WONOSOBO – Aksi pelemparan terhadap kereta api di jalur perlintasan PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 5 Purwokerto masih saja terjadi. Aksi pelemparan menggunakan batu ini sangat berbahaya bagi penumpang, bahkan mengancam keselamatan penumpang.

Humas PT KAI Daop 5 Purwokerto Ixfan Hendriwintoko mengatakan, tercatat dalam kurun waktu Januari hingga Mei 2017 terdapat 13 kali pelemparan batu. Sebanyak 11 kejadian mengakibatkan kaca jendela kereta pecah.

Berdasarkan data unit pengamanan menyebutkan, pelemparan sebanyak 5 kali terjadi di Banyumas, Kebumen (1), Cilacap (3), Tegal (1), Kebumen (2) dan Brebes (1). “Dari hasil penanganan dan evaluasi yang telah kami lakukan terkait pelemparan, justru pelakunya masih anak-anak di bawah umur,” katanya.

Walaupun usianya masih anak-anak, Ixfan menyebutkan, dampak dari apa yang telah dilakukan berpotensi membuat orang lain jadi celaka. Bahkan bisa dikatakan itu sebuah tindakan yang mengarah ke sabotase. Untuk itu, pihaknya tetap bertindak tegas.

“Bagi mereka yang tertangkap selanjutnya kami bawa ke polisi setempat untuk diproses mulai dari pemanggilan orang tuanya, wajib lapor sampai mengganti kerugian biaya yang timbul. Tujuanya adalah untuk memberikan mereka efek jera, sehingga tidak mengulangi lagi,” katanya.

Dikatakan dia, mengacu pada pasal 181 Undang- undang nomor 23 tahun 2007 tentang Perkeretaapian, bahwa setiap orang dilarang berada di ruang manfaat jalur KA (rumaja). Area rumaja ini meliputi kawasan selebar 12 meter dari rel ke kanan dan kiri sepanjang jalur KA.  Bahkan dalam pasal 199 UU ini ditegaskan, sanksi bagi orang yang berada atau melakukan aktivitas di area rumaja adalah pidana penjara paling lama 3 bulan atau denda paling banyak Rp 15 juta. “Untuk itu, kami berharap kepada orang tua untuk memberitahukan pengetahuan ini kepada anaknya,” katanya. (ali/ton)