Edy Prayitno bersama keluarganya.
Edy Prayitno bersama keluarganya.
Nama Edy Prayitno di dunia persebakbolaan Jawa Tengah sudah tidak asing lagi. Ia adalah pelatih Persikama Kabupaten Magelang, sekaligus salah satu pendiri klub tersebut pada 1986. Tak hanya itu, Edy juga berupaya mencetak pemain-pemain muda berbakat dengan mendirikan diklat sepak bola Cilo Sportivo Magelang. Diklat didirikan, karena keprihatinan pembinaan usia muda yang belum digarap serius oleh pendidik bola di negeri ini.
Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, keberadaan diklat tersebut mampu menorehkan prestasi membanggakan. Cilo Sportivo Magelang, menjadi salah lembaga pembinaan usia muda yang konsisten mendidik anak usia 13 hingga 18 tahun. Mantan pelatih Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Salatiga ini, pada awal mendirikan Cilo Sportivo, dibantu dan bekerja sama dengan Rama Galih, pengusaha jersey bola asal Jakarta dan Sholahuddin al-Ahmed, mantan Media Officer PPSM Magelang.
Cilo menekankan pendidikan berkarakter, berlandaskan spiritual dan kejujuran. Selama pendidikan, para peserta didik diasramakan. Kesehariannya belajar di sekolah formal, pagi dan sore hari berlatih bola secara intensif. Pusat diklat Cilo Sportivo di Krajan, Secang, Kabupaten Magelang. Jumlah peserta didik sekitar 40 anak dari berbagai daerah di Indonesia. Seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, dan Sumatera Selatan.
Cilo Sportivo juga mendapatkan kepercayaan dari Bali United menjadi satelit talent. Yakni, mencari talent pemain sebelum masuk ke Akademi Bali United (U21). Manajemen Bali United tertarik dengan siswa Cilo, setelah melihat penampilan mereka pada laga di lapangan Banteng Seminyak Bali.
Di sisi lain, prestasinya bersama Persikama, juga tak bisa dipandang sebelah mata. Pada 1989, ia berhasil membawa Persikama menduduki runner up Divisi II A Zone Jawa Tengah. Dan pada 2005, Edy mampu kembali membawa Persikama menjadi kampiun di eks Karesidenan Kedu.
Prestasi fenomenal juga pernah ia torehkan pada 2013 lalu. Saat itu, Edy dipercaya menangani tim nasional pelajar U-18. Skuad yang didominasi perwakilan beberapa Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) se-Indonesia, mampu menjadi runner up Asia. Saat itu, timnya dikalahkan Korea Selatan dengan skor 1-2 di partai final.
Di tangan Edy Prayitno, Persikama diharapkan kembali menjadi tim yang disegani di Jawa Tengah. Menurutnya, ketika diminta menggantikan pelatih sebelumnya di Persikama, ia sempat keberatan. Namun demi menyelamatkan klub, dengan besar hati Edy pun mengiyakan. “Niat utama saya menolong untuk menyelamatkan tim agar tidak kena sanksi.”
Edy dipandang sebagai salah satu pelatih tersukses di Magelang. Mampu memoles anak-anak muda menjadi pesepakbola nasional. Buktinya, ia pernah membawa timnas pelajar Indonesia menjadi runner up Asia.
Menurut Edy, Magelang memiliki bibit-bibit unggul sepak bola yang cukup banyak. Hanya saja belum tergali. “Ini menjadi pekerjaan rumah kami untuk mencari, menggali remaja-remaja potensial untuk kami gembleng menjadi pemain bola profesional dan berkarakter,” jelasnya. Melihat kiprahnya di jagat persebakbolaan, layaklah kiranya bila ia disebut sosok pemberdaya masyarakat melalui sekolah sepak bolanya. (*/lis)