33 C
Semarang
Jumat, 29 Mei 2020

Racikan Tujuh Rempah, Tradisi Ratusan Tahun

Menikmati Buka Puasa Kopi Arab di Masjid Menara Jalan Layur

Another

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma...

Didi Kempot Tak Suka Merayu meski Jago Bikin Lagu Romantis (7)

Salah satu kesedihan terbesar dalam hidup Didi Kempot adalah tak bisa menunggui kelahiran anak pertama karena tak punya ongkos...

Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma. LATIFUL HABIBI, Ngawi,...

Tradisi ratusan tahun yang sampai sekarang masih terjaga itu adalah menikmati buka puasa dengan minuman kopi ramuan tujuh rempah di Masjid Menara, Kampung Melayu, Jalan Layur, Kelurahan Dadapsari, Semarang Utara. Seperti apa?

ABDUL MUGHIS

MASJID Menara tercatat sebagai salah satu bangunan cagar budaya karena memiliki sejarah panjang dalam penyebaran agama Islam di Kota Semarang. Berdiri di tepi Kali Semarang, dulunya masjid ini memiliki sejarah sebagai tempat berlabuh kapal-kapal para saudagar dari Timur Tengah.

Meski perkampungan tersebut dikenal sebagai Kampung Melayu, tetapi sebenarnya dihuni oleh berbagai etnis, yakni etnis Melayu, Komunitas Arab Yaman, Pakistan, Bugis, dan Jawa. Tetapi dulunya lebih didominasi Komunitas Arab Yaman.

”Komunitas Arab Yaman ini suka dengan kopi racikan tujuh rempah ini. Ini tradisi sudah sejak ratusan tahun silam, sejak komunitas Arab masuk berdagang di Semarang,” kata salah satu sesepuh warga Kampung Melayu, Salim, 85, saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (31/5).

Para saudagar Arab dahulunya memiliki tradisi berbuka bersama di masjid dengan menu kopi Arab. Masyarakat sekitar berkumpul untuk menanti detik-detik berbahagia datangnya azan magrib.

”Ini sudah menjadi tradisi turun-temurun yang terus dijaga. Kopi Arab ini memiliki rasa khas, karena cara mengolahnya berbeda dengan kopi biasa. Di antaranya, ada ramuan tujuh rempah,” jelasnya.

Nurul Hidayati, 40, salah satu warga generasi penerus yang bertugas memasak kopi Arab mengatakan, kopi Arab memiliki keunikan rasa karena cara mengolahnya berbeda, dan bahan ramuan berbeda dengan kopi biasa. Di antaranya, menggunakan ramuan tujuh rempah, yakni kapulogo, cengkih, daun jeruk, jahe, kayu manis, serai dan daun pandan. Rempah-rempah tersebut direbus berjam-jam bercampur kopi.

”Setelah jadi, disedu menggunakan cangkir kecil terbuat dari melamin. Ada aroma yang khas,” katanya.

Dalam penyajiannya, biasanya dilengkapi menu takjil masing-masing tiga buah kurma dan nasi bungkus. ”Semuanya gratis, warga atau pengunjung yang datang bisa menikmati menu kopi Arab untuk berbuka puasa,” ujarnya.

Salah satu Takmir Masjid Menara, Ali Mahsun, mengatakan, tradisi ini sudah berlangsung beratus-ratus tahun, sejak berdirinya Masjid Menara ini.

”Ada yang mengatakan masjid ini berdiri 1802. Kemarin kami berdiskusi dengan teman-teman ahli sejarah, bahkan bisa berdiri lebih tua dari tahun itu. Didirikan oleh para habib dari Arab Yaman,” katanya.

Kampung Melayu di Jalan Layur itu banyak dihuni oleh berbagai etnis. Di antaranya, Arab, India, Pakistan, Tiongkok, Bugis dan Jawa. Tetapi sekarang banyak yang pindah tersebar di dataran tinggi karena sering terjadi rob. ”Ada yang pindah di Ngaliyan, Krapyak, Manyaran, Gunungpati dan lain-lain,” ujarnya.

Masjid ini awalnya memiliki lantai dua. Tapi dalam perkembangannya, sering terendam rob. Sehingga di bagian lantai satu terpendam dan dinonaktifkan. ”Dulunya di bagian lantai bawah untuk istirahat dan majelis taklim, para tamu dari luar negeri. Para saudagar Arab dulu sering berdagang di Semarang, masjid ini untuk ibadah dan singgah istirahat,” kata pria yang bertugas sebagai muazin ini.

