KECEH : Kondisi banjir rob di Kelurahan Bandengan dimanfaatkan anak-anak untuk bermain air dan mencari ikan. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KECEH : Kondisi banjir rob di Kelurahan Bandengan dimanfaatkan anak-anak untuk bermain air dan mencari ikan. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KENDAL—Ratusan rumah di Kelurahan Bandengan dan Karangsari, Kecamatan Kota Kendal dilanda banjir rob setinggi 20-50 senti meter. Praktis kondisi tersebut mengganggu aktivitas warga sehari-hari.

Baca Juga : Air Rob Sayung Makin Parah dan Meluas

Ketua RT 9/1 Kelurahan Bandengan, Kiswanto mengatakan bahwa banjir rob yang menggenangi warga sudah terjadi selama empat hari terakhir. “Banjir rob biasa terjadi pada siang hari. Yakni sekitar pukul 13.30-18.00, kemudian banjir rob berangsur-angur turun,” katanya, Kamis (1/6) kemarin.

Warganya yang berjumlah 40 Kepala Keluarga (KK), sebagian besar rumahnya terendam banjir rob. “Yang kebanjiran ada dua wilayah, Bandengan dan Karangsari. Kalau total seluruh rumah yang terdampak rob ya ada ratusan,” tuturnya.

ROB MELUAS : Air rob mulai merendam Desa Purwosari, Kecamatan Sayung. Semula daerah ini masih aman, tapi kemarin sudah tergenang rob. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ROB MELUAS : Air rob mulai merendam Desa Purwosari, Kecamatan Sayung. Semula daerah ini masih aman, tapi kemarin sudah tergenang rob. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Diakuinya, sepanjang 2016 hingga Juni 2017 ini, rob kali ini yang paling parah. Selain ketinggian rob lebih parah dari sebelumnya, juga waktu surutnya makin lama. “Biasanya rob itu hanya 1-2 jam, setelah itu surut. Kalau sekarang hampir setengah hari baru surut,”  jelasnya.

Nurhayati, warga Bandengan lainnya terpaksa berbasah-basah untuk bisa tetap beraktivitas. Sebab, posisi rumahnya yang lebih rendah dari jalan membuat rumahnya terendam rob setinggi 50 sentimeter. “Terutama dapur belakang, sampai saya tidak bisa memasak,” ungkapnya prihatin.

Keluhan serupa dikatakan Sobirin yang rumahnya kemasukan air rob. Sehingga dirinya dan warga lainnya terganggu aktivitasnya. Malah sebagian besar warga yang berdagang, menutup tokonya karena tidak memungkinkan untuk berjualan. “Kalau rob naik, toko langsung tutup. Jika tidak, barang dagangan bisa rusak terkena rob,” paparnya.

Bahkan, arus lalulintas di jalan laut penghubung Desa Bandengan-Karangsari juga terganggu. “Anak-anak banyak yang mengeluhkan kakinya gatal, karena air rob yang mengalir bercampur dengan sampah dan kotoran lainnya,” tambahnya.

Ia berharap ada solusi dari pemerintah untuk bisa mengatasi rob. Terutama segera membangun talud di bantaran Sungai Kendal yang berbatasan langsung dengan rumah warga di dua kelurahan tersebut. Sehingga, air sungai yang terkena rob tidak langsung meluap.

“Banjir ini karena kondisi air laut yang sedang pasang. Sementara bangunan talud masih banyak yang rendah, sehingga sungai mudah meluap saat air laut pasang. Kalau ditinggikan taludnya, barang kali ada rob, tapi tidak separah seperti sekarang ini,” tambahnya. (bud/ida)