Tinggi, Penderita Sakit Jiwa di Selomerto

Must Read

Virus Bersih

Semua operator cruise tahu: musuh utama bisnis mereka adalah virus atau bakteri. Karena itu aturan kebersihan di sebuah perjalanan cruise luar biasa ketatnya. Bagi yang...

Kenalkan A31 di Indonesia, Bawa Keunggulan Macro Lens Triple Camera dan Layar Waterdrop 6.5 Inci

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA – Kemarin (13/2), OPPO akan mulai menjual perangkat barunya, A31. Perangkat terbaru pada lini seri A ini...

Mengejar SARS

Yang sembuh dan yang meninggal terus bertambah. Berkejaran. Orang pun mulai membanding-bandingkan: mengerikan mana. Virus Wuhan sekarang ini atau...

WONOSOBO—Penyandang sakit jiwa di Kecamatan Selomerto tergolong tinggi. Terbukti, saat dilakukan pendataan keluarga sehat oleh Puskesmas Selomerto, petugas menemukan sedikitnya 5 penderita sakit jiwa dengan kondisi memprihatinkan.

Terdatanya 5 penyandang itu, menambah daftar orang sakit jiwa di wilayah Selomerto yang sebelumnya telah terdata 60 orang. Pendataan dilakukan kepada 30 warga di 16 desa di wilayah Selomerto. Pendataan dilakukan sesuai seruan Permenkes Nomor 39 Tahun 2016.

“Bedanya, kalau Puskesmas kecamatan lain pendataan dilakukan hanya satu dua desa, di sini 16 desa. Dari data yang sudah direkap, diketahui ada 5 warga yang mengalami gangguan kejiwaan,” ucap Numan Kumoro, staf Puskesmas Selomerto mewakili pimpinannya yang sedang rapat, Rabu (31/5) kemarin.

Pendataan diperkirakan rampung pada Juni 2017. Hasil pendataan, akan diunggah di Pusdatin Kemenkes. Harapannya, dalam waktu dekat, riwayat atau status kesehatan masyarakat terdata dengan baik.

Khusus sakit jiwa, Numan membeber, masyarakat dengan gangguan kejiwaan, umumnya tidak mendapatkan perlakuan semestinya. Baik dari sisi pengobatan maupun perawatan.

Yang memprihatinkan, justru terkesan ada pembiaran dari pihak keluarga maupun masyarakat. “Masih sedikit yang tahu bahwa gangguan mental atau kejiwaan itu sebetulnya bisa disembuhkan.”

Mengatasi hal itu, Puskesmas tak mampu berjalan sendiri. Butuh kerjasama lintas sektor dan dukungan lintas program. Selain itu, penting pula kesadaran dan pemahaman masyarakat agar tak memperparah kondisi psikis penderita.

“Stigma negatif masih melekat. Kesadaran untuk mengobatinya masih rendah. Yang ada seperti yang sudah-sudah, dibiarkan kalau tidak membahayakan. Ketika membahayakan dikunci atau dikerangkeng.” (cr2/isk)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest News

Virus Bersih

Semua operator cruise tahu: musuh utama bisnis mereka adalah virus atau bakteri. Karena itu aturan kebersihan di sebuah perjalanan cruise luar biasa ketatnya. Bagi yang...

Kenalkan A31 di Indonesia, Bawa Keunggulan Macro Lens Triple Camera dan Layar Waterdrop 6.5 Inci

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA – Kemarin (13/2), OPPO akan mulai menjual perangkat barunya, A31. Perangkat terbaru pada lini seri A ini hadir dengan keunggulan internal memori...

Mengejar SARS

Yang sembuh dan yang meninggal terus bertambah. Berkejaran. Orang pun mulai membanding-bandingkan: mengerikan mana. Virus Wuhan sekarang ini atau SARS 18 tahun lalu. SARS: yang...

Wajah Baru Warnai Ofisial Tim PSIS

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – PSIS Semarang resmi memperkenalkan ofisial tim musim depan. Terdapat beberapa nama baru yang akan bahu-membahu membantu pelatih Dragan Djukanovic mengarsiteki Mahesa Jenar...

Lomba Cepat

Berita buruknya: korban virus Wuhan bertambah terus. Sampai kemarin sudah 106 yang meninggal. Hampir semuanya di Kota Wuhan --ibu kota Provinsi Hubei.Berita baiknya: yang...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -