Warga Protomulyo Tuntut Ganti Rugi Tol

520
BERTAHAN: Warga Desa Protomulyo yang terdampak tol memilih bertahan lantaran belum menerima uang ganti rugi dan masih melakukan kativitas seperti biasa di tengah proses pembangunan jalan tol. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERTAHAN: Warga Desa Protomulyo yang terdampak tol memilih bertahan lantaran belum menerima uang ganti rugi dan masih melakukan kativitas seperti biasa di tengah proses pembangunan jalan tol. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KENDAL—Sejumlah warga di Desa Protomulyo, Kecamatan Kaliwungu Selatan (Kalsel) yang terdampak jalan tol menuntut ganti rugi agar segera dibayarkan. Pasalnya aktivitas pengerjaan tol oleh PT Waskita telah dimulai, sementara ganti rugi berupa lahan dan bangunan belum diterima.

Meski proyek sudah berjalan, warga yang belum menerima ganti rugi enggan pindah. Alhasil, warga merasa dirugikan dan resah karena setiap hari harus terganggu dengan polusi pembangunan tol. Yakni polusi udara karena banyaknya debu, polusi suara dari alat berat yang digunakan.

Bahkan warga mengeluhkan akibat dimulainya proyek mengkiabtkan rumah warga dilanda banjir karena saluran air yang sudah tertutup. Sehingga saat hujan turun, air yang tidak bisa mengalir membanjiri rumah warga.

Saifudin, 42, warga RT 02 RW 08 Desa Protomulyo menjelaskan dari 227 warga di Protomulyo yang tedampak tol, baru 97 yang sudah menenerima ganti rugi. Sedangkan 130 sisanya hingga kini belum jelas kapan akan menerima ganti rugi.

“Sementara proyek sudah dimulai, tapi warga belum menerima ganti rugi. Akibatnya warga yang tetap bertahan harus dirugikan karena rumah mereka kebanjiran dan setiap hari terkena polusi,” keluhnya, kemarin (5/6).

Keluhan serupa dikatakan Abadi, 40 dan Siti Jumilah, 35. Kedua suami istri ini mengaku anaknya yang masih kecil harus beberapa akhir ini mengalami sesak nafas dan batuk kering akibat debu dari proyek tol. “Sudah saya kasih berbagai macam obat, tapi tak juga sembuh,” katanya.

Ia menjelaskan, jika warga sudah menyerahkan seluruh berkas kepemilikan tanah dan bangunan kepada Badan Pertanahan Negara (BPN) Kendal selaku tim pembebasan lahan tol. Hal itu setelah adanya kesepakatan harga ganti rugi antara tim pembasan lahan dengan warga.

“Kami sudah menanyakannya ke BPN, tapi tidak mendapatkan jawaban pasti kapan akan dibayar. Jadi kami bingung, harus mengeluh pada siapa lagi. Kami juga tidak mungkin menghentikan pelaksana proyek,” tuturnya.

Jumilah, 50 warga lainnya mengatakan jika dirinya tetap bertahan di rumahnya, meski pekerjaan pembangunan jalan tol batang semarang sudah dilakukan. Ia bersama warga terdampak tol lainnya memasang spanduk bertuliskan tuntutan agar ganti rugi agar segera dibayarkan.

Ia mengaku, jika dirinya maupun warga lainnya sudah siap direlokasi ke tempat lain. Bahkan warga sudah menentukan lokasi yang nantinya akan dibangun tempat tinggal. “Warga sudah hutang ke bank untuk membeli lahan. Namun hingga kini pembayaran ganti rugi tidak segera dicairkan,” tuturnya.

Ditambahkanya, jika  warga tidak menolak pembangunan jalan tol ini namun ingin janji dari BPN agar ganti rugi segera dilunasi. “BPN menjajikan awal tahun mau dibayarkan, tapi sampai sekarang belum juga dibayar. Padahal warga  tidak mempermalasahkan nilai gantiruginya,” tambahnya.

Menanggapi hal tersbeut, Koordinator Pelaksana Lapangan pembanguan tol di Desa Protomuylyo dari PT Waskita, Ernantyo Nugroho mengatakan dirinya hanya melaksanakan perintah atasan saja untuk mengerjakan titik-titik yang sudha dibebaskan. (bud)