BERSERAKAN : Reruntuhan tanggul Kali Plumbon terlihat menutupi jalan perkampungan akibat tersapu air banjir. (ADENNYAR WYCAKSONO / JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERSERAKAN : Reruntuhan tanggul Kali Plumbon terlihat menutupi jalan perkampungan akibat tersapu air banjir. (ADENNYAR WYCAKSONO / JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG-Hujan deras yang terjadi di wilayah Kota Semarang, Jumat malam (2/6) kemarin, menyebabkan besar debit air Kali Plumbon. Saking besarnya arus air, tanggul sepanjang 50 meter tak mampu menahan sehingga jebol. Sontak, banjir bercampur lumpur menerjang rumah warga RT 1 RW 1 Kelurahan Mangkang Kulon, Kecamatan Tugu Kota Semarang setinggi 1,5 meter. Sedikitnya 40 rumah warga tergenang dan satu rumah mengalami kerusakan yang cukup parah. Bahkan, air banjir juga merendam areal persawahan di Kelurahan Mangungharjo hingga menyebabkan sawah milik warga rusak berat.

Ketua RT 1 RW 1 Kelurahan Mangkang Kulon, Nashori mengungkapkan bahwa banjir yang terjadi di Kelurahan Mangkang Kulon ini terbilang cukup parah. Warga tidak sempat menyelamatkan harta bendanya, beberapa perabotan elektronik, motor, dan kendaraan roda empat milik warga, tidak bisa diselamatkan dari banjir. “Debit air memang sangat besar apalagi hujan dari siang sampai malam tidak berhenti dan sangat deras. Kemudian tanggul tiba-tiba jebol sekitar pukul 20.30, ketinggian air saat Jumat (2/6) malam kemarin sampai 1,5 meter,” kata Nashori.

Satu rumah warga milik Subhan rusak parah. Bahkan ambruk di bagian dapur dan kamar mandi. “Saat itu kami lagi santai, habis buka puasa dan salat Tarawih. Tiba-tiba ada suara seperi retakan tanggul dan air langsung masuk ke dalam rumah,” keluh Subhan.

Sementara itu, menurut informasi yang dihimpun, selain akibat sendimentasi yang kian parah, meluapnya sungai hingga jebolnya tanggul, akibat pembangunan tanggul sungai yang tidak sesuai spesifikasi. Pengamatan Jawa Pos Radar Semarang, tanggul baru setinggi setengah meter, hanya ditumpuk diatas tanggul lama. “Pembangunannya tidak sesuai spesifikasi. Apalagi branjang kawat berada di aliran sungai, memperparah sendimentasi,” ujar Waluyo salah satu warga.

Menurutnya, penanggulan yang dilakukan pemerintah, harus dikaji ulang. Selain itu, perlu dilakukan normaliasi sungai. Pasalnya jika hujan deras selama dua jam lebih, Kali Plumbon langsung meluap dan membanjiri jalan perkampungan. “Idealnya harus dinormaliasi. Kalau tidak, pasti warga selalu kebanjiran,” keluhnya.

Sedangkan Camat Tugu, HM Yenuarso, mengakui jika sendimentasi Kali Plumbon dalam kondisi memprihatinkan. Sayangnya kewenangan normaliasi sungai ada pada BWWS Pemali Juana. “Sendimentasinya Kali Plumbon memang sangat tinggi, sehingga perlu dinormalisasi,” katanya.

Saat ini, pihaknya sudah meminta bantuan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, Dinas Pemadam Kebakaran, Dinas Pekerjaan Umum untuk membantu warga membersihkan sisa-sisa banjir. Siang kemarin, satu unit alat berat dan dua dump truck, milik Dinas Pekerjaan Umum serta satu unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan untuk memindahkan reruntuhan tanggul yang menutupi jalan perkampungan. “Sementara tanggul yang jebol akan ditambal dengan kantong sak yang diisi batu dan pasir. Saat ini warga masih siaga, mengantisiapsi bencana susulan di tengah cuaca tidak menentu,” tutupnya. (den/ida)