TETAP BERTAHAN: Grup kasidah Nasida Ria saat tampil di Loenpia Jazz 2017 di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TETAP BERTAHAN: Grup kasidah Nasida Ria saat tampil di Loenpia Jazz 2017 di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Grup kasidah fenomenal, Nasida Ria, yang berpusat di Kelurahan Tugu, Kota Semarang, saat ini menginjak usia 42 tahun. Kelompok musik religius ini telah melahirkan sebanyak 35 album. Seperti apa?

ABDUL MUGHIS

RIBUAN lagu pernah mereka nyanyikan, bahkan lagu-lagu ciptaannya dulu sempat menghiasi radio, televisi, acara pengajian hingga speaker hajatan pernikahan di pelosok kampung di Indonesia.

Grup fenomenal ini bernama Nasida Ria. Berdiri sejak 1975, kelompok musik yang memiliki ciri khas semua personelnya perempuan ini membuktikan eksistensinya hingga sekarang. Secara konsisten, grup ini menjaga seluruh personelnya yang berjumlah belasan orang dengan semuanya perempuan.

Sejumlah lagu fenomenal, seperti Kota Santri, Perdamaian, Jilbab Putih, Bom Nuklir, Pengantin Baru, dan masih banyak lagi, bahkan dinyanyikan oleh artis-artis papan atas.

Mereka terbukti mampu bertahan melawan waktu. Para personelnya telah berganti karena faktor usia. Kini, Nasida Ria yang telah memasuki generasi ketiga ini menginjakkan usia 42 tahun, dan akan melahirkan album yang ke-35. Totalnya diperkirakan telah memiliki ciptaan sebanyak 350 karya lagu. Tentu capaian itu bukan sesuatu yang mudah dan membuktikan bahwa Nasida Ria menjadi pionir musik kasidah di Indonesia.

”Saat ini, Nasida Ria merupakan generasi ketiga. Generasi pertama dan kedua saat ini telah digantikan posisinya karena keterbatasan usia,” ujar pemain gitar sekaligus vokalis Nasida Ria, Hj Afuah, kepada Jawa Pos Radar Semarang, belum lama ini.

Dijelaskannya, saat ini Nasida Ria memiliki 13 personel. Hingga sekarang, tak terhitung lagi berapa lagu yang pernah mereka bawakan. Grup ini tetap konsisten membawa konsep lagu Islami dengan bernapaskan dakwah Islam berirama Arab.

”Kalau ditanya sudah berapa lagu yang pernah dibawakan, ya ada ribuan. Tetapi lagu yang ciptaan sendiri kurang lebih 350 lagu,” katanya.

Kebanyakan lagu Nasida Ria diciptakan oleh KH Bukhori Masruri atau dikenal dengan Abu Ali Haidar. ”Dari generasi pertama yang masih bertahan saat ini tinggal dua orang.  Saat ini, telah 42 tahun, dalam waktu dekat Nasida Ria akan meluncurkan album baru yang ke-35,” bebernya.

Namun demikian, Afuah mengaku belum bisa membocorkan kapan dan apa saja judul lagu dalam album baru tersebut. Sebab, album baru ini masih dalam proses produksi. Yang pasti, Afuah berjanji akan menyapa kembali untuk mengobati kerinduan para penggemarnya. ”Mungkin setelah Lebaran akan diluncurkan album ke-35,” ujarnya.

Afuah mengakui, saat ini Nasida Ria tetap eksis pentas dari panggung ke panggung. Tetapi meski lahir dan besar di Kota Semarang, Nasida Ria sangat jarang tampil di Kota Semarang. Mereka justru kerap mengisi undangan pentas sejumlah kota lain, di antaranya Gresik, Lamongan, Jakarta, Bekasi dan lainnya. ”Kalau Kota Semarang sendiri sekarang malah jarang,” katanya.

Terakhir pentas di Kota Semarang, grup legendaris Nasida Ria ini mengisi event Loenpia Jazz 2017 pada Sabtu (20/5) silam di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang.

Afuah menegaskan, bahwa saat ini tetap mempertahankan ciri khas, yakni seluruh personelnya perempuan. Ia mengaku harus membagi waktu, karena para personel tidak hanya dari Kota Semarang. Tapi ada juga yang berasal dari daerah sekitar Semarang, seperti Kendal, Pemalang, Salatiga dan Rembang. ”Di luar jadwal, biasanya kami berlatih di daerah Tugu Kota Semarang atau di depan RSUD Tugurejo,” ujarnya.

Lebih lanjut Afuah mengatakan, Nasida Ria mampu bertahan dengan cara menciptakan pasar sendiri. Artinya, konsisten dengan konsep yang dibawa sejak awal, dan tidak mengikuti arus industri musik secara global. Sehingga Nasida Ria Grup ini menjadi pelopor musik kasidah modern pertama di Indonesia.

”Untuk menjadi grup musik yang digandrungi, dan dapat bertahan melawan waktu, bukanlah dengan mengikuti kemauan pasar, melainkan dengan menciptakan pasar sendiri. Pasar bisa diciptakan,” katanya.

Kelompok ini dibentuk pada 1975 dan dikelola oleh H Mudrikah Zain yang kemudian dilanjutkan oleh Choliq Zain. Nasida Ria adalah salah satu kelompok kasidah modern tertua di Indonesia. Mudrikah Zain, dulunya seorang guru qira’at, mengumpulkan sembilan siswinya untuk membentuk suatu kelompok musik kasidah, yakni Mudrikah Zain, Mutoharoh, Rien Jamain, Umi Kholifah, Musyarofah, Nunung, Alfiyah, Kudriyah, dan Nur Ain.

Pada awalnya kelompok musik ini hanya menggunakan rebana sebagai alat musik. Setelah Wali Kota Semarang saat itu, Iman Soeparto Tjakrajoeda, menyumbangkan sebuah organ untuk membantu Nasida Ria. Dalam perkembangannya, mereka kemudian berkembang dan menggunakan alat musik bas, biola, dan gitar.

Album debut pertama Nasida Ria adalah Alabaladil Makabul, dibuat tiga tahun kemudian dan dipasarkan oleh Ira Puspita Records. Lagu mereka berdasarkan dakwah dan menarik ilham dari musik Arab.  Tiga album mereka berikutnya menggunakan tema yang sama dan banyak berbahasa Arab. Namun atas saran dari KH Ahmad Buchori Masruri, lagu mereka akan lebih efektif jika semuanya berbahasa Indonesia. Sejak saat itu, gaya Nasida Ria diubah menggunakan bahasa Indonesia.

Nasida Ria juga pernah mengadakan konser di Malaysia untuk merayakan Tahun Baru Islam pada 1 Muharam, serta pentas di Berlin, Jerman. Setelah 2000, Nasida Ria cenderung meredup karena beberapa anggotanya telah berkurang, karena ada yang meninggal dan keluar. (*/aro/ce1)