Ramadhan Memupuk Kembali Semangat Kebhinekaan

1026
Oleh : Hasyim Muhammad
Oleh : Hasyim Muhammad

ORANG Jawa sering menyebut bulan Ramadan sebagai ulan pasa (bulan puasa) karena pada bulan ini umat Islam diwajibkan untuk menjalan ibadah puasa sebulan penuh. Menurut Islam puasa adalah suatu bentuk aktifitas ibadah kepada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, hubungan suami istri, dan hal-hal lain yang dapat membatalkan puasa sejak fajar hingga terbenamnya matahari. Puasa merupakan latihan spiritual (madrasah ruhaniyah) bagi umat beriman untuk senantiasa dekat dengan Tuhan. Dekat dengan Tuhan berarti dekat dengan kebaikan dan kebenaran.

Puasa merupakan ritual ibadah yang dijalani oleh hampir seluruh agama dan kepercayaan di muka bumi, oleh karenanya maka bisa dibilang bahwa Ibadah puasa adalah ajaran yang bersifat universal. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 83 Allah memerintahkan umat beriman untuk menjalankan puasa, sebagaimana juga diperintahkan kepada umat-umat sebelumnya agar menjadi orang yang bertaqwa.  Ritual puasa dijalani oleh umat manusia dengan tata cara yang berbeda-beda, bahkan juga dengan tujuan yang berbeda-beda. Ada puasa yang diwajibkan ada pula yang sekedar dianjurkan.  Ada juga yang hanya karena hajat tertentu maka seseorang menjalankan puasa, dengan harapan hajatnya akan terkabul.

Universalitas ibadah puasa menunjukkan bahwa ibadah puasa adalah ibadah yang istimewa. Puasa diyakini sebagai ritual yang memiliki banyak manfaat baik secara fisik maupun psikologis. Sebagai contoh, Islam menentukan tata cara puasa dengan menghindari makan dan minum dalam rangka mengurangi asupan dalam perut agar terlatih dengan kondisi kosong dan terhindar dari kekenyangan. Puasa selama bulan Ramadan akan melatih perut seorang hamba untuk tidak selalu dalam keadaan kenyang dan terbiasa dengan keadaan lapar.  Dengan terbiasa dalam kadaan lapar seorang hamba akan terlatih untuk menjaga diri dari hal-hal haram dan berlebihan.

Imam al-Ghazali dalam Minhajul Abidin  mengemukakan beragam bahaya perut kenyang. Seseorang yang perutnya kenyang akan meremehkan nikmat dan seleranya menjadi rendah. Akibatnya ia akan berupaya mencari yang lain bahkan yang haram dan berlebihan. Efek berikutnya dari kondisi ini menurut al-Ghazali akan berimbas pada pelampiasan keinginan anggota tubuh yang lain. Telinganya berkeinginan mendengarkan yang haram dan berlebihan; mulutnya juga ingin membicarakan yang haram dan berlebihan; kemaluannya juga tak pelak ingin melampiaskan keinginannya. Al-Ghazali mengutip ungkapan Abu Ja’far, bahwa perut adalah anggota tubuh yang jika lapar maka seluruh badan menjadi kenyang (tenang) dan bila kenyang maka seluruh anggota tubuh menjadi lapar.

Hal penting yang perlu menjadi perhatian, kata al-Ghazali adalah bahwa seluruh perbuatan dan ucapan seseorang tergantung pada apa yang masuk dalam perutnya. Jika barang haram yang masuk dalam perutnya maka yang keluar dari mulut dan tindakannya adalah keharaman. Jika berlebihan yang masuk dalam perutnya maka yang keluar dari mulut dan tindakannya adalah sesuatu yang berlebihan.

Intinya puasa melatih seorang hamba untuk selalu terjaga dari hal-hal yang dilarang oleh Allah dan terlatih untuk secara tulus dan konsisten menjalankan kebaikan yang diperintahkan-Nya.  Dengan senantiasa ada di jalan kebaikan seorang hamba akan mendapatkan kebaikan yang diinginkan dan diridai Allah, segala harapan dan keinginan baiknya akan dimudahkan  dan segala hambatan akan diberikan jalan keluarnya. Lebih dari itu, dengan puasa yang dijalani seorang hamba akan senantiasa dekat dengan Allah dan dekat dengan kebaikan dan kebenaran.

Puasa juga menyadarkaan seorang hamba atas segala kekurangan dan keterbatasannya. Dengan perasaan lapar dahaga saat puasa seorang hamba merasakan kelemahan dan ketakberdayaannya. Perasaan ini akan semakin menguatkan keimanannnya akan kemutlakan Tuhan yang di atas segala-galanya. Allah memiliki kekuasaan yang mutlak, kekuatan yang mutlak dan kebenaran yang mutlak. Sementara manusia hanya memiliki kekuatan atas karunia dan kehendak-Nya, dan kebenaran yang nisbi.

Dengan segala keterbatasan dan kekurangannya manusia berupaya mendekati yang Kuasa dengan akal budi yang dikaruniakan oleh Allah kepadanya. Karena keterbatas dan kekurangannya manusia mendekati Tuhannya dengan ragam cara yang berbeda-beda sesuai dengan keyakinan, kepercayaan dan pengalaman hidup yang melingkupinya.

Sebagai bangsa yang majmuk, Indonesia memiliki beragam agama, kepercayaan dan budaya, termasuk tradisi puasa. Bangsa Indonesia menjalankan tradisi puasanya sesuai dengan agama dan kepercayaannya. Semuanya tidak lain sebagai bukti bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius dan meiliki komitmen yang tinggi terhadap religiusitas. Sebagai bagian dari bangsa ini kita patut berbangga  dengan lestarinya beragam tradisi agama dan kepercayaan di negeri ini.  Selanjutnya tugas kita bersama menjaga dan memupuk semangat kebinekaan ini sehingga tetap lestari agar anak cucu kita bisa hidup dalam harmoni, penuh kedamaian dan saling menghargai.

Dengan puasa yang kita jalankan di bulan Ramadan ini, kita tempa karakter dan mentalitas, serta kita pupus segala bentuk nafsu jahat yang ada dalam diri kita agar tidak ada lagi kesombongan, keserakahan, egoisme, kebencian dan permusuhan. Selanjutnya kita tanamkan dalam diri kita sikap rendah hati, kedermawanan, keramahan dan kasih sayang. Ramadan sebagai bulan rahmat harus kita jaga agar senantiasa  menjadi jalan rahmat bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai. (*/zal)