Jangan Sampai Terjerumus Radikalisme

1233
BANYAK MANFAAT: Suasana Pesantren Ramadan di SMA NAsima, sore kemarin, diikuti oleh ratusan siswa kela X dan XI. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BANYAK MANFAAT: Suasana Pesantren Ramadan di SMA NAsima, sore kemarin, diikuti oleh ratusan siswa kela X dan XI. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Ratusan siswa kelas X dan XI SMA Nasima Gandanegara antusias mengikuti kegiatan pesantren Ramadan. Kegiatan ini diselenggrakaan sejak Rabu (31/5) hingga Sabtu (10/6) mendatang.

Ketua Panitia Pesantren Ramadan SMA Nasima Susanto mengatakan pada penyelenggaraan kali ini pihaknya membuat kurikulum khusus pesantren Ramadan yang lebih friendly bagi anak-anak.

Seperti pada Sabtu (3/6) sore, para santri pesantren Ramadan SMA Nasima ini nampak serius dalam mengikuti pemaparan tentang Terorisme dari Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah. “Kita tahu bahwa teror ini bukan perbuatan yang terpuji, maka sebagai generasi muda kita harus kritis dalam menerima informasi sehingga tidak mudah terdoktrin oleh oknum tidak bertanggung jawab,” ungkap Ketua FKPT Dr. H. Najahan Musyafak, di depan para santri.

Terorisme dan Radikalisme hingga saat ini masih menjadi persoalan bangsa Indonesia yang belum terselesaikan. Rentetan tindak kekerasan atas nama agama, tak sedikit pula pelakunya yang melibatkan usia remaja atau pelajar.

Menurut Humas SMA Nasima, Muslihudin el Hasanudin, itu yang melatarbelakangi sekolahnya menggandeng FKPT dalam hal ini sebagai pemateri kaitannya dengan terorisme. Beruntung, karena dalam kesem[patan sore itu, Santri atau para pelajar SMA Nasima bisa mendapatkan materi langsung dari Ketua FKPT yang beru saja pulang mengikuti pelatihan terkait terorisme di Filipina. “Kita kan sekarang galau dengan kondisi anak-anak muda sekarang ya, mereka kan rentan sekali disusupi oleh ajaran-ajaran yang merusak moral. Terutama terkait dengan pancasila oleh karena itu kami mengundang FKPT Jateng sebagai mitra BNPT,” paparnya.

Tak hanya FKPT, SMA Nasima juga menggandeng BNN Jateng untuk memberikan materi terkait engan narkoba dikalangan anak muda. Lebih lanjut, Didin menyampaikan bahwa topik terorisme ini mennjadi perhatian pendidik sebab berdasarkan survei yang ada, rohis-rohis di Jawa Tengah sudah ada yang disusupi oleh aliran-aliran tertentu. “Oleh karena itu, ebagai sekolah yang menanamkan Nasionalisme dan Agama (NASIMA) itu kita tidak ingin anak-anak kita ada yang terlibat dengan hal-hal tersebut,” bebernya.

Demikian juga dikatakan oleh Pembina Yayasan Pendidikan Islam Nasima Prof. Dr. Amin Syukur MA saat membuka Pesantren Ramadan SMA Nasima Rabu (30/5) di Kampus SMA Nasima Gandanegara Jl. Yos Sudarso Puri Anjasmoro Semarang.

Lebih lanjut, Amin Syukur menambahkan bahwa gerakan-gerakan radikal kini sudah menyasar ke lembaga pendidikan, khususnya jenjang sekolah menengah atas. Mereka meyebar melalui kegiatan-kegiatan keagamaan yang diselenggarakan oleh sekolah.

Tujuannya mempengaruhi pemikirian, pemahaman, para siswa serta merekrut anggota baru untuk memuluskan niatnya mengganti pancasila dengan ideologi mereka. “Empat pilar bangsa Indonesia yakni Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, UUD, dan NKRI itu sudah final. Kita wajib menjaganya. Karenanya saya berharap  melalui kegiatan pesantren ramadhan ini kita dapat membangun pemahaman, kesadaran, dan kewaspadaan menangkal sedini mungkin jika nanti gerakan radikal tersebut muncul di sekitar kita” terangnya.

Selama sebelas hari semua siswa menginap dan melakukan aktivitas full di sekolah. Pesantren Ramadan juga diselenggarakan di semua jenjang unit di bawah Yayasan Pendidikan Islam Nasima dengan rentang waktu pelaksanaan yang hampir sama. Unit SD dilaksanakan  Kampus SD Nasima Jl, Puspanjolo Selatan 53, sedangkan unit SMP diselenggarakan di Kampus SMP Nasima di Jl.Trilomba Juang No 1 Semarang. (tsa/smu)