Semula Tuntutan Tugas, Kini Jadi Pendakwah

654
Mayor Infanteri Syarif Hidayat SAg, MPdi. (JOKO SANTOSO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Mayor Infanteri Syarif Hidayat SAg, MPdi. (JOKO SANTOSO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

ATAS kehendak Tuhan YME, cita-cita Mayor Infanteri Syarif Hidayat SAg, MPdi menjadi seorang tentara dan pendakwah, benar-benar diwujudkan. Bahkan, bakatnya menjadi pendakwah sudah muncul sejak kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah (MI) Karanganyar, Purbalingga, sekitar 1983. Kala itu, di kampungnya sering digelar lomba pembawa acara. Kemudian duduk di bangku MTS (Madrasah Tsanawiyah), mulai mengikuti lomba pidato. Setelah duduk dibangku kelas 2 PGA (pendidikan guru agama) sekolah setingkat SMA di Purwokerto, pertama kalinya mengikuti lomba ceramah.

Baca Juga :

“Setelah itu, saya vakum tidak ada aktivitas sampai 1999, kemudian 2009 hingga 2001 saat sudah jadi tentara ditugaskan di Aceh Timur, Langsa. Saya sebagai Pabintal (Perwira Pembina Mental) Bataliyon 200 Raider (dulu 145 BL), diminta Dandim mengisi kegiatan pesantren Ramadan di Kodim tersebut,” kata pria yang akrab disapa Ustadz Syarif Kodam ini.

Semasa tugas di Aceh itulah, suami Listya Darmaning yang saat ini bertugas sebagai Kepala Kelompok Pelaksana Bimbingan Mental dan Sejarah (Kapoklak Bintal Jarah) Kodam IV Diponegoro Semarang ini, bakatnya mulai muncul lagi. Apalagi saat itu, ia dipercaya pimpinanya untuk membuat khataman Quran hingga 5 kali berturut-turut.

“Saya juga diminta mengisi ceramah saat salat fardu. Kemudian saat pulang dari satuan, diminta masyarakat mengisi acara-acara tausiah pernikahan, khitanan dan acara-acara PHBI (Penyelenggaraan Hari Besar Islam) yang ada,” ujar ayah tiga anak yakni, Muzaki Damar Jati, Geisha Zazkia dan Dimas Zamzam Asyarifi ini.

Alumni sarjana agama UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta ini mengaku awalnya cara yang digunakan dalam berdakwah adalah mendengarkan seluruh kaset dari ulama kondang nasional yakni, almarhum Zainudin MZ yang populer kala itu. Selain itu, ia juga sering menyampaikan gagasan atau pendapat dalam setiap forum baik di dalam satuannya maupun masyarakat, sehingga ia semakin terbiasa dengan dunia dakwah.

“Saya terinspirasi dari ulama Zainudin MZ. Kalau ulama di kalangan militer terinspirasi dari KH Qosim Nur CH. Tapi semua tidak lepas saat masih di daerah penugasan, sudah dituntut ceramah, sehingga harus belajar sejak sebulan sebelum agendanya berlangsung,” ungkapnya.

Alumni magister Universitas Wahid Hasyim Semarang (Unwahas) ini mengaku, berangsur-angsur agenda mengisi ceramah cukup padat. Bahkan, dari awal hingga akhir Ramadan. Sehingga saat mendapatkan undangan mengisi ceramah, perlu kordinasi agar tidak benturan jadwal.

“Kalau mengisi tarawih masih di wilayah Kota Semarang, tapi kalau acara Nuzulul Quran dan halal bihalal hampir di seluruh Jateng. Termasuk H plus 2 sudah ada agenda mengisi halal bihalal di wilayah Purbalingga,” sebutnya.

Tentara yang hobi membaca ini mengaku, untuk materi dakwah bisa request sesuai permintaan panitia acara. Sehingga materi diambil langsung dari realitas kehidupan. Bahkan, kerap memberikan materi secara spontan. Tapi kadang broswing internet dan melihat video-video pendakwah ulama besar baik ulama internasional, nasional, regional maupun lokal, namun tetap dipadukan dengan pengetahuan yang dimilikinya. “Kalau sekarang saya ngefans dengan AA Gym. Kalau ulama Jateng, ngefans Ustadz Fahrur Rozi,” ujarnya.

Terkait bayaran atau fee, Ustadz Syarif Kodam mengaku tidak pernah melihat imbalan ataupun materi. Ia berpedoman, pada hakekatnya tidak dapat imbalan di dunia, namun dapat imbalan di akhirat. Ia juga pernah hanya diberi imbalan hasil bumi. Bahkan tidak dibayar juga pernah. “Yang terpenting intinya membagi ilmu, karena saya tidak pernah pasang tarif. Cuma saya memang punya prinsip tergantung yang mengundang juga,” tandasnya.

Saat ini dirinya rutin melakukan kajian kitab fiqih Islam setiap Senin malam selama dua minggu sekali di Masjid Syifaul Qolby Asrama Wiratama Kodam IV Diponegoro. Menjadi imam rutin di masjid yang ada di kediamannya Gedawang, Banyumanik. Ia juga sudah diminta menjadi imam salat Isya dan tarawih di kampus UIN Walisongo Semarang dan Departemen Agama (Depag) Semarang.

Saat ini Ustadz Syarif Kodam juga sudah mendidik anak pertama menjadi pendakwah seperti dirinya. Bahkan anak pertamanya, sejak kelas 5-6 SD sudah meraih juara lomba Pildacil tingkat kelurahan dan kecamatan, kemudian juara 1 lomba Pildacil angkatan di Ponpes Darul Amanah Sukorejo, Kendal, yang merupakan tempat sekolah anak pertamanya.

Ustadz Syarif Kodam juga mengaku sekalipun dirinya bisa menjadi pendakwah, namun saat masih di kampung ia adalah pemain ketoprak. Ini dua sisi berbeda, sehingga ia memutuskan fokus pada dunia dakwah. “Dulu pas daftar tentara, saya minta ke panitia di test qiroah dan cermah. Soalnya dulu belum ada istilah unggulan, apalagi dari sisi fisik saya pas-pasan. Tapi dulu sekali daftar tentara langsung lolos,”katanya.

Begitu ia menjadi tentara, pertama kali bertugas di Kodam II Sriwijaya Palembang, kemudian Kodam IV Diponegoro Semarang, hanya saja ia pernah tugas operasi di Aceh, Ambon, Maluku. “Selama jadi tentara, tugas berkesan adalah pengamanan haji. Disamping bertugas, bisa sekaligus melaksanakan rukun Islam, saya sudah ikut 2 kali. Jadi seperti ada kehormatan bisa ikut haji sekalian mengamankan,” kenangnya. (jks/hid/ida)