Kerap Roadshow Istighotsah, Tugas PNS Tetap Utama

Ketika Aparat Penegak Hukum Jadi Juru Dakwah

633
Kasubag SDM Linmas Satpol PP Provinsi Jateng, Maksum. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Kasubag SDM Linmas Satpol PP Provinsi Jateng, Maksum. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Aparat penegak hukum tidak selamanya bertindak dengan kekerasan. Di balik ketegasan, mereka juga bisa menertibkan masyarakat lewat jalan agama. Seperti apa?

MAKSUM adalah salah satu contohnya. Aparat penegak hukum yang kini menduduki jabatan kasubag SDM Linmas di Satpol PP Provinsi Jateng ini kerap dipercaya masyarakat untuk memberikan siraman rohani. Nyaris saban Jumat, dia mengisi khotbah atau menjadi imam di masjid di bilangan Ketileng. “Kadang juga di Masjid RS Ketileng,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Baca Juga :

Dia juga punya jadwal roadshow rutin istighotsah di beberapa tempat. Saban Minggu Pahing, Maksum istighotsah di Universitas Negeri Semarang (Unnes), kalau malam Ahad Kliwon, dia harus bertandang ke Tegal untuk istighotsah juga. Sementara Sabtu Legi di Pemalang, dan malam Ahad di Banyumas.

Di bulan puasa ini, dia juga kerap didapuk menjadi pengisi kultum (kuliah tujuh menit) sekaligus imam salat tarawih di wilayah tempat tinggalnya. “Mulai tahun ini, saya nggak ikut tarling (tarawih keliling) Pemprov Jateng. Sebenarnya, tarling itu, dulu saya yang mengurusi. Termasuk agenda Jateng Bersholawat. Kan dulu saya di Biro Bintal. Sekarang di Satpol PP, sudah tidak bisa ikut,” ucap pria yang tinggal di Ketileng ini.

Maksum memang bukan orang baru di kalangan ustadz. Sekitar tahun 90-an, dia sudah menjadi bagian dari Pondok Pesantren (Ponpes) Azzurri, Ketileng. “Tapi saya cuma bantu-bantu saja, kok,” katanya merendah.

Menggeluti dunia PNS dan santri, membuat Maksum harus pintar membagi waktu. Sebab, tidak jarang dia terpaksa meninggalkan jadwal keagamaan ketika mendapat tugas sebagai PNS. Sebab, bekerja di lingkup Pemprov Jateng sangat memungkinkan ditugaskan ke luar Kota Semarang.

Kadang, dalam kondisi tertentu, Maksum juga harus izin ke pimpinan untuk meninggalkan tugas sebagai PNS demi kegiatan agama yang cukup mendesak. “Semua bisa dikompromikan. Fleksibel, kok,” bebernya.

Dijelaskan, pengurus Ponpes Azzurri Ketileng punya kebijakan yang tidak terlalu kaku. Bahkan mendukung jika santrinya melakukan tugas negara. Maksum menerangkan, Ponpes Azzurri menjunjung tinggi nasionalisme. Bahkan setiap hari besar nasional, melakukan upacara. Seperti Hari Kebangkitan Pancasila, Hari Kemerdekaan, dan lain sebagainya. “Jadi kalau saya izin untuk tugas kenegaraan sebagai PNS atau penegak hukum, Pak Kiai pasti merestui,” tegasnya. (amh/ida)