33 C
Semarang
Senin, 25 Mei 2020

Idamkan Rumah Tongkonan

Must Read

Memungut Keteladanan sang Kakak untuk Kejar Impian Kesuksesan (4)

Mamiek Prakoso yang pintar ngomong jadi motivator bagi sang adik yang pendiam, Didi Kempot. Hubungan keduanya dekat, meski Didi...

Di Bus Kota Nyanyi Lagu Indonesia, di Bus AKAP Lagu Jawa (3)

Bahkan saat mulai awal mengamen di Solo pun, Didi Kempot sudah membawakan lagu ciptaan sendiri, Cidro salah satunya. Suaranya...

Mengenang Didi Kempot: Balik Solo, Jual Sepeda, Beli Gitar (2)

Selain supaya bisa bersekolah lagi, Didi Kempot dititipkan ke sang pakde yang personel militer agar tidak mbeling. Di Samarinda bakat...

SAAT ini, Anastasya Kenik Widya masih tercatat sebagai mahasiswi semester 8 Fakultas Arsitektur Unika Soegijapranata Semarang. Ia memiliki angan-angan memiliki rumah modern gaya tradisional.

Menurut gadis yang akrab disapa Tasya ini, rumah tradisonal yang paling diidamkannya adalah rumah tongkonan asal Toraja, Sulawesi Selatan. Alasannya, karena atap rumah tersebut sangat cocok untuk diaplikasikan ke rumah modern. ”Atap rumah tongkonan itu unik, karena bentuknya seperti tanduk kerbau,” kata Tasya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (6/6).

Putri ketiga dari tiga bersaudara pasangan Markur Ungsiono dan almarhumah Yuliana Endang ini menilai konsep rumah tongkonan memiliki keunikan, sehingga memiliki daya tarik tersendiri. Keunikan tersebut, menurutnya, ada pada letak atap rumah yang terbalik. Tidak seperti atap rumah pada umumnya yang letak pandangan atap  menghadap ke depan.

”Bagian samping atap menjadi fasad yang ditampilkan secara atraktif dan dramatis. Rumah togkonan sangat unik dan cantik. Makanya saya ingin mempunyai rumah modern berkonsep atap tongkonan,” ujarnya.

Mahasiswi kelahiran 29 Oktober 1994 ini, mengaku mulai berangan-angan memiliki rumah modern berkonsep tradisional berawal dari seringnya melakukan memory visual (pengamatan langsung) di luar jam kampus.

”Dosen saya sering mengajak mahasiswanya kuliah lapangan. Dari situlah saya tahu kelebihan dari rumah tradisional,” kata gadis yang hobi renang dan traveling ini.

Bagi Tasya, rumah berkonsep tradisional memiliki  keunggulan tersendiri, yakni pada bangunan dengan ekologis mandiri. Menurutnya, bangunan tradisonal, konsep sistem sirkulasi udaranya tidak terlalu bergantung AC, sehingga memberikan rasa nyaman yang alami.

”Tapi keinginan memiliki rumah konsep tersebut memang masih sebatas angan, nanti kalau Tuhan memberi rezeki, akan saya wujudkan, bagaimanapun saya cinta atap rumah nusantara,” ujarnya. (jks/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Memungut Keteladanan sang Kakak untuk Kejar Impian Kesuksesan (4)

Mamiek Prakoso yang pintar ngomong jadi motivator bagi sang adik yang pendiam, Didi Kempot. Hubungan keduanya dekat, meski Didi...

Di Bus Kota Nyanyi Lagu Indonesia, di Bus AKAP Lagu Jawa (3)

Bahkan saat mulai awal mengamen di Solo pun, Didi Kempot sudah membawakan lagu ciptaan sendiri, Cidro salah satunya. Suaranya yang merdu dan karakternya yang...

Mengenang Didi Kempot: Balik Solo, Jual Sepeda, Beli Gitar (2)

Selain supaya bisa bersekolah lagi, Didi Kempot dititipkan ke sang pakde yang personel militer agar tidak mbeling. Di Samarinda bakat musiknya mulai terasah, juga kegemarannya...

Dari Cidro sampai Ojo Mudik: Mengenang Hidup dan Karir Didi Kempot (1)

Dengan segala popularitasnya, Didi Kempot tak pernah repot dengan riders tiap kali manggung. Meninggalkan satu lagu lagi bertema virus korona. ANTONIUS CHRISTIAN, Solo-DUWI SUSILO, Ngawi, Jawa...

Utang Besar

Kalau diterjemahkan, nama perusahaan ini berarti 'sejahtera'. Di Singapura ia didaftarkan dengan nama Hin Leong Trading Ltd --bahasa daerah Hokkian, tempat lahir pendiri perusahaan...

More Articles Like This