Cara Mengqodho’ Puasa Ramadan Ibu Nifas

2165

Assalamu’alaikum Bapak Dr. KH. Ahmad Izzuddin, M. Ag di Radar Semarang yang saya hormati dan dimuliakan oleh Allah swt. Mau bertanya pak Ustadz, bagaimana cara mengqodho’ puasa Ramadan bagi ibu yang nifas dan apakah membayar fidyah juga?  Terima kasih atas penjelasan dan jawaban bapak. Wassalamu’alaikum Warahmatullah.

Rifa’i di Semarang 089668835384

Jawaban:

Wa’alaikumussalam Warahmatullah Bapak Rifa’i di Semarang yang saya hormati dan juga dirahmati Allah swt. Wanita yang melahirkan disebut juga dengan wanita nifas. Karena nifas secara bahasa maknanya adalah melahirkan. Sedangkan secara terminology  adalah darah yang keluar dari  Rahim karena sebab melahirkan. Wanita yang sedang haidh dan nifas tidak boleh puasa, baik puasa wajib maupun puasa sunnah, dan para ulama sudah sepakat dalam masalah ini. Imam ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan “Hukum wanita nifas sama halnya dengan hukum wanita haidh dalam seluruh perkara yang diharamkan dan kewajiban yang gugur bagi  mereka”.

Cara wanita nifas dalam mengganti puasa sama dengan cara wanita haidh. Dengan demikian wanita yang nifas wajib mengganti puasa (qodho’), dan tidak boleh membayar hutang puasanya dengan memberi makan fakir miskin (fidyah). Akan tetai umumnya wanita yang melahirkan mereka juga langsung menyusui anaknya. Dan wanita yang menyusui boleh tidak puasa serta wajib mengganti puasanya dengan mengqodho’ atau membayar fidyah. Sehingga dalam diri wanita yang melahirkan terkumpul dua keadaan; pertama, keadaan nifas, ini disebut keadaan yang menghalangi dan melarang. Kedua, keadaan menyusui, ini yang disebut dengan keadaan yang membolehkan untuk berbuka puasa. Dan para ulama telah menjelaskan jika berkumpul antara keadaan yang melarang dan keadaan yang membolehkan maka keadaan yang melarang itulah yang dimenangkan. Maka wanita yang melahirkan wajib mengqodho’ puasanya dan tidak boleh membayar dengan fidyah.

Masa yang disediakan untuk melakukan penggantian atau qodho’ terbentang sejak tanggal 2 Syawwal sampai tanggal 29 atau 30 Sya’ban tahun berikutnya. Sebelas bulan penuh, yaitu dihari-hari di mana seorang wanita sedang dalam keadaan suci, lepas dari haidh atau nifas. Bahkan dibolehkan untuk menggantinya secara satu-persatu, tidak harus berurutan. Yang penting jumlah harinya sama dengan jumlah hari yang ditinggalkan.

Demikian jawaban yang dapat saya sampaikan semoga ada manfaatnya dan barokah. Amin. Wallahu a’lam bishshowab. (*/smu)