MENJAGA TRADISI: Para jamaah Masjid Menara Jalan Layur Semarang berbuka puasa dengan secangkir kopi Arab dan 3 butir kurma. (kanan) Masjid Menara yang masih berdiri kokoh. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MENJAGA TRADISI: Para jamaah Masjid Menara Jalan Layur Semarang berbuka puasa dengan secangkir kopi Arab dan 3 butir kurma. (kanan) Masjid Menara yang masih berdiri kokoh. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Tradisi ratusan tahun yang sampai sekarang masih terjaga itu adalah menikmati buka puasa dengan minuman kopi ramuan tujuh rempah di Masjid Menara, Kampung Melayu, Jalan Layur, Kelurahan Dadapsari, Semarang Utara. Seperti apa?

ABDUL MUGHIS

MASJID Menara tercatat sebagai salah satu bangunan cagar budaya karena memiliki sejarah panjang dalam penyebaran agama Islam di Kota Semarang. Berdiri di tepi Kali Semarang, dulunya masjid ini memiliki sejarah sebagai tempat berlabuh kapal-kapal para saudagar dari Timur Tengah.

Meski perkampungan tersebut dikenal sebagai Kampung Melayu, tetapi sebenarnya dihuni oleh berbagai etnis, yakni etnis Melayu, Komunitas Arab Yaman, Pakistan, Bugis, dan Jawa. Tetapi dulunya lebih didominasi Komunitas Arab Yaman.

”Komunitas Arab Yaman ini suka dengan kopi racikan tujuh rempah ini. Ini tradisi sudah sejak ratusan tahun silam, sejak komunitas Arab masuk berdagang di Semarang,” kata salah satu sesepuh warga Kampung Melayu, Salim, 85, saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (31/5).

Para saudagar Arab dahulunya memiliki tradisi berbuka bersama di masjid dengan menu kopi Arab. Masyarakat sekitar berkumpul untuk menanti detik-detik berbahagia datangnya azan magrib.

”Ini sudah menjadi tradisi turun-temurun yang terus dijaga. Kopi Arab ini memiliki rasa khas, karena cara mengolahnya berbeda dengan kopi biasa. Di antaranya, ada ramuan tujuh rempah,” jelasnya.

Nurul Hidayati, 40, salah satu warga generasi penerus yang bertugas memasak kopi Arab mengatakan, kopi Arab memiliki keunikan rasa karena cara mengolahnya berbeda, dan bahan ramuan berbeda dengan kopi biasa. Di antaranya, menggunakan ramuan tujuh rempah, yakni kapulogo, cengkih, daun jeruk, jahe, kayu manis, serai dan daun pandan. Rempah-rempah tersebut direbus berjam-jam bercampur kopi.

”Setelah jadi, disedu menggunakan cangkir kecil terbuat dari melamin. Ada aroma yang khas,” katanya.

Dalam penyajiannya, biasanya dilengkapi menu takjil masing-masing tiga buah kurma dan nasi bungkus. ”Semuanya gratis, warga atau pengunjung yang datang bisa menikmati menu kopi Arab untuk berbuka puasa,” ujarnya.

Salah satu Takmir Masjid Menara, Ali Mahsun, mengatakan, tradisi ini sudah berlangsung beratus-ratus tahun, sejak berdirinya Masjid Menara ini.

”Ada yang mengatakan masjid ini berdiri 1802. Kemarin kami berdiskusi dengan teman-teman ahli sejarah, bahkan bisa berdiri lebih tua dari tahun itu. Didirikan oleh para habib dari Arab Yaman,” katanya.

Kampung Melayu di Jalan Layur itu banyak dihuni oleh berbagai etnis. Di antaranya, Arab, India, Pakistan, Tiongkok, Bugis dan Jawa. Tetapi sekarang banyak yang pindah tersebar di dataran tinggi karena sering terjadi rob. ”Ada yang pindah di Ngaliyan, Krapyak, Manyaran, Gunungpati dan lain-lain,” ujarnya.

Masjid ini awalnya memiliki lantai dua. Tapi dalam perkembangannya, sering terendam rob. Sehingga di bagian lantai satu terpendam dan dinonaktifkan. ”Dulunya di bagian lantai bawah untuk istirahat dan majelis taklim, para tamu dari luar negeri. Para saudagar Arab dulu sering berdagang di Semarang, masjid ini untuk ibadah dan singgah istirahat,” kata pria yang bertugas sebagai muazin ini.

Sedangkan kondisi menara yang juga berusia ratusan tahun itu kini telah mulai rapuh. Pengelolaan murni dilakukan oleh takmir dan warga. ”Masjid ini punya omzet dari beberapa rumah yang dikontrakkan, karena banyak rumah warga yang ditinggalkan dan diserahkan kepada masjid,” ujarnya.

Kopi Arab, kata dia, bagi orang Arab tidak hanya digunakan untuk berbuka puasa saja. Tetapi juga untuk acara pesta pernikahan, maupun ’gawe’ lainnya.

”Kalau ada gawe pasti ada kopi Arab. Kopi Arab ini meski memiliki rasa yang khas, tapi tidak dikomersialkan atau dijual. Orang lain sebenarnya boleh meniru. Pernah ada orang Tiongkok ke sini minta resep,” katanya.

Salah satu jamaah Masjid Menara, Muhammad Hasyim, mengatakan, kopi Arab memiliki rasa unik dan khas karena ada bumbu racikan khusus.

”Bahkan dipercaya memiliki khasiat yang menyehatkan. Saya sendiri, berbuka puasa hanya dengan secangkir kopi Arab dan tiga biji kurma. Rasa males hilang, Tarawih 23 rakaat lancar, dan tidak capek. Saya baru makan nasi pukul 22.00,” akunya.

Tradisi minum kopi Arab selama Ramadan memang untuk berbuka. Tarawihnya dilakukan pukul 20.00. ”Wanita tidak boleh masuk masjid. Kalau ada wanita mau salat, disediakan tempat terpisah,” katanya. (*/aro/ce1)