Oleh: Akhmad Arif Junaidi
Oleh: Akhmad Arif Junaidi

PUASA dan ketahanan sosial merupakan dua variabel yang berbeda, namun memiliki relasi yang saling berkait. Kaitan relasi antara dua variabel tersebut akan tampak gamblang ketika kita mengelaborasi lebih dalam soal pemaknaan puasa. Sebagaimana dimaklumi, secara etimologis puasa (shiyam atau shoum) berarti menahan diri dari melakukan sesuatu (al-imsak ‘an asy-syai’) dan secara terminologis berarti menahan diri untuk tidak makan, minum dan senggama dari fajar hingga terbenamnya matahari selama bulan Ramadan.

Pemaknaan secara etimologis dan terminologis tersebut menyiratkan arah dan maksud disyari’atkan dan diwajibkannya puasa bagi umat Islam. Pensyari’atan puasa tentu tidak sekedar hanya dimaksudkan agar umat Islam menahan diri dari rasa lapar, dahaga dan desakan nafsu birahi pada siang hari di Bulan Ramadlan. Menahan diri dari tiga hal tersebut hanya bentuk pengendalian diri yang paling minimal bagi orang yang berpuasa. Lebih dari  itu, puasa disyari’atkan  agar umat Islam baik pada level personal maupun komunal menjadi figur-figur yang bertakwa. Orang yang bertakwa akan senantiasa melaksanakan segala hal yang diperintahkan oleh Allah dan meninggalkan apapun yang dilarang-Nya. Orang yang bertakwa akan senantiasa berhati-hati dalam mengambil keputusan baik yang menyangkut dirinya sendiri maupun orang lain. Segala tindakan yang dilakukannya akan senantiasa dia pertimbangkan dari sisi maslahat dan mafsadatnya bagi diri sendiri maupun orang lain.

Pada level personal, seseorang yang berpuasa dengan benar akan memiliki kepribadian yang matang dan senantiasa mampu menahan diri dari  melakukan tindakan-tindakan destruktif yang merugikan orang lain. Ia tidak akan mudah melakukan tindakan intimidasi atau aksi persekusi terhadap orang lain. Ia juga tidak akan gampang terprovokasi oleh hasutan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.