Sedangkan kondisi menara yang juga berusia ratusan tahun itu kini telah mulai rapuh. Pengelolaan murni dilakukan oleh takmir dan warga. ”Masjid ini punya omzet dari beberapa rumah yang dikontrakkan, karena banyak rumah warga yang ditinggalkan dan diserahkan kepada masjid,” ujarnya.

Kopi Arab, kata dia, bagi orang Arab tidak hanya digunakan untuk berbuka puasa saja. Tetapi juga untuk acara pesta pernikahan, maupun ’gawe’ lainnya.

”Kalau ada gawe pasti ada kopi Arab. Kopi Arab ini meski memiliki rasa yang khas, tapi tidak dikomersialkan atau dijual. Orang lain sebenarnya boleh meniru. Pernah ada orang Tiongkok ke sini minta resep,” katanya.

Salah satu jamaah Masjid Menara, Muhammad Hasyim, mengatakan, kopi Arab memiliki rasa unik dan khas karena ada bumbu racikan khusus.

”Bahkan dipercaya memiliki khasiat yang menyehatkan. Saya sendiri, berbuka puasa hanya dengan secangkir kopi Arab dan tiga biji kurma. Rasa males hilang, Tarawih 23 rakaat lancar, dan tidak capek. Saya baru makan nasi pukul 22.00,” akunya.

Tradisi minum kopi Arab selama Ramadan memang untuk berbuka. Tarawihnya dilakukan pukul 20.00. ”Wanita tidak boleh masuk masjid. Kalau ada wanita mau salat, disediakan tempat terpisah,” katanya. (*/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma...

Didi Kempot Tak Suka Merayu meski Jago Bikin Lagu Romantis (7)

Salah satu kesedihan terbesar dalam hidup Didi Kempot adalah tak bisa menunggui kelahiran anak pertama karena tak punya ongkos pulang. Sempat membuatkan lagu khusus...

Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma. LATIFUL HABIBI, Ngawi, Jawa Pos — KATA sang kakak, ”Pas kecil...

Karya Didi Kempot: Ditulis Sekarang, Terkenal Puluhan Tahun Kemudian (5)

Manisnya karir tak didapat Didi Kempot begitu saja. Ada perjuangan berat yang dilalui. Kuncinya adalah terus berjalan di jalur yang diyakini. Tak berhenti meski...

Memungut Keteladanan sang Kakak untuk Kejar Impian Kesuksesan (4)

Mamiek Prakoso yang pintar ngomong jadi motivator bagi sang adik yang pendiam, Didi Kempot. Hubungan keduanya dekat, meski Didi sering sungkan minta sangu kepada...

More Articles Like This

Must Read

Netizen Diajak Ikut Bangun Kebersamaan

SEMARANG – Peran netizen dianggap cukup besar untuk mensosialisasikan nilai-nilai dalam Pancasila, Undang-undang Dasar (UUD) 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal...

Tim Jambrong Sikat Motor Berisik

MUNGKID-- Tim Jambrong bentukan Satlantas Polres Magelang untuk menertibkan kendaraan bermotor berknalpot berisik terus beroperasi. Puluhan kendaraan sudah terjaring razia sejak tim ini dibentuk. Kasatlantas...

Lagi Terbaring, Said Aqil Diisukan Sakit, Itu Hoax!

JawaPos.com - Kabar tak sedap menerpa Said Aqil Siroj. Saat ini ketua umum PBNU tersebut dikabarkan jatuh sakit. Pesan tersebut beredar di media sosial....

Penerapan Tilang CCTV Tunggu Infrasruktur

BATANG-Penerapan tilang CCTV di wilayah hukum Polres Batang masih menunggu kelengkapan infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM). Jadi belum akan ditetapkan dalam waktu dekat...

Istri Saya Kemambang di Atas Almari

BANJIR bandang kemarin memang hanya berlangsung sekitar satu jam. Namun efeknya luar biasa bagi warga. Lantaran meninggalkan lumpur di sepanjang jalan yang sejajar dengan...

Sekda Jamin ASN Netral

RADARSEMARANG.COM - DUA incumbent resmi ditetapkan sebagai peserta Pilkada oleh KPU Kabupaten Magelang. Potensi keterlibatan Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam mendukung paslon sangat tinggi....