SERBU PASAR MURAH: Ratusan Warga Plamongan Sari mengantre di Masjid Pondok Pesantren Darull Masoleh untuk mendapatkan sembako murah, kemarin. (DIAZ AZMINATUL ABIDIN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SERBU PASAR MURAH: Ratusan Warga Plamongan Sari mengantre di Masjid Pondok Pesantren Darull Masoleh untuk mendapatkan sembako murah, kemarin. (DIAZ AZMINATUL ABIDIN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Warga RT 2-3 RW 7 Dukuh Kedung Blancir, Kelurahan Plamongan Sari Semarang antusias mengantre untuk mendapatkan 500 bungkus sembako murah seharga Rp 50 ribu. Sejak pukul 09.00 WIB pagi, ratusan warga yang mayoritas ibu-ibu mendatangi pasar murah di masjid Pondok Pesantren Darull Masoleh setempat yang diadakan oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag), Senin (5/6) kemarin.

Masyarakat setempat dibagikan kupon senilai Rp 50 ribu, kemudian ditukarkan dengan paket sembako berisikan 2 liter minyak goreng, 2 kilogram gula pasir, 2 kilogram tepung terigu, 1 botol sirup, serta 2 kilogram beras.

”Hasil penjualan tersebut akan disumbangkan kepada Pondok Pesantren Darull Masoleh,” terang Staf Khusus Menteri Perdagangan Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Peningkatan Sarana Perdagangan, Eva Yuliana.

Ia menerangkan, kegiatan pasar murah Ramadan ini dilakukan di 150 kota/kabupaten se-Jawa dan Madura. Di mana Kota Semarang menjadi lokasi pertama. Adapun pasar murah dilakukan di setiap pondok pesantren yang dipilih di setiap wilayah.

”Kegiatan di bulan suci Ramadan 2017 ini sebetulnya ajang berbagi dengan sesama. Di mana kita harus menjadi manusia yang bermanfaat. Dalam hadis kan dikatakan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah orang yang bermanfaat untuk sesama,” ujarnya. Kegiatan yang baru kali pertama diselenggarakan oleh Kemendag ini juga dilakukan di seluruh Indonesia.

Dalam pasar murah itu, Kemendag menggandeng sejumlah pengusaha untuk program charity. Diakui, pihaknya menggandeng banyak pengusaha untuk bergabung. ”Pada intinya kami ingin memberikan sesuatu yang bermakna untuk masyarakat dan juga pesantren, dari kita untuk kita lagi. Semoga kegiatan ini memberikan manfaat yang lebih besar untuk semua pihak,” imbuhnya.

Pengurus Pesantren Darull Masoleh, Ahmad Munawir Masruri mengatakan, 90 persen penduduk di lingkungannya merupakan masyarakat berkategori ekonomi menengah ke bawah dengan profesi antara lain seperti buruh, sopir, serta pembuat bata merah di Kali Babon. ”Sumbangannya akan kami gunakan untuk renovasi pondok. Karena sudah sejak lama pondok membutuhkan renovasi,” terangnya. (dan/zal/ce1)