RAZIA RAMADAN: Aparat Polsek Semarang Tengah saat melakukan razia di tempat pijat Royal Feet Jalan Saidan, Pandansari, Semarang Tengah, kemarin. (FOTO-FOTO: ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RAZIA RAMADAN: Aparat Polsek Semarang Tengah saat melakukan razia di tempat pijat Royal Feet Jalan Saidan, Pandansari, Semarang Tengah, kemarin. (FOTO-FOTO: ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG Dua orang terjaring razia penyakit masyarakat (pekat) selama Ramadan yang digelar aparat Polsek Semarang Tengah, Selasa (30/5) siang. Pasangan kekasih itu terjaring razia ketika sedang memanjakan diri di tempat pijat Royal Feet Jalan Saidan, Pandansari, Semarang Tengah. Keduanya, Suseno Susilo, 53, warga Jagalan, Kelurahan Gabahan, Semarang Tengah, dan DS, 21, warga Semarang Barat. Dari tangan Suseno diamankan ratusan lembar mata uang asing negara Brazil pecahan 5.000 Reais. Uang tersebut terbungkus amplop cokelat dengan tulisan Bank BCA.

Suseno dan DS terjaring razia di dalam bilik tempat pijat Royal Feet secara terpisah, namun bersebelahan. Keduanya pun dipaksa untuk segera mengenakan pakaiannya, dan diminta keluar untuk dimintai keterangan.

DS yang keluar dari bilik terlebih dahulu tidak bisa menunjukkan kartu identitasnya saat diminta petugas. Dia hanya bisa menunjukkan surat tanda nomor kendaraan (STNK). ”Saya tidak bawa KTP dan SIM,” katanya di hadapan petugas Polsek Semarang Tengah.

Mendengar ribut-ribut itu, Suseno yang piijat di bilik sebelah DS, kemudian keluar dan langsung menghampiri petugas sambil mengatakan kalau DS adalah istrinya. ”Ini istri saya, mau pijat tidak berbuat mesum. Ini KTP-nya masih berada di tempat klinik diet, saya bisa tunjukkan,” ujarnya di depan petugas.

Saat diinterogasi petugas, Suseno bisa menunjukkan identitasnya. Hanya saja, saat petugas melakukan penggeledahan di bilik tempat Suseno pijat ditemukan bungkusan amplop warna cokelat yang di dalamnya berisi mata uang Brazil sebanyak 140 lembar pecahan 5.000 Reais. Bungkusan tersebut diakui milik Suseno. ”Ini hanya uang monopoli, saya bawa di tas,” kata Suseno singkat.

Keduanya akhirnya dibawa menuju Mapolsek Semarang Tengah untuk dimintai keterangan. Lucunya, saat masuk ke dalam mobil polisi, DS mengatakan secara tegas bahwa Suseno bukanlah suaminya.

”Bukan, saya ke sini hanya diajak pijat. Ketemu di Gombel sana, baru kenal. Terus ke sini diantar ibu saya dan ditinggal. Kemudian saya pijat. Kalau tahu seperti ini, saya tidak ke sini,” ujarnya.

Saat dimintai keterangan petugas di Mapolsek Semarang Tengah, DS kembali mengatakan kalau mengenal Suseno belum lama. Bahkan, perempuan yang mengaku sebagai mahasiswi di salah satu perguruan tinggi swasta di Semarang Utara ini juga mengaku tergiur oleh bujuk rayu Suseno. ”Kenal barusan, ngakunya (SS) sama saya anggota polisi, bilangnya dia duda. Dia juga menunjukkan uang kepada saya,” ungkapnya.

Sebelum melakukan razia di tempat pijat Royal Feet, petugas juga melakukan razia di rumah kos di daerah Kranggan, dan tempat pijat Zen Relax Jalan Saidan, Semarang Tengah. Namun polisi tidak menemukan adanya pelanggaran.

Kapolsek Semarang Selatan Kompol Kemas Indra Natanegara mengungkapkan, razia ini merupakan rangkaian operasi cipta kondisi yang digelar selama Ramadan untuk mengantisipasi penyakit masyarakat. Sasaran utama dalam kegiatan operasi ini adalah pelanggaran, termasuk narkoba dan miras. ”Kegiatan ini akan kita lakukan secara kontinu. Terkait temuan uang Brazil masih dalam penyelidikan petugas kami,” katanya. (mha/aro/ce1)