas dalam membantu orang lain. Menjadi politisi juga banyak tantangan, karena harus selalu menyediakan waktu untuk rakyat. Harus memiliki kepekaan perasaan terhadap nasib yang dihadapi oleh rakyatnya. “Menjadi politisi itu tidak mudah, butuh kekuatan iman, kekuatan kejujuran, dan kekuatan untuk selalu mendasarkan kepada Allah,” pungkasnya. (ali/isk)