R Alit Agung Wijaya Kusuma
R Alit Agung Wijaya Kusuma
Tidak bisa mendengar, tidak bisa berbicara, tidak membuat R. Alit Agung Wijaya Kusuma, pemuda asal Magelang, Jawa Tengah, hanya bisa pasrah. Sebaliknya, pria tampan berkacamata ini, memilih jadi aktivis di Magelang Deaf Community (MDC). MDC merupakan komunitas yang beranggotakan penyandang tuna rungu, tuna wicara, serta masyarakat umum yang visinya memperjuangkan kesetaraan hak para difabel, serta intens memperkenalkan bahasa isyarat.
Menurut Alit, penyandang tuna rungu dan tuli, memiliki hak mendapatkan pekerjaan serta pendidikan yang layak dan setara dengan warga lainnya. “Kami berharap pemerintah bisa mendukung serta mengakui komunitas yang menaungi keberadaan kita,” tandas pria yang pada Maret 2017 lalu, diundang oleh Ibu Negara, Ny Iriana Joko Widodo, untuk membuat lukisan potret wajah para tamu negara dalam Spouse Program KTT IORA 2017. Ia hadir ke Istana Kepresidenan Bogor bersama tiga difabel lainnya. Bulan berikutnya, April 2017, Alit bertemu dengan Presiden RI Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta.
Alit mengatakan, bahasa isyarat yang mereka gunakan setara dengan bahasa lisan. “Jika tidak paham dengan bahasa kami, undanglah juru bahasa isyarat,” pintanya. Alit meminta kepada orang tua yang memiliki anak penderita tuna rungu dan tuli, untuk tidak mengurung mereka di dalam rumah. Sebaliknya, “Ajaklah mereka berergabung dengan komunitas dan beri pendidikan yang setara,” katanya dengan bahasa isyarat.
Alit menghimbau kepada orang tua untuk mengundang tenaga pengajar yang paham bahasa isyarat. “Sekarang sudah banyak bermunculan, dan itulah pentingnya juru bahasa isyarat.” Dikatakan, anak-anak penyandang tuna rungu dan tuli memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pekerjaan serta pendidikan.
Di luar aktivitasnya, sejak kecil, Alit tumbuh menjadi difabel yang berbakat menjadi seorang karikatur. Ia mampu membuktikan kehebatannya, dengan jari-jari ajaibnya menggoreskan alat tulis membentuk sebuah karikatur.
Alit terlahir dari rahim Istiyanti, guru SMA Muhammadiyah 1 Kota Magelang. Ayahnya juga seorang pendidik, Arie Supriyatno, dosen di Universitas Muhammadiyah Magelang. Bermula dari kakaknya yang hobi membaca komik Doraemon dan Sailor Moon, membuat Alit kerap menggambar cover komik-komik kakaknya di buku gambar kesayangannya. Bakatnya semakin terasah. Berbagai kejuaraan ia ikuti. Hasilnya, Alit banyak menjuarai beberapa lomba menggambar poster. Alit tercatat pernah mendapatkan penghargaan rekor MURI pada 2009, setelah berhasil melukis 100 wajah dengan 100 karakter dalam waktu lima jam. Ia diminta melukis tamu negara Menlu se-Asean di Kota Semarang pada 2012 silam.
Alit juga pernah menyabet juara 1 cover boy Majalah Remaja Aneka Yes Jakarta pada Desember 2011, juara 1 Favorite Bintang Elmosta pada 2010 di Semarang. Juga juara peryama Model Cover Star Majalah Gradasi Semarang 2009, juara 1 Model Toyota Nasmoco tingkat eks Karesidenan Kedu-Surakarta 2009, juara 1 lomba Desain Logo Perpustakaan Kota Magelang 2007, serta juara pertama lomba poster pelajar SMA/SMK Umum tingkat Provinsi Jateng 2008. Alit juga pernah menyabet juara 2 Nasional Mengarang Komik Pelajar SMA Umum di Jakarta 2008, juara 1 lomba lukis Grafity 2008, juara 2 lomba desain grafis komputer tingkat provinsi Jateng 2009 dan masih banyak lagi. (put/isk)