CERIA: Desainer asal Semarang, Liza Supriyadi memamerkan salah satu koleksi busana muslim terbarunya bertajuk 'Multicolour Revolution', saat soft launching gallernya, kemarin. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
CERIA: Desainer asal Semarang, Liza Supriyadi memamerkan salah satu koleksi busana muslim terbarunya bertajuk 'Multicolour Revolution', saat soft launching gallernya, kemarin. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Busana muslim makin diminati saat Ramadan dan menjelang Lebaran nanti. Desainer asal Semarang, Liza Supriyadi coba menghadirkan koleksi busana muslim antimainstream miliknya untuk mewarnai kancah fashion di Kota Atlas.

Desainer jebolan sekolah mode Susan Budihardjo ini sengaja tidak merancang busana muslim bergaya syari’ seperti yang sedang ngetren belakangan ini. Dia justru memilih gaya busana simpel yang lebih cocok digunakan bagi mereka yang ogah ribet soal dandanan hijab.

Salah satu koleksinya berupa busana terusan bernuansa kuning dengan rompi hitam bercorak kupu-kupu warna-warni. Busana muslim itu tampak elegan dan anggun dengan kombinas warna kontras.

Tak lupa, manset tinggi dan kerah model shanghai selalu disematkan sebagai ciri khas desain miliknya. Koleksi tersebut diberi mana ‘Multicolour Revolution’. “Untuk menyambut Ramadan dan Lebaran tahun ini, saya sudah menyiapkan lima desain baru,” ucapnya di sela soft opening Gallery Liza Supriyadi di Ruko Taman Niaga, Kompleks Bukir Semarang Baru (BSB), Mijen Semarang.

Liza menerangkan, bahan-bahan yang digunakan merupakan produk lokal. Seperti kain jaquard, kain satin, payet, dan lain sebagainya. Secara desain, sebenarnya tidak jauh beda dari model baju yang telah diluncurkan. Hanya saja, model baru ini tampak simpel. “Makanya desian baju muslim ini dengna model cutting minim. Namun tetap terlihat anggun,” tegasnya.

Mengenai harga, semua koleksi Liza dibanderol antara Rp 1,5 juta-Rp 10 juta. Dia sengaja menyediakan busana-busana ready to wear. Meski begitu, tidak menutup kemungkinan, dia menerima pengubahan ukuran, sesuai permintaan kostumer. Untuk setiap model busana, dia sengaja membuatnya terbatas. Maksimal hanya 8 unit saja. “Meski laris manis, saya tetap tidak memassalkannya. Biar ekslusif saja,” imbuhnya.

Diakuinya, persaingan dan tantangan di dunia “fashion” kian ketat, apalagi dengan desainer-desainer yang ada di Jakarta, tetapi dirinya mengaku mantap tanpa harus ikut-ikutan tren. “Memang untuk cari bahan baju dan sebagainya, lebih mudah di Jakarta. Namun, saya nyaman di Semarang,” kata Liza yang Juli mendatang diundang perhelatan “Ngawi Batik Fashion Show” itu. (amh/smu)