AKP Rachmawati ST. (Lutfi Hanafi /Jawa Pos Radar Semarang)
AKP Rachmawati ST. (Lutfi Hanafi /Jawa Pos Radar Semarang)

PERTAMAKALI dinas lapangan di jalur terpadat di Pantura Kota Pekalongan, Ajun Komisaris Polisi (AKP) Rachmawati mengaku siap siaga penuh, walaupun langsung menghadapi arus mudik dan balik Lebaran.

“Ini tanggung jawab besar. Yang paling dekat ini adalah mudik Lebaran. Kami sudah ada rencana pengamanan jalur dan jalur alternatif yang sudah terintegrasi dengan wilayah sekitar,” kata ibu tiga anak asal Jogjakarta ini.

Kota Pekalongan, kata Rachmawati, merupakan titik lelah pemudik. Dipastikan akan banyak pengendara istirahat. Untuk itu, pihaknya bekerjasama dengan berbagai pihak agar turut menyediakan lokasi peristirahatan yang memadai.

Menjadi Kasatlantas perempuan pertama di pantura, menurutnya, tantangan yang cukup besar. Namun Rachmawati bersyukur, sepanjang karirnya dia berada di bagian lalulintas, sudah terbiasa melakukan penanganan.

Alumni SMA Tirto Nirmolo Jogja ini menceritakan awal karirnya sebagai Polisi Wanita (Polwan) bermula saat lulus dari Universitas Janabadra dengan titel Sarjana Teknik Sipil Transportasi. Kemudian masuk sebagai Perwira Polri Sumber Sarjana, Pendidikan di Akpol tahun 2001. Tugas pertamanya langsung di kampung halaman, di Polda DIJ sebagai Pamapta. “Saya menikmati semua tugas yang diberikan selama jadi polisi. Apapun itu, semua tugas asyik semua,” ucapnya.

Terutama saat bekerja di bidang lalulintas, karena basic ilmunya memang di lalulintas, jadi semakin menyenangkan. Sehingga sepanjang karirnya jadi Polwan, selama 12 tahun berada di bagian lalulintas. “Saya dulu kuliah memang belajar tentang lalulintas dan transportasi. Jadi cukup menikmati sekali,” ujarnya.

Kini dipercaya sebagai Kasatlantas Polres Pekalongan Kota, dirinya akan berupaya maksimal. Walaupun banyak pekerjaan yang masih jadi ganjalan, seperti belum siapnya jalur alternatif serta lintasan kereta api.

Pantura Pekalongan Kota menurutnya juga unik, karena masih dilintasi kereta api. Saat ini setiap 22 menit sekali ditutup. Jika nanti arus mudik bisa ditutup lebih cepat, bisa tiap 15 sampai 18 menit sekali, pasti menimbulkan kemacetan. “Apapun itu, saya akan berusaha sebaik mungkin dalam menghadapi arus mudik dan balik mendatang,” tutupnya. (han/ida)