Awalnya Dicueki, Usai Ceramah Dibanjiri Salaman

1070
Kompol H Baihaqi SH. (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Kompol H Baihaqi SH. (M HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

DIMATA masyarakat, seorang anggota polisi lebih identik dengan pananganan kejahatan. Tak terkecuali Kompol H Baihaqi SH yang merupakan salah satu anggota kepolisian di jajaran Polrestabes Semarang. Disisi lain, laki-laki asal Sumenep Madura ini, juga rutin memberikan tauziah kepada masyarakat.

Baca Juga :

“Ini merupakan instruksi Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Abiyoso Seno Aji untuk memberikan ceramah di masjid dan musala. Saya memberikan ceramah kepada para santri di pondok pesantren di wilayah Mijen,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (3/6) kemarin.

Sebelum mendapat instruksi, dia telah berinisiatif memberikan ceramah di wilayah hukumnya. Hal itu untuk membangun kedekatan dengan lingkungan masyarakat. “Kami berikan pengertian yang positif agar kondisinya selalu aman, nyaman dan kondusif. Tentunya, anggota kami juga aktif melakukan patroli rutin di wilayah hukum tersebut,” jelasnya.

Selama Ramadan, H Baihaqi juga aktif mengisi ceramah. Selain di masjid dan musala, juga memiliki jadwal ceramah di 13 pondok pesantren di Mijen. “Kalau kepada santri Ponpes, ceramahnya setelah jam pembelajaran, setelah salat dzuhur. Tidak setiap hari, tapi pasti ada dari pihak ponpes yang mengundang untuk memberikan tauziah. Kemudian kalau malam hari di masjid, setelah sholat tarwih,” tuturnya.

Banyak kisah menarik selama memberikan ceramah di tempat-tempat tersebut. Ada yang sengaja cuek sampai kebanjiran salaman dari warga. Kisah yang paling berkesan, menurut Baihaqi adalah ketika hendak memberikan ceramah di salah satu ponpes yang ada di Mijen.

“Pernah suatu ketika saya datang hendak memberikan ceramah ya di daerah Mijen bersama anggota Reskrim. Pas datang, banyak yang cuek. Mungkin dikiranya saya datang, mau ceramah terkait pencuri atau kajahatan,” terangnya.

Meskipun awalnya kurang mendapat respon, H Baihaqi tetap melanjutkan niatnya memberikan ceramah. Ternyata, lama-kelamaan mendapat perhatian dari pendengarnya. Hal itulah yang menjadikan semangatnya untuk terus menyampaikan materi-materi kebaikan. “Setelah selesai memberikan ceramah, pas mau pulang saya bingung. Tadi saya datang banyak yang cuek, pas selesai banyak yang minta salaman. Kejadian ini ya sebelum Ramadan, sekitar bulan Syaban kemarin,” ujarnya.

Ceramah yang banyak diberikan kepada para santri pondok, mengajak untuk lebih mencintai bangsanya sendiri, Indonesia dan menjaga keutuhan NKRI.

H Baihaqi memang tidak terlihat garang meski seorang anggota polisi. Laki-laki ini tergolong santun, ramah senyum dan selalu uluk salam kepada siapapun ketika bertemu dengan seseorang. Laki-laki ini juga sangat sederhana. Di saat berangkat bertugas mengendarai sepeda motor Vario miliknya.

Pria yang tinggal di Asrama Polisi (Aspol) Kalisari ini, sebelum menjadi anggota polisi, sudah lekat dengan lingkungan agama Islam. Kebetulan dia lahir di Sumenep Madura yang kental dengan kehidupan agama Islam dan banyak pondok pesantren (ponpes). ”Belajar agama sejak masih SD. Orang tua saya juga sangat ketat dalam mendidik agama. Pagi sekolah negeri, kalau sore sekolah madrasah,” kenangnya.

Banyak suka duka yang dialami selama mendalami ilmu agama. Baihaqi biasa berjalan berkilo-kilo meter untuk sampai ke tempat madrasah. ”Jarak madrasah dengan rumah sekitar 7 km. Saya harus jalan kaki. Kadang numpang orang yang mau ke pasar. Kebetulan sekolah saya deket pasar. Kadang mbonceng sepeda onthel, kadang ada orang muat beras saya ikut numpang di belakangnya. Kalau SD saya, agak deket, yang jauh madarasahnya,” jelas Baihaqi yang lahir dari keluarga pas-pasan.

Bapak satu putra ini mengakui, perjalanan sepanjang 7 km itu justru menjadi hikmah bagi dirinya. Sebab, perjalanan yang melelahkan itu justru membantunya untuk menyelesaikan tugas pendidikannya di bangku madrasah. ”Justru manfaat yang saya peroleh. Jadi, saat perjalanan, saya sambil buka buku, dan di mulut sambil ndremimil baca hadis supaya hafal,” kenangnya sambil tersenyum.

Diakuinya, pada 1984, usai tamat SMA, Baihaqi langsung mendaftar menjadi anggota polisi. ”Awal menjadi polisi, saya sering disuruh azan dan memimpin doa bersama. Saya seneng dengan teman-teman yang satu kos di Asrama Kalisari,” kenangnya.

Baihaqi juga dikenal mudah bergaul. Tak heran, jika Baihaqi cukup dikenal di lingkungan Polrestabes Semarang. Apalagi dirinya kerap didaulat memimpin doa di setiap kegiatan kepolisian.

”Di Forum Polrestabes, saya sering disuruh memimpin doa. Waktu awal jadi polisi sebenarnya saya tidak mau. Masak saya yang masih bocah disuruh memimpin doa-doa sama para orang tua. Karena terus dipaksa, akhirnya saya mau,” katanya.

Ketika sewaktu memimpin doa itu, Baihaqi disuruh menulis doa dengan bahasa Indonesia. Waktu itu, ia tidak terbiasa. ”Hati saya, berdoa itu ya pakai Bahasa Arab, tapi karena diminta panitia, ya akhirnya doanya saya kombinasikan bahasa Arab dan bahasa Indonesia,” ceritanya sambil tersenyum. (mha/ida)