KETRAMPILAN KHUSUS: H. Soetarko masih mengerjakan sendiri aneka kerajinan tangan yang berbahan baku limbah batok, dibantu 12 orang karyawannya. (IST)
KETRAMPILAN KHUSUS: H. Soetarko masih mengerjakan sendiri aneka kerajinan tangan yang berbahan baku limbah batok, dibantu 12 orang karyawannya. (IST)

KAJEN – Sebuah usaha dalam bidang kerajinan ini berdiri pada 15 Maret 1998 di Desa Wonopringgo, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan. Pendiri sekaligus pemilik usaha ini, Soetarko, 62, memanfaatkan limbah batok kelapa yang banyak dijumpai di sekitar lingkungannya, menjadi sebuah kerajinan yang bernilai jual tinggi.

Pada awal berdiri, Starco Handycraft, demikian nama UMKM tersebut, hanya memproduksi kancing kelapa dengan model dan tipe terbatas. Tapi, seiring berjalannya waktu dan berkembangnya pasar handycraft, akhirnya kerajinan berbahan dasar batok kelapa ini semakin berkembang dan variatif.

Starco Handycraft saat ini juga memproduksi dompet maupun tas sesuai permintaan pasar. Semuanya dari batok kelapa. Selain itu juga memproduksi berbagai ragam produk lainnya, seperti lampu hias dengan aneka varian, lampu hias tembok, lampu hias gantung, peci dari batok kelapa, placemat, kotak tisu, dan aneka ragam produk lainnya.

Semenjak tahun 2016 awal, usaha ini dikembangkan dan dikelola oleh putri nomor dua Soetarko, yaitu Wike Oktaviana. Wanita lulusan jurusan Hubungan Internasiona, di salah satu universitas swasta ternama di Kota Bandung ini berhasil membawa usaha yang dirintis oleh bapaknya dengan melakukan berbagai macam terobosan, mulai dari pemasaran hingga krativitas produk.

Bahkan saat ini untuk pemasaran produk dari Starco Handycraft, lebih banyak melalui pesanan dengan motif susuai keinginan konsumen. Konsumen bisa menentukan model dan desain sendiri, dengan harga yang sangat terjangkau. Saat ini konsumennya sebagian berasal dari Semarang, Jogjakarta, Surabaya, bali, Bandung, Kendari, Jakarta, Lampung, Jepara, dan lain sebagainya. Produk tersebut juga sudah menembus pasar inetrnasional dengan adanya beberapa pesanan dari negara tetangga yaitu Malaysia, Vietnam dan Thailand.

Untuk harga sebuah dompet dipatok dari harga Rp 80 ribu hingga Rp 150 ribu. Tas dibanderol dari harga Rp 100 ribu hingga Rp 45 ribu. Sedangkan untuk produk kancing dari batok kelapa dipatok dari harga Rp 75 per kancing hingga Rp 3.000 per kancing.

Untuk pemesanan, customer diharapkan sedikit bersabar, karena proses pembuatan yang cukup rumit. Sehingga untuk pengerjaan dompet atau tas perlu menunggu sekitar 1 minggu. Karena produk Starco Handycraft murni karya kerajinan tangan. Adapun untuk pesanan kancing batok kelapa, customer dapat menunggu sekitar 4-7 hari pembuatan.

Dalam satu pekan, Starco Handycraft mampu menghasilkan sekitar 5.000 kancing kayu, 10.000 kancing batok, sementara untuk tas dalam satu pekan dapat menghasilkan 4-6 tas.

Melihat potensi tersebut, Soetarko tidak hanya sebagai pelaku bisnis dalam bidang batok kelapa saja. Dia juga turut serta dalam menggoreskan prestasi-prestasi membanggakan dengan membawa hasil-hasil karyanya dalam ajang-ajang penghargaan bergengsi tingkat kabupaten, nasional bahkan internasional. (thd/adv/smu)